Type Here to Get Search Results !

UMAT HARUS DIPIMPIN AL-QUR'AN


Menteri Agama Nasaruddin Umar baru-baru ini menyatakan bahwa di era post-truth saat ini, menjadi tokoh agama tidaklah mudah. Menurut beliau, dulu ketika tokoh agama berbicara, masyarakat cenderung langsung mengikuti, tetapi sekarang tidak selalu demikian. Pasalnya, opini publik, media, dan berbagai pengaruh lain sering kali lebih dominan.

Oleh karena itu, menurut beliau, saat ini merujuk pada kitab suci saja tidaklah cukup untuk meyakinkan masyarakat. Para intelektual keagamaan harus memiliki kemampuan plus agar tetap relevan di tengah lingkungan yang semakin rasional dan liberal (Tribunnews, 31/05/2026).

Pandangan seperti ini lahir dari kenyataan bahwa perkembangan teknologi informasi dan media sosial telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi. Sesuatu yang viral sering kali dianggap benar meskipun tidak memiliki dasar yang kuat. Fenomena inilah yang dikenal sebagai era post-truth, yaitu era saat emosi, persepsi, dan opini lebih berpengaruh daripada fakta dan kebenaran objektif.


Apa Itu Era Post-Truth?


Istilah era post-truth (pascakebenaran) cukup populer dalam kajian politik, media, dan komunikasi. Secara sederhana, post-truth adalah kondisi ketika fakta objektif tidak lagi menjadi faktor utama dalam membentuk opini publik.

Karena itu, ketika Menteri Agama menyebut era post-truth, yang dimaksud adalah bahwa saat ini pendapat ulama atau tokoh agama tidak otomatis diterima oleh masyarakat. Banyak orang lebih memercayai konten media sosial, pemengaruh (influencer), atau opini yang viral.

Akibatnya, ada yang berpendapat bahwa para pemuka agama harus meningkatkan kemampuan komunikasi publik agar masyarakat tidak menjauh dari agama. Tentu kemampuan komunikasi adalah hal yang baik dan diperlukan. Akan tetapi, jika persoalan umat hari ini hanya dipandang sebagai masalah komunikasi, analisis semacam ini sesungguhnya belum menyentuh akar masalah yang sebenarnya.


Solusi Kompeten dalam Perspektif Islam


Sebagai fenomena sosial, istilah post-truth memang menggambarkan kenyataan bahwa banyak orang mengikuti prasangka, emosi, atau opini yang populer. Akan tetapi, Al-Qur'an sejak awal telah memperingatkan bahaya sikap semacam itu:

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ
Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka...” (QS. Al-An'am [6]: 116).

Allah ﷻ juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya...” (QS. Al-Hujurat [49]: 6).

Dari sudut pandang Islam, solusi atas fenomena post-truth bukan hanya meningkatkan keterampilan komunikasi, melainkan membangun masyarakat yang menjadikan wahyu sebagai standar kebenaran. Ketika ukuran benar dan salah dikembalikan pada Al-Qur'an dan As-Sunnah, maka kebenaran tidak ditentukan oleh banyaknya jumlah like, share, atau view.

Kebenaran diukur oleh Al-Qur'an dan As-Sunnah, bukan oleh popularitas, viralitas, atau sentimen emosional. Kebenaran juga bukan ditentukan oleh suara mayoritas di parlemen sebagaimana dalam sistem demokrasi saat ini.


Al-Qur'an Satu-satunya Standar Kebenaran


Kaum muslim wajib meyakini bahwa hanya Al-Qur'an satu-satunya standar kebenaran. Pasalnya, Al-Qur'an bukan sekadar kitab suci yang berisi nasihat moral, melainkan wahyu Allah ﷻ yang diturutkan untuk menjadi petunjuk hidup manusia (Lihat: QS. Al-Baqarah [2]: 2). Al-Qur'an juga adalah satu-satunya kitab suci yang dijamin keasliannya oleh Allah ﷻ:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan pasti Kami pula yang memeliharanya.” (QS. Al-Hijr [15]: 9).

Al-Qur'an pun menjawab seluruh kebutuhan hidup manusia:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ
...Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu...” (QS. An-Nahl [16]: 89).

Karena itu, berpaling dari petunjuk Al-Qur'an menjadi sebab utama kesengsaraan hidup manusia, sebagaimana firman-Nya dalam surah Thaha ayat 123–124. Sayangnya, hari ini umat dan terutama para penguasanya justru semakin jauh dari petunjuk Al-Qur'an.


Akar Persoalan Umat dan Hambatan Struktur Jaringan


Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa masyarakat tidak sekadar kumpulan manusia, melainkan dibentuk oleh sekumpulan pemikiran (afkaar), perasaan (masyaa'ir), dan aturan-aturan kehidupan (anzhimah). Ketika ketiga unsur ini bersumber dari Islam, akan lahir masyarakat Islam. Sebaliknya, ketika ketiganya bersumber dari ideologi kapitalisme, akan lahir masyarakat kapitalistik meskipun mayoritas penduduknya muslim.

Sayangnya, hari ini negara-negara muslim, termasuk Indonesia, menerapkan sistem kapitalisme yang berasaskan sekularisme. Sekularisme memisahkan agama dari kehidupan. Akibatnya, agama hanya ditempatkan di masjid, musala, pesantren, dan ruang ibadah pribadi. Adapun politik, ekonomi, pendidikan, media, hukum, dan pergaulan sosial diatur dengan pemikiran manusia.

Saat ini, pemikiran, perasaan, dan standar perbuatan masyarakat dibentuk oleh kapitalisme. Tidak mengherankan jika opini media sosial sering lebih dipercaya daripada nasihat ulama. Sebabnya, masyarakat setiap hari dibentuk oleh sistem kehidupan kapitalis sekuler.


Mengapa Dakwah Saja Tidak Cukup?


Tentu, dakwah kepada masyarakat tetap wajib dilakukan berdasarkan perintah Allah ﷻ dalam surah Ali 'Imran ayat 104 dan hadis riwayat Imam Muslim mengenai kewajiban mengubah kemungkaran dengan lisan maupun tangan. Akan tetapi, harus dipahami bahwa dakwah kepada individu-individu saja tidak cukup jika negara terus mempertahankan sistem kapitalisme sekuler. Ini ibarat seseorang yang membersihkan air di hilir sungai, sementara dari hulu terus mengalir limbah dan kotoran.

Karena itu, Rasulullah ﷺ tidak hanya berdakwah membina individu-individu di Makkah. Beliau juga berjuang menegakkan Daulah (Negara) Islam di Madinah sehingga syariat Islam dapat diterapkan secara sempurna. Inilah yang menjadikan para ulama mewajibkan kaum muslim untuk membangun kekuasaan Islam sebagai bentuk keteladanan terhadap Rasulullah ﷺ. Tanpa kekuasaan Islam, Al-Qur'an mustahil bisa diterapkan secara sempurna. Imam al-Ghazali menyatakan:

الدِّينُ أُسٌّ وَالسُّلْطَانُ حَارِسٌ، وَمَا لَا أُسَّ لَهُ فَمَهْدُومٌ، وَمَا لَا حَارِسَ لَهُ فَضَائِعٌ
Agama adalah fondasi dan kekuasaan adalah penjaganya. Apa saja yang tidak memiliki fondasi akan runtuh dan apa saja yang tidak memiliki penjaga akan roboh.” (Al-Ghazali, Al-Iqtishaad fii al-I’tiqaad, 1/76).

Banyak orang bertanya, mengapa ceramah, kajian, dan dakwah begitu banyak, tetapi kerusakan moral malah makin meningkat? Jawabannya: karena sumber pembentukan opini masyarakat bukan hanya masjid dan majelis ilmu. Masyarakat setiap hari dibentuk oleh sistem pendidikan, media massa, media sosial, industri hiburan, sistem ekonomi, sistem hukum, dan kebijakan negara.

Jika seluruh instrumen tersebut dibangun oleh ideologi kapitalisme, maka yang terus diproduksi adalah cara pandang kapitalistik. Akibatnya, umat mendengar dakwah Islam satu atau dua jam setiap pekan, tetapi menerima pengaruh ideologi kapitalisme puluhan jam setiap hari.


Kesimpulan

Di sinilah pentingnya perubahan yang bersifat mendasar dan menyeluruh menuju penerapan Islam secara kaffah. Tugas para tokoh agama tidak cukup hanya memperbanyak kajian atau memperbaiki teknik komunikasi dakwah. Yang lebih mendasar adalah bagaimana mengajak umat ini untuk mengembalikan Al-Qur'an sebagai pemimpin kehidupan.

Ketika Al-Qur'an memimpin pemikiran, perasaan, dan aturan hidup manusia, maka akan lahir masyarakat yang menjadikan rida Allah ﷻ sebagai tujuan hidup mereka. Hanya wahyu Allah ﷻ yang mampu membimbing manusia menuju kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat.


Hikmah:

Rasulullah ﷺ bersabda:

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ، لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ، وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ
Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua perkara, kalian tidak akan pernah tersesat selama-lamanya jika kalian berpegang teguh pada keduanya: Kitabullah (Al-Qur'an) dan Sunnah Nabi-Nya (Al-Hadis).” (HR. Malik).

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ
“dan Allah lebih tahu yang sebenar-benarnya”

Kaffah Edisi 446

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.