
Liburan Lebaran telah berakhir, dan sedikit demi sedikit, mereka yang pulang ke kampung halaman mulai kembali ke kota. Meskipun demikian, kedatangan mereka terkadang disertai dengan saudara yang ikut bersama, yang katanya ingin merubah nasib menjadi lebih baik, meskipun dengan modal nekat dan uang yang pas-pasan. Mereka merasa ingin mengikuti jejak saudara yang terlihat sukses.
Jakarta masih menjadi tujuan utama urbanisasi setelah Lebaran 2026, dengan arus pendatang yang terus meningkat setiap tahun. Banyak masyarakat dari berbagai daerah datang untuk mengadu nasib mereka dengan harapan mendapatkan pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik.
Daya tarik ekonomi, kelengkapan infrastruktur, serta status Jakarta sebagai pusat bisnis menjadikannya magnet yang menarik bagi mereka yang ingin meningkatkan taraf hidup. Kondisi ini tetap terjadi meskipun Jakarta menghadapi berbagai tantangan, seperti kepadatan penduduk dan persaingan pekerjaan yang semakin ketat. (Kompas, 01 April 2026)
Seperti sudah menjadi kebiasaan bagi mereka yang pulang kampung setelah mudik, banyak yang membawa serta keluarga. Mereka ingin mengubah nasib meskipun kebanyakan dari mereka belum lulus SD atau baru lulus SMA, dan berniat mencari pekerjaan di kota besar seperti Jakarta. Tujuan mereka hanya satu: mengubah nasib dengan mencari pekerjaan di kota-kota besar. Keinginan untuk hidup lebih baik dengan bekerja di Jakarta menjadi harapan yang ingin mereka raih.
Perbedaan kehidupan di desa dan di kota sangatlah besar. Kesenjangan sosial yang begitu terasa membuat mereka yang tinggal di desa merasa miskin dan terbelakang, sementara yang tinggal di kota dianggap kaya dan sukses. Inilah yang sering kita jumpai. Seharusnya, ajang silaturahmi untuk mempererat hubungan keluarga justru malah dijadikan ajang pamer kekayaan, sehingga banyak yang berpikir bahwa semua kesuksesan dapat diraih hanya dengan tinggal di kota. Namun saat ini, dalam sistem kapitalis, kesenjangan antara desa dan kota begitu nyata.
Dari sini kita bisa melihat bahwa urbanisasi bukan hanya sekadar perpindahan dari desa ke kota. Ini juga mengubah cara berpikir masyarakat, yang melihat kesuksesan dan kehidupan yang sejahtera hanya bisa diraih oleh mereka yang tinggal di kota besar seperti Jakarta. Apalagi dalam sistem kapitalis, yang merancang kota-kota bukan hanya sekadar tempat untuk mencari pekerjaan, tetapi juga menjadi tempat rekreasi dan hiburan.
Pusat pendidikan, dan yang paling penting, pusat perputaran ekonomi, semua terpusat di kota. Seakan-akan kehidupan di kota besar dengan segala kemewahannya telah menghipnotis banyak orang. Sementara itu, desa jauh dari hingar bingar kesibukan dan keramaian kota. Oleh karena itu, kesenjangan sosial semakin terasa dalam arus urbanisasi. Ditambah lagi dengan gaya hidup masyarakat kapitalis saat ini yang telah mengikuti kehidupan sekuler dan hedonis.
Dampaknya, masyarakat yang tinggal di desa terdorong untuk meninggalkan kampung halaman dengan harapan ingin merubah nasib. Namun kenyataannya, kehidupan di kota justru semakin sulit dan penuh tantangan. Lapangan pekerjaan yang terbatas, biaya hidup yang mahal, dan kebutuhan yang semakin mendesak, membuat hidup semakin sulit. Kehidupan yang sejahtera di kota dalam sistem kapitalis hanya dapat dinikmati oleh mereka yang memiliki modal, dan itu hanyalah ilusi yang menggoda.
Akibat urbanisasi besar-besaran, ketimpangan muncul di desa yang ditinggalkan, seperti pada sektor pertanian, peternakan, dan kebun. Padahal, kesejahteraan sebenarnya bisa dicapai di desa melalui kehidupan mandiri yang bergantung pada hasil kebun. Masalah baru akan timbul jika seluruh penduduk desa beralih ke kota; generasi muda yang seharusnya tinggal dan mengelola lahan pertanian akan hilang, menyebabkan lahan-lahan tersebut terbengkalai. Di sisi lain, di kota, persaingan untuk mendapatkan pekerjaan semakin ketat dan biaya hidup yang tinggi justru mendorong peningkatan kejahatan, sementara jumlah penduduk semakin padat.
Islam menjamin kehidupan rakyat dan pemerataan pembangunan hingga ke pelosok-pelosok desa, sehingga rakyat dapat merasakan kesejahteraan secara menyeluruh. Kebutuhan makanan, pakaian, pendidikan, dan kesehatan akan diurusi negara. Pekerjaan untuk para suami juga tersedia, begitu pula di desa-desa, tidak ada tanah yang tidak terurus atau tidak digunakan, karena hasilnya untuk kehidupan seluruh rakyat. Penataan urbanisasi akan diawasi dengan benar agar tidak terjadi ketimpangan di satu kota. Semua harus seimbang.
Namun, semua ketimpangan ini akan terus terjadi selama pondasi yang digunakan adalah sistem sekuler. Dalam sistem ini, kesejahteraan bagi rakyat hanya akan menjadi mimpi belaka. Oleh karena itu, umat harus bersatu dan berani melakukan perubahan secara menyeluruh, agar kehidupan yang sejahtera, aman, dan damai dapat terwujud dengan menegakkan kembali kehidupan Islam di tengah masyarakat dan menjalankan syariat Islam secara kaffah di bawah kepemimpinan Khalifah Islamiyyah.
والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ
“dan Allah lebih tahu yang sebenar-benarnya”
Ermawati
