
Setiap tahun, kita menggemakan takbir, bersalam-salaman, dan saling memaafkan. Idul Fitri datang dengan narasi yang sudah mapan, yaitu hari kemenangan. Setelah sebulan berpuasa, menahan lapar dan dahaga, kita merasa berhak menyebut diri sebagai pemenang.
Namun, di balik gemerlap ketupat dan hidangan khas Lebaran, sebuah pertanyaan mengusik: apakah kita benar-benar menang atau sekadar merayakan tradisi yang kehilangan makna?
Pertanyaan ini bukan sekadar renungan personal. Ia menjadi penting ketika kita menyaksikan realitas umat Islam saat ini, dari Gaza yang dibombardir selama dua setengah tahun hingga krisis multidimensi yang membelenggu dunia Islam di berbagai penjuru.
Makna yang Tergerus

Dalam diskusi santai di meja makan, terbersit sebuah pengingat mendasar bahwa masyarakat kita selama ini memandang Idul Fitri secara teknis, ganti baju baru, makan besar, dan silaturahmi. Padahal, makna yang hilang dari perayaan ini jauh lebih penting daripada sekadar ritual tahunan.
Makna sebuah perayaan seharusnya membawa kita pada empat tingkatan: filosofi, konsepsi, strategi, dan teknik. Selama ini, masyarakat hanya memandang Idul Fitri sebagai hari kemenangan ketika kita berganti pakaian baru. Padahal, sudah saatnya kita mengganti cetak biru, yaitu kembali pada cetak biru kepemimpinan Rasulullah ﷺ yang terbukti berhasil mengubah masyarakat jahiliah menjadi peradaban adidaya.
Cetak biru itu bukan sekadar nostalgia sejarah. Ia merupakan kerangka berpikir dan bertindak yang pernah membawa peradaban Islam berjaya selama 14 abad.
Krisis yang Tak Kunjung Usai

Jika kita jujur, perayaan kemenangan tahun ini terasa pahit. Umat Islam yang jumlahnya lebih dari dua miliar jiwa masih tercerai-berai. Gaza terus dibantai. Iran menjadi sasaran agresi. Rohingya, Uighur, dan saudara-saudara kita di berbagai belahan dunia masih berada dalam belenggu penjajahan modern.
Pertanyaannya, mengapa dua miliar umat Islam tidak mampu berbuat apa-apa terhadap entitas yang jumlahnya hanya sekitar tujuh juta lebih zionis?
Jawabannya sederhana sekaligus menyakitkan: karena kita tidak memiliki junah (perisai, dalam istilah yang diajarkan Rasulullah). Agama dan kekuasaan adalah saudara kembar. Agama adalah fondasi, sedangkan kekuasaan adalah penjaga. Tanpa fondasi, bangunan runtuh. Tanpa penjaga, agama akan lenyap.
Hari ini, kita tidak memiliki penjaga. Yang ada hanyalah pemimpin-pemimpin yang sibuk dengan stabilitas jangka pendek, konsesi politik, dan menjadi “asisten rumah tangga” bagi penguasa global. Mereka tidak lagi menjadi perekat ideologis, melainkan sekadar pengelola transaksi.
Kapitalisme: Musuh di Balik Layar

Pembicaraan itu sampai pada satu titik tembus, yaitu akar krisis umat Islam adalah kapitalisme yang menjadi pandangan dunia.
Kapitalisme bukan sekadar sistem ekonomi. Ia merupakan akidah sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Ia mengajarkan bahwa dunia ini hanya untuk meraih manfaat, dan meraih manfaat itu boleh dengan cara apa pun, halal maupun haram. Ia melahirkan pemimpin-pemimpin transaksional, bukan transformasional. Pemimpin yang bertanya “saya dapat apa?”, bukan “apa yang bisa saya amanahkan?”.
Kapitalisme telah menguasai hampir seluruh sendi kehidupan. 3F yang menjadi tujuannya “Food (makanan), Fun (hiburan), dan Fashion (pakaian)” yang hanya untuk memenuhi kepuasan di atas pusar. Namun, ada satu F lagi yang paling destruktif, yaitu fantasy, yang mengeksploitasi perempuan, hubungan lawan jenis, dan naluri manusia hingga ke batas paling rendah.
Inilah yang membuat pemimpin-pemimpin kita hari ini tidak mampu menjadi teladan. Bagaimana mungkin seorang pemimpin yang berpandangan dunia kapitalis bisa menjadi panutan? Ia akan terus mengorbankan rakyatnya demi kepentingan sesaat, terus-menerus dalam pusaran transaksi yang tak berujung.
Ramadan: Madrasah yang Terbuang

Ironisnya, solusi sebenarnya telah diberikan setiap tahun melalui madrasah Ramadan. Selama sebulan, umat Islam dilatih disiplin, dikondisikan dalam kebersamaan, dan dididik untuk mengendalikan diri. Puncaknya adalah Idul Fitri, momentum yang seharusnya menjadi titik tolak kebangkitan.
Namun, apa yang terjadi? Ramadan berlalu, Idul Fitri usai, dan kita kembali ke rutinitas lama. Takwa yang seharusnya menjadi energi kolektif untuk perubahan justru macet di level individual. Seolah ada kekuatan yang sengaja “memotong” spirit ketakwaan agar tidak melangkah ke ranah yang lebih luas, ranah negara, kebijakan publik, dan peradaban.
Kita ingat, setiap kali ada kekuatan yang ingin membawa takwa ke dalam kerangka negara, ia segera “diamputasi”. FIS di Aljazair dipotong. Mursi di Mesir dipotong. Tokoh-tokoh yang ingin menghidupkan syariat dalam bingkai kenegaraan selalu mendapat perlawanan sistematis.
Jalan Keluar: Regenerasi dan Kesadaran Bersama

Lantas, apakah kita hanya bisa pasrah? Tidak. Sejarah membuktikan bahwa Islam tidak pernah kehilangan energi. Energi itu datang dari dua hal: ajarannya yang hidup dan generasinya yang terus muncul.
Rasulullah ﷺ mencontohkan metode yang sempurna. Di tengah kondisi Makkah yang dalam analisis modern berada di kuadran terburuk (lemah dan terancam) beliau tidak menerima tawaran kompromi. Beliau memilih jalan dakwah. Dalam dakwah itu, beliau melibatkan anak muda.
Siapa Arqam bin Abi Arqam? Seorang pemuda berusia 16 tahun yang rumahnya menjadi pusat kaderisasi pertama Islam. Siapa yang mendakwahinya? Bukan Rasulullah ﷺ secara langsung, melainkan Abu Bakar yang telah lebih dahulu masuk Islam. Dari situlah rantai kaderisasi terbentuk, dan dari situlah peradaban dibangun.
Muhammad Al-Fatih, penakluk Konstantinopel, adalah hasil dari kaderisasi panjang, 230 tahun sejak Sulaiman Syah, dan 825 tahun sejak Nabi. Ia tidak lahir tiba-tiba. Ia merupakan buah dari regenerasi yang disengaja, direncanakan, dan dijalankan dengan kesadaran bersama bahwa perubahan besar membutuhkan waktu dan proses.
Menjadikan Idul Fitri sebagai Titik Tolak

Kembali ke meja makan tempat diskusi itu berlangsung. Di sela-sela menyantap hidangan Lebaran yang lezat, sebuah kesimpulan mengemuka: Idul Fitri harus menjadi titik tolak perubahan, bukan sekadar perayaan tahunan. Perubahan dimulai dari kesadaran bersama bahwa situasi sudah genting, bahwa kapitalisme sedang menuju kehancuran, dan umat Islam harus segera kembali pada cetak biru yang telah dicontohkan.
Prasyarat kebangkitan adalah ketakwaan yang tidak berhenti di level individual. Ketakwaan yang melahirkan keberanian untuk membawa Islam ke ranah yang lebih luas, ke dalam keluarga, masyarakat, hingga negara. Ketakwaan yang menjadikan pemimpin sebagai perekat ideologis, bukan sekadar pengelola transaksi.
Semua itu harus dimulai dari regenerasi. Bukan sekadar estafet jabatan, tetapi estafet kesadaran. Kesadaran bahwa kita ini bersaudara karena iman, bukan karena suku atau bangsa. Kesadaran bahwa penderitaan saudara kita di Gaza adalah penderitaan kita. Kesadaran bahwa kehinaan umat Islam di mana pun adalah kehinaan kita semua.
Idul Fitri kali ini mungkin kita rayakan dengan suka cita di rumah masing-masing. Namun, jangan biarkan tawa dan hidangan membuat kita lupa pada tangisan saudara-saudara yang masih tertindas. Jangan biarkan euforia “kemenangan” pribadi membutakan kita dari kekalahan kolektif yang kita alami sebagai umat.
Kita memang menang, menang dalam melawan hawa nafsu selama Ramadan. Namun, apakah kemenangan itu cukup? Atau ia hanya menjadi awal dari perjuangan yang lebih besar: membebaskan umat Islam dari belenggu kapitalisme sekuler dan mengembalikan mereka pada jalan yang diridai?
Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga kita tidak hanya kembali ke fitrah, tetapi juga kembali pada peran kita sebagai khairu ummah, umat terbaik yang lahir untuk memberi manfaat bagi seluruh alam.
والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ
“dan Allah lebih tahu yang sebenar-benarnya”
Darul Al Fatih
