Type Here to Get Search Results !

MERAWAT JIWA YANG SAKIT


Setiap manusia terdiri dari dua unsur dalam dirinya, yakni raga dan jiwa, atau dapat disebut juga jasmani dan rohani. Ada kalanya manusia mengalami rasa tidak nyaman pada salah satunya, baik pada raga maupun jiwanya. Jika raga atau fisik sakit, mungkin bagian yang terluka atau cedera dapat terlihat secara lahiriah. Akan tetapi, jika jiwa yang sakit, rasa sakitnya lebih sulit dikenali karena perkara jiwa berada di dalam diri manusia.

Luka batin atau jiwa yang sakit merupakan luka yang tidak terlihat secara fisik, tetapi dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap kesehatan mental dan emosional seseorang. Kondisi ini dapat membuat seseorang menjadi tidak produktif seperti ketika sehat. Hati terasa gelisah, cemas, pikiran kacau, hingga pada akhirnya bisa mengalami depresi dan kehilangan semangat untuk hidup.

Faktor pencetusnya pun beragam, mulai dari faktor genetik, lingkungan, kondisi finansial yang memburuk, hingga harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan. Jika kita melihat seseorang tampak tegar dan sehat secara fisik, belum tentu jiwanya juga demikian. Oleh karena itu, perlu dipahami bahwa sehat fisik saja belum cukup, tetapi harus diimbangi dengan kesehatan jiwa.

Islam mengajarkan cara mengelola jiwa agar tetap sehat. Kunci pertama adalah meyakini bahwa semua yang terjadi di dunia ini merupakan kehendak Allah. Tidak satu pun terjadi secara kebetulan. Daun yang jatuh dari tangkainya pun terjadi atas kehendak-Nya. Virus atau bakteri yang tidak terlihat oleh mata telanjang pun ada atas ketetapan-Nya.

Dalam kitab Nizhamul Islam yang ditulis oleh Syekh Taqiyuddin an-Nabhani bab qadha dan qadar dijelaskan bahwa manusia berada dalam dua area, yakni area yang menguasai manusia dan area yang dikuasai manusia. Area yang menguasai manusia adalah wilayah ketika manusia tidak memiliki andil sedikit pun untuk mengubahnya, seperti jodoh, rezeki, kelahiran, kematian, kecelakaan, dan sakit. Semua itu menjadi ketetapan-Nya. Adapun area yang dikuasai manusia adalah wilayah ketika manusia memiliki kebebasan untuk memilih dan mengambil keputusan.

Kedua, tertimpa sakit adalah salah satu contoh area yang menguasai manusia dan tidak bisa dihindari. Tugas kita sebagai hamba adalah beriman dan ikhlas dalam menerima segala sesuatu yang menjadi ketetapan-Nya. Seseorang tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas sakit yang menimpanya, tetapi akan dimintai pertanggungjawaban atas sikapnya dalam menghadapi sakit tersebut, apakah dijalani dengan hati yang ikhlas atau sebaliknya.

Kita perlu mengembalikan keyakinan bahwa setiap hal yang menimpa pasti mengandung hikmah dari Allah. Sakit jiwa pun dapat menjadi tanda bahwa setiap orang berpeluang mengalaminya sesuai dengan kehendak-Nya. Bisa jadi, rasa sakit ini merupakan ujian dari Allah kepada hamba yang dicintai-Nya untuk menggugurkan dosa-dosanya serta mengangkat derajatnya.

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kehawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya” (HR. Al-Bukhari no. 5642 dan Muslim no. 2573.

Manusia akan diuji sesuai dengan kadar keimanannya, sebagaimana firman Allah ﷻ:

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوا۟ أَن يَقُولُوا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ ۝ وَلَقَدْ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَلَيَعْلَمَنَّ ٱلْكَٰذِبِينَ
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut: 2–3)

Ketiga, bersabar dalam menghadapi semua ketetapan Allah. Sabar memiliki pahala yang tidak terbatas bagi mereka yang tetap kuat di jalan sunyi dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ ۝ اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji‘uun.’” (QS. Al-Baqarah: 155–156)

Selain itu, Allah juga memerintahkan hamba-Nya untuk menjadikan sabar dan salat sebagai penolong.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ
Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

Keempat, merawat jiwa agar tetap sehat dapat dilakukan dengan memberi nutrisi hati, yaitu selalu mengingat Allah, berzikir, dan membaca Al-Qur’an.

اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ
Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Kelima, memenuhi hak tubuh dengan memberikan asupan makanan bergizi serta rutin berolahraga agar kesehatan dan kebugaran jiwa raga tetap terjaga. Hal ini dapat dimulai dari aktivitas sederhana, seperti lari pagi, senam, dan olahraga ringan lainnya.

Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.” Peribahasa ini menekankan pentingnya kesehatan fisik untuk mendukung kesehatan mental dan spiritual. Selain itu, tubuh juga memiliki hak untuk beristirahat dan tidur yang cukup.

وَّجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًاۙ
Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat bagimu.” (QS. An-Naba’: 9)

Keenam, membiasakan berpikir positif dan tidak berburuk sangka terhadap ketetapan Allah. Seorang hamba perlu menjaga prasangka baik kepada Allah dalam setiap keadaan, termasuk ketika sedang diuji dengan sakit, kesedihan, atau kesulitan hidup.

Allah ﷻ berfirman:

وَمَا كَانَ اللّٰهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ
Dan Allah tidak mengazab mereka, sedang mereka masih memohon ampun kepada-Nya.” (QS. Al-Anfal: 33)

Selain itu, terdapat hadis yang menjelaskan bahwa Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya.

يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي
Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku sesuai persangkaan hamba-Ku.’”  (HR. Bukhari no. 7405 dan Muslim no. 2675)

Semoga kita mampu merawat jiwa kita, juga mendampingi orang-orang yang sedang sakit dengan penuh keimanan, keikhlasan, dan kesabaran, hingga kelak langkah kaki kita sampai pada surga-Nya.

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ
“dan Allah lebih tahu yang sebenar-benarnya”

Tyas Ummu Amira | Pemeherhati Remaja

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.