Type Here to Get Search Results !

SENI MENGUASAI LISAN YANG HAMPIR TERLUPAKAN


Kita hidup di era di mana setiap orang merasa berhak berbicara tentang segala hal. Media sosial menyediakan panggung tanpa batas. Setiap peristiwa, setiap isu, setiap detik kehidupan, semuanya layak dikomentari. Tak ada yang luput dari jari-jari yang mengetik, dari mulut-mulut yang terus bergerak.

Kita berbicara. Kita berkomentar. Kita merasa pendapat kita penting, bahwa suara kita harus didengar. Kita bahkan merasa bahwa diam adalah bentuk kelemahan, bahwa tidak berkomentar berarti tidak peduli, bahwa tidak bersuara berarti kalah.

Namun di tengah hiruk-pikuk kebisingan global ini, sebuah pertanyaan sederhana mulai mengusik, yaitu apakah semua yang kita ucapkan benar-benar bermanfaat? Ataukah kita justru terjebak dalam ilusi bahwa setiap perkataan kita adalah kebaikan, padahal ia hanya menambah keruh suasana, memecah belah persaudaraan, dan tidak pernah menghadirkan solusi?

Seorang ulama besar, Imam Jalaluddin as-Suyuthi, pernah menulis sebuah kitab yang berjudul Husnus Samt fi as-Samt "Keindahan Diam dalam Diam". Kitab ini bukan sekadar kumpulan nasihat. Ia adalah ringkasan dari karya-karya ulama sebelumnya, sebuah pengingat bahwa dalam tradisi keilmuan Islam, diam bukanlah kelemahan, melainkan sebuah seni yang perlu dipelajari.

Di zaman yang kebanyakan orang sibuk ngoceh ini, kitab semacam itu terasa begitu relevan. Bahkan, boleh jadi kita sudah sampai pada titik di mana kita lupa caranya diam.


Perintah Diam yang Terkait dengan Iman


Dalam sebuah hadits yang sangat terkenal, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ
Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Perhatikanlah taruhan yang diletakkan dalam hadits ini. Rasulullah tidak mengatakan, "Barang siapa ingin menjadi orang baik" atau "barang siapa ingin disebut cerdas". Beliau mengatakan, "barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir" taruhannya adalah iman itu sendiri.

Artinya, kemampuan untuk menahan lisan bukan sekadar etika sosial. Ia adalah manifestasi dari keimanan seseorang. Orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Allah dan hari pembalasan akan berpikir seribu kali sebelum mengucapkan sesuatu. Ia akan menimbang, apakah perkataanku ini baik? Apakah ia membawa manfaat? Apakah ia akan menjadi saksi bagiku atau justru menjadi petaka di akhirat nanti?

Para ulama bahkan menulis kitab khusus tentang diam. Imam as-Suyuthi, dalam kitabnya yang meringkas karya Ibnu Abid-Dunya, menggambarkan betapa pentingnya menahan lisan. Bukan karena Islam mengajarkan kebisuan, tetapi karena Islam mengajarkan agar setiap ucapan memiliki bobot dan manfaat.


Antara Bicara dan Diam


1. Tiga Amal Ringan yang Berat di Timbangan
Dalam satu riwayat yang dikutip oleh Ibnu Abid-Dunya dari Abu Dzar radhiallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ
Di antara (tanda) kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Perhatikan kata مَا لاَ يَعْنِيهِ. Para ulama menerjemahkannya dalam dua makna: sesuatu yang bukan urusanmu, atau sesuatu yang tidak bermanfaat bagimu. Keduanya memiliki esensi yang sama: jangan ikut campur pada hal yang tidak perlu, jangan sibuk dengan perkara yang tidak memberi manfaat.

Kepo (istilah populer saat ini) tidak memiliki tempat dalam ajaran ini. Rasa ingin tahu yang berlebihan terhadap urusan orang lain, keinginan untuk berkomentar pada setiap peristiwa, dorongan untuk bersuara pada hal yang tidak kita kuasai, semua itu adalah lawan dari ajaran Rasulullah.

2. Luqman: Dari Penggembala Menjadi Ahli Hikmah
Siapa yang tidak kenal Luqman al-Hakim? Namanya diabadikan dalam Al-Qur'an sebagai sosok yang dianugerahi hikmah oleh Allah. Nasihat-nasihatnya kepada anaknya menjadi pelajaran bagi seluruh umat manusia. Namun tahukah kita bagaimana Luqman mencapai derajat setinggi itu?

Luqman adalah seorang penggembala kambing dari Habsyah. Penampilannya biasa, bahkan tidak menarik. Ia miskin, tidak memiliki kekayaan atau kedudukan. Namun suatu hari, seorang teman yang dulu sama-sama menggembala kambing datang menemuinya. Ia heran: bagaimana mungkin orang yang dulu sama-sama miskin, sama-sama menggembala, kini menjadi seorang ahli hikmah yang didatangi para raja?

Luqman menjawab dengan sederhana: أَصَمْتُ عَمَّا لَا يَعْنِينِي “Aku diam terhadap hal yang bukan urusanku dan tidak bermanfaat bagiku.

Inilah rahasianya. Bukan ilmu yang rumit. Bukan ibadah yang berat. Hanya kemampuan untuk membatasi diri dari perkara yang tidak perlu. Diam dari sesuatu yang bukan urusannya telah mengantarkannya pada derajat yang bahkan tidak dicapai oleh banyak orang yang sibuk berbicara.

Ada satu kisah lain yang menggambarkan hikmah diam Luqman. Suatu hari ia berada di majelis Nabi Daud as. Ia melihat Daud sedang mengolah besi dengan tangannya, besi yang keras menjadi lunak di tangan nabi. Luqman memperhatikan dengan seksama. Ia heran. Ia ingin tahu apa yang sedang Daud kerjakan. Namun ia tidak bertanya.

Ia menahan rasa ingin tahunya. Ia memilih diam. Hingga akhirnya, setelah selesai, Daud memeluk hasil karyanya dan berkata, نِعْمَةٌ دِرُّ الْحَرْبِ “Sebaik-baik tameng perang.” Saat itulah Luqman tahu bahwa yang sedang Daud buat adalah tameng untuk peperangan.

Kemudian Luqman berkata dalam hatinya: إِنَّ مِنَ الْحِكْمَةِ وَقَلِيلٌ مَنْ فَاعِلُهُ. كُنْتُ أَرَادُ أَنْ أَسْأَلَكَ فَسَكَتُّ حَتَّى كَفَيْتَانِي “Sesungguhnya diam adalah bagian dari hikmah, dan sedikit orang yang melakukannya. Aku ingin bertanya kepadamu, tetapi aku memilih diam hingga engkau sendiri yang menjawab pertanyaanku.

Pelajaran luar biasa dari Luqman: diam tidak berarti tidak ingin tahu. Diam tidak berarti tidak peduli. Diam adalah strategi untuk menunggu waktu yang tepat, untuk membiarkan kebenaran terbuka dengan sendirinya, untuk menghindari kehilangan adab di hadapan orang yang lebih mulia.

3. Tiga Tingkatan Ucapan dalam Pandangan Para Raja
Dalam kitab Husnus Samt, as-Suyuthi menukil sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim. Diceritakan bahwa empat orang raja berkumpul: raja Persia, raja Romawi, raja India, dan raja Cina. Masing-masing mengeluarkan kalimat bijak tentang lisan. Meskipun redaksinya berbeda, maknanya berasal dari satu sumber yang sama.

Raja pertama berkata:
Aku dapat mengendalikan ucapan yang belum aku keluarkan, tetapi aku tidak berdaya mengembalikan ucapan yang telah keluar.

Raja kedua berkata:
Ucapan yang belum aku ucapkan, akulah yang menguasainya. Namun ucapan yang telah aku ucapkan, dialah yang menguasai diriku.

Raja ketiga berkata:
Aku tidak pernah menyesali sesuatu yang belum aku ucapkan. Namun boleh jadi aku menyesali sesuatu yang telah aku ucapkan.

Raja keempat berkata:
Aku heran pada orang yang mengucapkan suatu kalimat. Jika kalimat itu kembali kepadanya, ia membahayakannya. Jika tidak kembali, ia pun tidak mendapatkan manfaat darinya.

Empat raja, empat sudut pandang, satu kesimpulan: lisan adalah pedang bermata dua. Ia bisa menjadi senjata yang menguntungkan, tetapi juga bisa menjadi bumerang yang menghancurkan. Dan ketika ia telah melesat dari mulut, tidak ada kekuatan yang mampu menariknya kembali.

4. Bicara yang Baik atau Diam
Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ bersabda hingga tiga kali:

رَحِمَ اللَّهُ عَبْدًا تَكَلَّمَ فَغُنِمَ، أَوْ سَكَتَ فَسَلِمَ
Allah merahmati seorang hamba yang berbicara lalu mendapatkan keuntungan, atau diam lalu selamat.” (HR. Al‑Baihaqi)

Perhatikan dua pilihan ini: bicara yang menguntungkan, atau diam yang menyelamatkan. Tidak ada pilihan ketiga. Tidak ada ruang untuk bicara yang sia-sia, bicara yang merugikan, apalagi bicara yang dusta.

Para ulama menggarisbawahi pentingnya penyesalan dalam hal ini. Penyesalan atas ucapan yang keluar adalah hal yang sangat berat, karena sering kali penyesalan datang setelah kerusakan terjadi. Sementara ucapan yang tidak pernah keluar, tidak akan pernah menjadi sumber penyesalan.


Menghidupkan Kembali Seni Diam di Tengah Kebisingan


Setelah menyimak nasihat para ulama, para nabi, dan bahkan para raja, kita sampai pada pertanyaan praktis: bagaimana kita menghidupkan kembali seni diam di tengah dunia yang terus mendorong kita untuk berbicara?

1. Kembali pada Standar "Baik" dalam Setiap Ucapan
Rasulullah ﷺ tidak melarang berbicara. Yang beliau larang adalah bicara tanpa timbangan. Setiap kali hendak berbicara, tanyakan pada diri sendiri: apakah ucapan ini baik? Apakah ia benar? Apakah ia bermanfaat? Apakah ia dibutuhkan? Apakah ia akan mendatangkan kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain?

Jika jawabannya tidak, maka pilihan yang lebih baik adalah diam.

2. Bedakan antara "Perlu Tahu" dan "Kepo"
Luqman al-Hakim mengajarkan kita bahwa tidak semua rasa ingin tahu harus dipuaskan. Ada hal-hal yang bukan urusan kita, dan tidak memberi manfaat bagi kehidupan kita. Kepo (keingintahuan berlebihan terhadap urusan orang lain) adalah lawan dari hikmah.

Belajarlah untuk membedakan mana informasi yang benar-benar dibutuhkan, dan mana sekadar keinginan untuk ikut campur. Yang pertama mungkin masih bisa ditoleransi. Yang kedua adalah pemborosan waktu dan energi.

3. Sadari Bahwa Lisan Adalah Saksi
Setiap ucapan yang keluar dari mulut kita adalah saksi yang akan berbicara di hadapan Allah kelak. Ia akan menjadi bukti kebaikan jika kita menggunakannya untuk hal-hal yang diridhai-Nya. Namun ia juga akan menjadi bukti keburukan jika kita menyia-nyiakannya untuk hal yang sia-sia atau bahkan merusak.

Imam as-Suyuthi dalam kitabnya mengingatkan bahwa banyak orang yang menyesal di akhirat bukan karena dosa-dosa besar yang mereka lakukan, tetapi karena ucapan-ucapan yang keluar dari mulut mereka tanpa timbangan.

4. Latih Diri untuk Diam
Diam, seperti halnya bicara, adalah kebiasaan yang bisa dilatih. Mulailah dari hal-hal kecil, seperti ketika ada gosip yang beredar, pilih untuk diam. Ketika ada perdebatan yang tidak produktif, pilih untuk diam. Ketika ada komentar yang tidak perlu, pilih untuk diam.

Bukan karena kita tidak punya pendapat, tetapi karena kita memahami bahwa tidak semua pendapat harus diucapkan, tidak semua ruang harus diisi dengan suara kita.

5. Pastikan Bicara Menghasilkan Solusi, Bukan Masalah
Sebelum berbicara dalam forum publik, sebelum berkomentar di media sosial, tanyakan apakah ucapanku ini akan menjadi bagian dari solusi, atau justru menambah masalah? Apakah ia akan menenangkan, atau menimbulkan kekacauan? Apakah ia akan menyatukan, atau memecah belah?

Jika ucapan kita tidak jelas arah manfaatnya, maka lebih baik diam.


Diam Bukan Kelemahan, Melainkan Kekuatan yang Terkendali


Kita mungkin berpikir bahwa diam adalah kelemahan. Namun para nabi, para ulama, dan para raja telah mengajarkan sebaliknya, diam adalah kekuatan yang terkendali. Ia adalah bukti bahwa seseorang mampu menguasai dirinya, bukan dikuasai oleh nafsunya.

Luqman al-Hakim mencapai derajat hikmah karena ia mampu diam dari hal yang bukan urusannya. Para raja menyepakati bahwa lisan adalah pedang yang berbahaya. Dan Rasulullah ﷺ mengaitkan kemampuan diam dengan keimanan itu sendiri.

Di zaman yang kebanyakan orang sibuk ngoceh ini, mungkin kita perlu berhenti sejenak. Tutup mulut. Tarik napas. Tanyakan pada diri sendiri, apakah semua yang ingin kukatakan ini benar-benar baik? Apakah ia akan membawa kebaikan bagi diriku dan orang lain? Apakah ia akan menjadi saksi yang membelaku di hadapan Allah kelak?

Jika tidak, maka lebih baik diam. Karena diam, seperti yang diajarkan oleh hikmah, bukanlah kehilangan suara. Diam adalah kesadaran bahwa tidak semua hal layak diucapkan, dan tidak semua ruang layak diisi dengan kata-kata.

Wallahu’alam bish-shawwab.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.