Type Here to Get Search Results !

ALLAH ADALAH DZAT YANG MAHAADIL DAN BIJAKSANA


Oleh: Muslihah Saiful

Setiap pemberian Allah terhadap orang beriman adalah yang terbaik bagi mereka. Meski terkadang dirasakan oleh manusia sebagai suatu hal yang tidak menyenangkan. Akan tetapi dibalik itu semua pasti terkandung hikmah. Hanya saja orang beriman dituntut sabar jika mau memperoleh kebaikan dan hikmah. Sebab semua pemberian Allah selalu sempurna.

Manusia yang tidak sempurna, banyak kekurangan dan keterbatasan, tidak mampu melihat kebaikan yang tersimpan dibalik kesulitan. Bukankah bersama kesulitan ada kemudahan? (QS Al Insyirah ayat 6-7). Pemberian Allah pun lengkap dengan segala sisinya.

Anak, misalnya. Pasangan suami istri yang belum dikaruniai anak hingga bertahun-tahun lamanya akan sangat merindukan anak. Mereka merasa kesepian dan lainnya. Di sisi lain mereka punya lebih banyak waktu untuk dimanfaatkan apa saja dibandingkan mereka yang memiliki anak.

Demikian pula dengan mereka yang memiliki anak. Rasa bahagia sebab memiliki anak harus ditebus dengan hilangnya beberapa waktu mereka untuk yang lain. Memiliki anak berarti memiliki tanggung jawab untuk mendidik mereka. Sebab anak merupakan amanah dari Allah agar diarahkan menjadi pribadi yang bertakwa. Kelak setelah kembali kepada Allah mereka akan dimintai pertanggungjawaban. Sudahkah menerima amanah dengan benar sesuai aturan Allah?

Membersamai anak-anak berarti harus menyiapkan mental dan kesabaran ekstra. Tidak hanya sekedar agar mereka senang. Lebih dari itu orang tua harus menunjukkan mana yang sesuai dengan aturan Allah dan mana yang tidak.

Bagi orang beriman dan bertakwa yang sabar kepada aturan Allah, memiliki anak adalah rezeki sekaligus investasi. Karena itu mereka akan berusaha memanfaatkan untuk menjadikan investasi dunia dan akhirat. Menyayangi anak bagi mereka adalah mendidiknya mengenali Allah dan seperangkat aturan-Nya.

Jika anak solih, mereka di dunia akan berbakti kepada orang tuanya, meski ayah ibunya tidak meminta. Mereka juga akan mendoakan kedua orang tuanya agar selalu selamat di dunia dan akhirat. Bahkan setiap ibadah yang dilakukan anak merupakan jariyah untuk orang tuanya baik ketika sudah berpulang ke Rahmatullah atau saat masih membersamai di dunia. Tentu saja dengan catatan mereka semua beriman kepada Allah. Mereka satu akidah, akidah Islam.

Bertolak belakang dengan orang kafir. Bagi mereka anak hanya bikin repot dan menghalagi karir. Kemudian tercetuslah ide childfree. Astaghfirullah. Kalaupun mereka merindukan anak, atau mencintai anak-anak, itu hanya menyalurkan naluri menyayangi yang dimiliki semua orang. Tanpa ada keinginan mendidik dan mengarahkan anak-anaknya mengantarkan ke surga. Sebab mereka tidak memiliki keyakinan (iman) demikian.

Bagi mereka anak adalah tempat mencurahkan kasih sayang. Bahkan tidak jarang mereka juga tidak paham arti mencurahkan kasih sayang. Yang mereka tahu dengan memenuhi keinginan dan memberi harta, itulah cara menyayangi anak. Jiwa anak menjadi kering tanpa sentuhan rasa dari orang yang paling dibutuhkan.

Bukankah wajar jika Allah memberi pahala dan surga kepada mereka yang taat kepada Allah dan memberi azab kepada mereka yang meninggalkan aturanNya?

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اعوذ بالله من الشيطان الرجيم
اَمْ نَجْعَلُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ كَا لْمُفْسِدِيْنَ فِى الْاَ رْضِ ۖ اَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِيْنَ كَا لْفُجَّا رِ
"Pantaskah Kami memperlakukan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi? Atau pantaskah Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang jahat?" (QS. Sad 38: Ayat 28)

Pada ayat berikutnya Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ مُبٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوْۤا اٰيٰتِهٖ وَلِيَتَذَكَّرَ اُولُوا الْاَ لْبَا بِ
"Kitab (Al-Qur'an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran." (QS. Sad 38: Ayat 29)

Al-Hasan Al-Basri mengatakan, Demi Allah, bukanlah cara mengambil pelajaran dari Al-Qur'an itu dengan menghafal huruf-hurufnya, tetapi menyia-nyiakan batasan-batasannya, sehingga seseorang dari mereka (yang tidak mengindahkan batasan-batasannya) mengatakan "Aku telah membaca seluruh Al-Qur'an", tetapi pada dirinya tidak ada ajaran Al-Qur'an yang disandangnya, baik pada akhlaknya ataupun pada amal perbuatannya.

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ
“dan Allah lebih tahu yang sebenar-benarnya”

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.