Type Here to Get Search Results !

SEBELUM MENYEBUT ANAK DURHAKA, SUDAHKAH KITA BERKACA?


Di sebuah sudut kota yang ramai, seorang anak kecil tumbuh di lingkungan yang tidak pernah ia pilih. Di sekelilingnya ada hiruk pikuk dunia orang dewasa yang keras, sementara di dalam dirinya hanya ada satu keinginan sederhana yaitu bertahan dan tetap waras. Anak itu kelak dikenal sebagai Eky Priyagung, seorang pria yang berani membuka lembaran paling gelap masa kecilnya agar orang lain bisa belajar dari luka yang ia alami.

Kisah hidupnya bukan sekadar cerita tentang trauma, melainkan cermin yang memantulkan satu pertanyaan penting bagi para orang tua. Sudahkah kita benar-benar memahami bagaimana rumah yang kita bangun membentuk jiwa anak-anak kita.

Eky tumbuh di lingkungan prostitusi dan menjadi korban perdagangan manusia. Masa kecilnya diwarnai perpindahan kota, ketidakstabilan keluarga, dan pengalaman pahit yang seharusnya tidak pernah dialami seorang anak. Namun di tengah kekacauan itu ia menemukan pelarian pada buku dan pendidikan. Membaca menjadi caranya menjaga jarak dari dunia gelap yang mengelilinginya, sementara sekolah menjadi satu-satunya pintu yang ia percaya dapat membawanya keluar.

Ketika ia menceritakan keluarganya, gambaran yang muncul bukan hitam putih. Ia tidak sekadar menyebut orang tuanya sebagai toxic, karena di balik perilaku yang melukai terdapat sejarah panjang trauma dan keterbatasan. Keluarganya tetap berusaha bertanggung jawab meski hidup dalam tekanan sosial dan ekonomi. Dari sini tampak bahwa orang tua yang menyakiti sering kali adalah orang dewasa yang tidak pernah sempat menyembuhkan luka mereka sendiri.

Refleksi ini penting bagi setiap orang tua. Anak tidak hanya menerima nafkah dan aturan, melainkan juga mewarisi emosi yang belum selesai. Trauma yang diabaikan dapat bergerak diam-diam dari satu generasi ke generasi berikutnya. Eky menyadari hal itu ketika menelusuri sejarah keluarganya yang dalam dua generasi berubah drastis dari kehidupan mapan menjadi penuh masalah. Ia melihat bagaimana ketidaksetiaan, kurangnya pendidikan, dan lingkungan yang rusak ikut membentuk pola pengasuhan.

Meski demikian kisahnya tidak berhenti pada keputusasaan. Perubahan selalu mungkin terjadi. Ibunya yang pernah terjebak dalam kehidupan keras perlahan menemukan agama dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Ayahnya yang berpendidikan rendah (SD) justru menumbuhkan rasa ingin tahu melalui pertanyaan-pertanyaan kecil yang melatih cara berpikir kritis. Dari kedua orang tuanya Eky belajar bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bertumbuh.

Dalam perjalanannya ia menemukan penyembuhan melalui seni dan humor. Ia menyebutnya sebagai bergurau dari luka, yaitu kemampuan mengolah rasa sakit menjadi kekuatan. Kehadiran figur ayah angkat yang membimbingnya ke jalan agama juga memberi ruang aman. Namun perjalanan itu tidak selalu mulus karena ia kembali menghadapi pelecehan dari orang yang seharusnya melindungi. Keberaniannya untuk berbicara dan menempuh jalur hukum menjadi pelajaran bahwa diam bukanlah pilihan ketika kezaliman terjadi.

Dialog Eky dengan Felix Siauw memperluas pembahasan ke ranah tanggung jawab orang tua. Mereka menyoroti bahwa masyarakat sering lebih cepat menuduh anak durhaka daripada berani membahas kemungkinan orang tua bersikap salah. Dalam pandangan Islam setiap individu memikul dosa dan pahala masing-masing, sementara orang tua memiliki amanah besar untuk membekali anak menghadapi masa depan, bukan sekadar memaksakan pola masa lalu.

Bagi orang tua muhasabahnya terasa tajam. Niat baik saja tidak cukup jika tidak disertai pemahaman tentang kebutuhan anak pada zamannya. Membandingkan anak dengan masa lalu orang tua atau menuntut tanpa komunikasi hanya akan memperlebar jarak. Sebaliknya keluarga membutuhkan ruang dialog yang jujur agar setiap anggota memahami peran dan batasannya.

Pembicaraan mereka juga menyinggung pentingnya memisahkan perbuatan buruk dari sosok orang tua itu sendiri. Dalam beberapa keadaan jarak dan waktu diperlukan untuk menyembuhkan hubungan yang retak. Menjauh sementara bukan berarti memutus bakti, melainkan memberi kesempatan agar luka mereda dan komunikasi dapat dibangun kembali dengan lebih sehat.

Di ujung kisahnya Eky menulis pengalaman hidupnya dalam buku “Bergur(a)u dari Luka”. Buku itu bukan sekadar autobiografi, melainkan undangan untuk memahami bahwa keluarga yang retak masih memiliki peluang untuk pulih. Ia menunjukkan bahwa masa lalu yang keras tidak harus menentukan masa depan secara mutlak.

Bagi para orang tua cerita ini menjadi cermin yang jujur. Anak-anak tidak hanya mengingat apa yang kita katakan, tetapi juga merasakan bagaimana kita memperlakukan mereka. Setiap kata, sikap, dan cara kita mengelola emosi perlahan membentuk fondasi batin mereka. Jika luka dibiarkan tanpa perbaikan, ia bisa tumbuh menjadi rantai panjang yang mengikat generasi berikutnya.

Namun harapan selalu ada. Perubahan dapat dimulai dari kesediaan untuk belajar, meminta maaf, dan membuka komunikasi. Ketika orang tua berani mengakui keterbatasannya lalu berusaha memperbaiki diri, anak-anak belajar bahwa keluarga bukan tempat yang menuntut kesempurnaan, melainkan ruang untuk tumbuh bersama.

Kisah Eky pada akhirnya bukan hanya tentang seorang anak yang selamat dari masa kecil yang keras. Ia adalah pengingat bahwa setiap rumah sedang menulis cerita bagi generasi berikutnya. Dan di tangan para orang tualah pena itu berada, menentukan apakah cerita tersebut akan dipenuhi luka yang diwariskan, atau menjadi kisah penyembuhan yang memberi harapan.

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ
“dan Allah lebih tahu yang sebenar-benarnya”

[Diaz]

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.