Type Here to Get Search Results !

PIRAMIDA MAKANAN


Oleh: Maretatik

Masih ingat kah dengan pelajaran tingkat sekolah dasar ini. Piramida makanan adalah sebuah struktur yang menggambarkan posisi makhluk hidup dan perannya dalam kehidupan. Di bagian dasar, ditempati oleh produsen. Siapakah produsen itu? Produsen yang dimaksud di sini adalah tumbuhan. Karena, sejatinya, makhluk hidup penghasil energi ya tanaman itu sendiri.

Jumlah produsen ini lebih banyak dibandingkan konsumen tingkat I yang ada di tingkatan atasnya. Ditingkatan kedua, ditempati oleh hewan herbivora, yaitu hewan pemakan tumbuhan. Meliputi semua jenis herbivora, dari yang berukuran kecil seperti kelinci, hingga herbivora berukuran besar seperti gajah.

Selanjutnya, tingkatan ketiga, ditempati oleh karnivora, yaitu hewan pemakan daging. Berisi semua hewan pemakan daging, misalnya anjing, harimau, ular dll. Dan di bagian puncak, adalah omnivora, pemakan segala, termasuk manusia juga ada di tingkatan ini.

Ternyata, apa yang disebut dengan piramida makanan ini pun tidak luput dari pengaturan Allah. Coba saja kita perhatikan, jumlah makhluk hidup yang dimangsa lebih banyak dibandingkan makhluk pemangsanya. Tentunya di sini terdapat hikmah yang luar biasa.

Jika jumlah pemangsa lebih banyak daripada jumlah yang dimangsa, maka akan ada makhluk yang kelaparan. Benar bukan? Tapi sungguh Allah Maha Teliti menyiapkan segala sesuatunya. Sehingga hal tersebut tidaklah terjadi.

Hal tersebut sebagaimana telah Allah sebutkan dalam salah satu ayatnya:

وَالْأَرْضَ مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْزُونٍ
Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.” (Q.S. al-Hijr: 19).

Benarlah apa yang Allah firmankan tersebut. Manusia tidak perlu khawatir akan kekurangan makanan. Dengan catatan, tentu semua masih terjaga keseimbangannya. Masih berjalan sebagaimana mestinya.

Masalahnya sekarang memang sudah banyak kerusakan di alam ini, akibat keserakahan manusia. Hutan yang harusnya menjadi sumber makanan bagi berbagai herbivora, ternyata habitatnya sudah dirusak manusia dengan alasan pertambangan, perindustrian, perumahan, dan lain sebagainya. Maka tidak heran, kemudian banyak herbivora tidak mendapat habitat alaminya, sehingga banyak yang mati.

Efek dominonya? Efek berikutnya, ketika herbivora berkurang, maka karnivora akan kehilangan makanannya, sehingga saat ini sering ditemui kasus hewan buas yang masuk ke pemukiman.

Atau bisa saja kasus yang terjadi sebaliknya. Misalnya perburuan berlebihan terhadap hewan karnivora, akan menyebabkan populasi hewan herbivora yang menjadi santapannya menjadi berlimpah. Sebagaimana kasus ledakan populasi tikus di Australia belum lama ini, sebagai akibat perburuan terhadap kucing.

Atau Anda pernah menjumpai berbagai produk yang dibuat dari kulit hewan, misalnya ular, buaya. Belum lagi dilihat dari sisi penggunaannya, yang bisa terkategori memakai barang yang terbuat dari bangkai yang najis. Perburuan hewan untuk dimanfaatkan kulitnya tersebut telah merusak keseimbangan ekosistem. Misalnya dengan banyak diburunya ular, maka populasi tikus di alam menjadi meningkat, karena berkurangnya predator alaminya. Maka sekarang banyak sawah gagal panen lantaran diserang tikus.

Perburuan burung di alam, juga menyebabkan terganggunya keseimbangan ekosistem. Dengan berkurangnya jumlah burung di alam, maka hama belalang menjadi tidak terkendali. Hama ulat pun menyerang begitu dahsyat. Hingga petani kelabakan. Sayangnya, hal itu diatasi manusia dengan penggunaan pestisida buatan. Yang mengakibatkan tercemarnya lingkungan.

Betapa Allah sebenarnya telah menciptakan segala sesuatunya dalam ukuran yang seimbang. Tetapi, seringkali ulah manusia telah mengganggu keseimbangan ekosistem tersebut. Yang pada gilirannya, sebenarnya akan membawa dampak negatif bagi manusia itu sendiri. Maka sudah seharusnya, manusia mengelola sumber daya alam berdasarkan aturan-aturan Allah, agar lebih terjaga kelestariannya, dan masih dapat dinikmati oleh generasi mendatang. Karena kekayaan alam yang ada sekarang bukanlah semata-mata warisan nenek moyang, tapi juga titipan dari anak cucu kita untuk masa yang akan datang.

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ
“dan Allah lebih tahu yang sebenar-benarnya”

Banjarnegara, 29 Agustus 2021

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.