Type Here to Get Search Results !

MANUSIA BUTUH ALLAH


Oleh: Riza mulyani

Mengedipkan mata saja manusia butuh Allah ﷻ, apalagi urusan-urusan besar lainnya. Namun terkadang terbersit dalam diri rasa sombong atas capaian-capaian yang dihasilkan, seolah itu usaha aku. Astaghfirullah~ ampuni hamba mu ini. Padahal itu semua Allah ﷻ yang memberi, Allah ﷻ yang memudahkan, Allah ﷻ yang izinkan.

Sungguh manusia itu fitrahnya lemah dan terbatas, membutuhkan kepada selain dirinya yang tidak lemah dan tidak terbatas. Membutuhkan kepada yang Maha Perkasa, Maha Melihat, Maha Hidup, Maha Esa, yang semua sifat-sifat itu hanya dimiliki Allah ﷻ. Terlebih saat manusia ditimpa ujian yang menjadikan dirinya terkadang putus asa, Allah ﷻ lah tempat dia bersandar dan meminta pertolongan.

Allah mengatakan ke Maha KuasaanNya dalam surat Fatir ayat 15:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ اِلَى اللّٰهِ ۚوَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ
"Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu), Maha Terpuji".

Jelaslah ayat diatas Allah ﷻ menegaskan Dialah yang Maha Kuasa, Maha Kaya tanpa membutuhkan suatu apapun. Manusialah yang membutuhkan Dia, berhajat kepada-Nya, karena kelemahan dan kehinaannya. Sementara Dia Maha Terpuji dalam semua apa yang diperbuat dan dikatakan-Nya, juga dalam semua apa yang ditakdirkan dan yang disyariatkan-Nya.

Manusia, Allah ﷻ ciptakan untuk beribadah kepadaNya seperti dalam surat Adzariyat ayat 56. Namun demikian, bukan berarti Allah membutuhkan ketaqwaan hambanya. Seperti hadits berikut:

Wahai hamba-Ku, kalau orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu bertaqwa seperti orang yang paling bertaqwa di antara kalian, tidak akan menambah kekuasaan-Ku sedikit pun. Jika orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu berhati jahat seperti orang yang paling jahat di antara kalian, tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun juga.” (HR. Muslim no. 2577)".

Selain itu, Allah ﷻ juga menyatakan bahwa amalan-amalan baik yang diperintahkan kepada hamba-Nya akan kembali ke hamba itu sendiri. Allah ﷻ berfirman di dalam surat Al-Isra’ ayat 7 yang berbunyi:

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا ۚ فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الْآخِرَةِ لِيَسُوءُوا وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُوا مَا عَلَوْا تَتْبِيرًا
Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.

Jika kita sebagai seorang hamba masih berpikiran bahwa Allah membutuhkan ibadah kita, maka biasanya kita “hanya sekedar” menunaikannya untuk menggugurkan kewajiban kita sebagai seorang hamba. Akan tetapi, jika kita beranggapan bahwa kitalah yang membutuhkan Allah ﷻ, maka kita akan menjadikan ibadah kita tidak hanya sekedar menggugurkan kewajiban, akan tetapi lebih dari itu, yaitu sebagai kebutuhan. Sehingga lebih “serius” dalam beribadah kepada-Nya.

Serius dalam menuntut ilmu, akan menempatkan dirinya sempurna dalam mengerjakan sebuah amal ibadah karena mengetahui ilmunya. Berbeda dengan seorang ahli ibadah namun tanpa ilmu, amalnya bisa jadi sia-sia sebab tidak mengetahui ilmunya.

Serius dalam menyeru kebaikan, ia tidak akan takut rintangan yang menghadang meskipun nyawa taruhannya, karna dia yakin Allah ﷻ sebagai pelindungnya. Hanya orang-orang yang berilmu yang mampu meneruskan perjuangan Rasulullah ﷺ, karena dia tau selain dakwah merupakan kewajiban juga aktifitas mulia yang menyeru kepada kebaikan.

Orang yang berilmu dalam keadaan tidak ibadah pun sudah mendapatkan banyak kebaikan sebab setiap makhluk mendoakannya. Sementara orang ahli ibadah harus berupaya berdoa atas dirinya.

Seperti sabda Rasulullah ﷺ:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ
Sesungguhnya Allah, para malaikat-Nya, penduduk langit dan bumi, sampai pun semut di sarangnya dan ikan di lautan turut mendoakan kebaikan untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (Hadis Abu Umamah Al Bahili Riwayat Tirmidzi dishahihkan oleh Al Albani)

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ
“dan Allah lebih tahu yang sebenar-benarnya”

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.