Type Here to Get Search Results !

AGAR PUASA MEWUJUDKAN TAKWA PARIPURNA


Alhamdulillah, kita telah berada pada bulan Ramadan 1447 H. Ramadan adalah bulan yang senantiasa dirindukan. Bulan yang selalu diharap-harapkan kedatangannya. Bulan yang bahkan telah ditunggu-tunggu kehadirannya jauh-jauh hari sebelumnya. Tentu oleh siapa saja yang beriman, yang meyakini keutamaan dan keistimewaannya. Setidaknya, begitulah sikap generasi muslim terdahulu. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali menukil pernyataan Mu’alla bin al-Fadhl, menggambarkan betapa kerinduan mereka terhadap Ramadan sangat luar biasa. Dikatakan:

كَانُوا يَدْعُونَ اللَّهَ تَعَالَى سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ رَمَضَانَ، وَيَدْعُونَهُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَّبَّلَ مِنْهُمْ
Mereka (generasi dulu) biasa berdoa kepada Allah Taala selama enam bulan agar dipertemukan dengan Ramadan. Mereka pun berdoa enam bulan berikutnya agar amal-amal mereka diterima” (Ibnu Rajab, Lathâ-if al-Ma’ârif, 1/58).

Kerinduan generasi muslim dulu yang luar biasa terhadap bulan Ramadan tentu didasarkan pada sejumlah keterangan dari Baginda Rasulullah ﷺ tentang keutamaan bulan tersebut. Di antaranya, sebagaimana dinyatakan oleh Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, adalah hadis Nabi ﷺ yang menyatakan:

لَوْ يَعْلَمُ الْعِبَادُ مَا فِي رَمَضَانَ لَتَمَنَّتْ أُمَّتِي أَنْ يَكُونَ رَمَضَانُ سَنَةً كُلَّهَا
Andai hamba-hamba Allah tahu keutamaan yang ada pada bulan Ramadan, umatku pasti berangan-angan agar Ramadan itu terjadi sepanjang tahun” (HR. Ibnu Abi ad-Dunya; Ibnu Rajab, Lathâ-if al-Ma’ârif, 1/58).

Rasulullah ﷺ pun pernah menyampaikan kabar gembira kepada para sahabat:

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ. فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ. تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَتُغَلَّقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ. لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ
Telah datang kepada kalian bulan yang diberkahi (Ramadan). Allah telah mewajibkan atas kalian puasa di dalamnya. Pada bulan Ramadan pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka Jahim ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Di sisi Allah ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa saja yang terhalang dari kebaikannya, sungguh dia merugi” (HR. Ahmad dan an-Nasa’i).

Sebagian ulama menyatakan hadis di atas sebagai dasar sebagian orang mengucapkan tahni’ah (selamat) kepada sebagian yang lain karena kedatangan bulan Ramadan. Bagaimana seorang muslim tidak bergembira dengan pintu-pintu surga yang dibuka? Bagaimana seorang pendosa tidak bergembira karena pintu-pintu neraka ditutup? Bagaimana pula orang berakal tidak bergembira saat setan-setan dibelenggu? (Ibnu Rajab, Lathâ-if al-Ma’ârif, 1/58).

Karena itulah Baginda Rasulullah ﷺ pun selalu merindukan untuk berjumpa dengan Ramadan. Bahkan beliau sampai berdoa sejak memasuki awal bulan Rajab dengan doa:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan bulan Sya’ban, serta sampaikanlah ke bulan Ramadan” (Ibnu Rajab, Lathâ-if al-Ma’ârif, 1/58).

Tak hanya dirindukan oleh Baginda Rasulullah ﷺ, para sahabat, dan kaum muslim yang hidup. Bahkan Imam Ibnu al-Jauzi berani bersumpah bahwa Ramadan pun amat dirindukan oleh mereka yang sudah meninggal. Dikatakan oleh beliau:

تَاللهِ لَوْ قِيْلَ لِأَهْلِ الْقُبُوْرِ تَمَنَّوْا لَتَمَنَّوُا يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ
Demi Allah, andai dikatakan kepada penghuni kubur, “Berangan-anganlah kalian!” niscaya mereka berangan-angan agar dapat berjumpa dengan Ramadan meski hanya satu hari saja” (Ibnu al-Jauzi, At-Tabshirah, 2/78).


Ramadan dan Ketakwaan


Ramadan selalu hadir membawa harapan. Harapan akan ampunan, perubahan, dan kebangkitan jiwa menuju ketakwaan. Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu pernah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa” (QS. al-Baqarah [2]: 183).

Takwa yang Allah ﷻ harapkan dari seorang muslim tentu bukan takwa sesaat. Bukan takwa musiman. Bukan takwa yang hidup selama Ramadan, lalu padam setelah Ramadan berakhir. Yang diminta adalah takwa yang terus menyala hingga akhir hayat kita. Yang dituntut adalah takwa yang sebenarnya. Takwa yang paripurna. Demikian sebagaimana yang Allah ﷻ firmankan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya ketakwaan, dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan muslim (QS. Ali ‘Imran [3]: 102).


Apa Itu Takwa?


Para sahabat memiliki pemahaman mendalam tentang takwa. Di antara definisi indah tentang takwa adalah yang dinisbatkan kepada Imam Ali bin Abi Thalib ra.:

التَّقْوَى: الخَوْفُ مِنَ الْجَلِيْلِ؛ وَالْعَمَلُ بِالتَّنْزِيْلِ؛ وَالْقَنَاعَةُ بِالْقَلِيْلِ؛ وَالْإِسْتِعْدَادُ لِيَوْمِ الرَّحِيْلِ
Takwa itu adalah: (1) memiliki rasa takut kepada Zat Yang Mahaagung (Allah ﷻ); (2) mengamalkan apa yang telah Allah turunkan (al-Qur’an); (3) merasa cukup dengan (harta) yang sedikit; (4) mempersiapkan bekal (amal) untuk menghadapi Hari Penggiringan (hari Kiamat)” (Muhammad Shaqr, Dalîl al-Wâ’izh, 1/546).

Salah satu tanda takwa di atas adalah mengamalkan al-Qur’an. Tentu secara keseluruhan. Bukan hanya sebagian. Allah ﷻ berfirman:

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ، فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ، وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
Apakah kalian mengimani sebagian al-Kitab dan mengingkari sebagian yang lain? Tidak ada balasan bagi siapa saja yang melakukan tindakan demikian, kecuali kehinaan dalam kehidupan di dunia, sementara di akhirat dia dilemparkan ke dalam azab yang sangat keras. Allah tidak lengah terhadap apa saja yang kalian kerjakan” (QS. al-Baqarah [2]: 85).

Tidak ada hak bagi seorang muslim untuk membedakan hukum-hukum Allah. Semua wajib ditaati. Tidak boleh hanya menerima hukum shaum dan salat saja, tetapi menolak hukum Allah dalam muamalah, politik/pemerintahan, ekonomi, pendidikan, atau kehidupan sosial, termasuk hudûd. Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu adalah musuh nyata bagi kalian” (QS. al-Baqarah [2]: 208).


Agar Puasa Tak Sia-sia


Ramadan adalah madrasah takwa. Akan tetapi, shaum Ramadan bisa sia-sia belaka jika dijalani tanpa kesungguhan, juga tanpa benar-benar meninggalkan segala dosa dan kemaksiatan. Demikian sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ
Betapa banyak orang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali laparnya saja...” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Saat shaum Ramadan tidak dijalani dengan penuh kesungguhan, apalagi di dalamnya banyak diwarnai dengan dosa kemaksiatan, maka Allah ﷻ sama sekali tidak membutuhkan shaum yang demikian. Dalam hal ini Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
Siapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta (keji), maka Allah tidak butuh upayanya dalam meninggalkan makan dan minumnya” (HR. al-Bukhari).

Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Puasa adalah menahan diri dari segala maksiat dan dosa. Menahan lisan dari ghibah. Menahan tangan dari tindakan merugikan orang lain. Menahan diri dari ragam transaksi haram. Menahan hati dari riya dan hasad. Termasuk menahan diri dari melakukan ragam kezaliman. Salah satu tindakan zalim terbesar adalah saat manusia (terutama para penguasa sebagai pemilik kekuasaan) enggan berhukum dengan hukum Allah ﷻ Demikian sebagaimana firman-Nya:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Siapa yang tidak berhukum dengan wahyu yang Allah turunkan, mereka itulah kaum yang zalim” (QS. al-Ma’idah [5]: 45).

Bahkan kita dilarang cenderung (apalagi memihak) kepada para pelaku kezaliman. Allah ﷻ berfirman:

وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ
Janganlah kalian condong kepada orang-orang zalim sehingga kalian disentuh api neraka” (QS. Hud [11]: 113).

Sebaliknya, takwa paripurna menuntut kita agar berlaku adil dan berpihak pada keadilan. Demikian sebagaimana yang Allah firmankan:

إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ
Sesungguhnya Allah menyuruh (kita) berlaku adil, berbuat kebajikan, memberi kepada kerabat, serta melarang dari perbuatan keji, mungkar, dan lalim” (QS. an-Nahl [16]: 90).


Penutup

Alhasil, mari kita isi bulan Ramadan dengan ragam amal kebajikan, selain shaum dan salat tarawih. Di antaranya: memperbanyak membaca, menghafal, dan mengamalkan al-Qur’an; menghadiri majelis-majelis ilmu; banyak bersedekah; meningkatkan kepedulian kepada sesama; menggiatkan dakwah Islam; dan makin bersemangat memperjuangkan syariah-Nya agar bisa diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan kita.

Jangan lupa, tinggalkan segala dosa. Baik dosa kepada Allah ﷻ maupun dosa kepada sesama manusia. Baik dosa besar maupun dosa kecil yang sering dianggap tak seberapa. Semoga dengan itu Allah ﷻ menjadikan kita hamba-hamba yang benar-benar bertakwa.


Hikmah:

Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
“Setiap amal anak Adam adalah untuk dirinya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk diri-Ku dan Aku pula yang akan langsung memberikan balasannya” (HR. al-Bukhari).

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ
“dan Allah lebih tahu yang sebenar-benarnya”

Kaffah Edisi 433

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.