
안녕하세요, 여러분 [Annyeonghaseyo yeoleobun]. Siapa nih yang di sini tahu apa itu optimis? Atau jangan-jangan ada yang dijuluki “si paling optimis” sama temannya (buat dapetin hatinya), ups, jangan ya dek ya.
Sini-sini aku kasih tahu definisi sifat yang akan kita bahas. Optimis adalah sifat berpikir positif dan memiliki keyakinan bahwa segala sesuatu akan berjalan dengan baik, walau menghadapinya tak semudah itu. Istilah gampangnya, optimis itu tidak mudah menyerah atau, familiarnya, pantang menyerah.
Sering kita jumpai bahwasannya para pemuda zaman sekarang banyak yang punya jiwa optimis, nih. Eits, ada tapinya. Optimis ala mereka yaitu optimis ala kapitalis. Kok bisa?
Ya, karena mereka tidak akan menyerah kalau soal cari cuan dengan cara yang simpel. Terus mereka nggak bakal berhenti unggah di media sosial. Dan yang paling sering, nih, mereka nonstop buat dapetin hati si crush. Masih banyak fakta lainnya. Dengan alasan kesenangan dunia saja, mereka akan berusaha sekeras itu.
Sekarang aku akan jelaskan secara gamblang tentang sifat optimis sebenarnya. Optimis sebenarnya adalah optimis ala Islam. Optimis dalam Islam bukan sekadar motivasi kosong atau berpikir positif semata, tapi yang dimaksud optimis ala Islam yaitu husnuzan billah atau bisa disebut berprasangka baik terhadap Allah. Seorang yang optimis akan yakin bahwa di balik setiap takdir Allah pasti ada hikmah dan kebaikan, karena Allah tidak pernah menzalimi hamba-Nya.
Tau nggak, di Al-Qur'an surah Az-Zumar ayat 53 Allah ﷻ berfirman dengan penuh kasih sayang-Nya:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ
Yang artinya: Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.”
Nah, ayat ini menegaskan bahwa seberat apa pun dosa dan masalah kita, pintu harapan akan selalu terbuka lebar jika kita optimis menyikapinya.
Pernah nggak sih kalian di posisi di mana kalian sudah berjuang tapi hasil atau masalah itu nggak kunjung selesai? Tenang, Allah pasti akan memudahkan masalah kita, asalkan kita sabar. Allah sendiri yang berjanji, bahkan diulang dua kali dalam Al-Qur'an surah Al-Insyirah ayat 5 dan 6.
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
Para ulama menyebutkan bahwa satu kesulitan tidak akan pernah bisa mengalahkan dua kemudahan. Sudahlah, janji Allah dobel lagi.
Di sini ada yang tahu kisahnya Ibunda Siti Hajar?
Beliau ditinggalkan di lembah tandus Makkah oleh suaminya, Ibrahim, atas perintah Allah. Saat itu tidak ada air, tidak ada kehidupan, hanya pasir dan langit yang terik. Dengan bayi kecilnya, Ismail, di pelukan, ia bertanya, “Apakah ini perintah Allah?” Ketika dijawab, “Ya,” ia berkata mantap, “Kalau begitu Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.”
Saat air habis dan tangisan Ismail makin lemah, Hajar berlari antara Bukit Safa dan Marwah tujuh kali, bukan karena putus asa, tapi karena ikhtiar seorang ibu yang tak menyerah. Di saat itulah Allah menghadirkan mukjizat berupa mata air Zamzam yang memancar dari bawah kaki Ismail.
Dari keteguhan seorang ibu, lahirlah sebuah peradaban. Dari larinya yang penuh harap, lahirlah syariat sa’i bagi jutaan manusia hingga hari ini.
Kisah Ibunda Siti Hajar mengajarkan kita bahwa saat kita merasa sendiri dan tak punya apa-apa, iman dan usaha tak pernah sia-sia di sisi Allah.
Agar lebih afdal lagi, aku beri hadis yang bisa kalian terapkan. Rasulullah bersabda bahwa Allah ﷻ berfirman:
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي
“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku.” (HR. Bukhari, no. 6970 dan Muslim, no. 2675)
Hadis ini termasuk hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
Dari sini kita bisa ambil pelajaran bahwa jika kita optimis Allah akan menolong, maka pertolongan itu hadir. Jika kita pesimis, maka kerugianlah yang kita dapati.
Seorang muslim itu seharusnya bersikap optimis dan tak pernah merasa “rugi” di kondisi apa pun. Karena dalam hadis riwayat Muslim dijelaskan:
عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999)
Nah, untuk membangun jiwa optimis yang penuh makna, kita harus memahami tiga pilar optimis, yaitu:
- Ikhtiar maksimal, karena optimis tapi usahanya segitu-gitu aja percuma; sama aja ibarat angan-angan kosong.
- Doa yang kuat/kusyuk. Ketika kita khusyuk, kita yakin bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah.
- Terakhir, tawakal. Tawakal itu apa sih? Tawakal itu menyerahkan hasil kepada Allah dengan hati tenang.
Sebagai kesimpulannya, mari kita ingat pesan Nabi Ya’qub dalam Al-Qur'an surah Yusuf ayat 87, bahwasannya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali kaum yang ingkar.
Optimis adalah ciri keimanan, sedangkan pesimis adalah bisikan setan. Ayo jadi muslimah yang optimis mulai detik ini dan seterusnya. Bisa dimulai dari hal-hal kecil.
Semoga Allah menghiasi hati kita dengan cahaya keimanan.
さようなら [Sayōnara]
والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ
“dan Allah lebih tahu yang sebenar-benarnya”
Nida' | Santri FMI
