
Suasana malam di Gua Hira, sekitar enam kilometer dari Makkah, terasa hening. Hanya suara angin yang sesekali menerpa celah-celah batu. Di dalam gua yang sempit itu, seorang lelaki berdiam, merenung, jauh dari hiruk-pikuk penyembahan berhala yang merajalela di kota bawah sana.
Lelaki itu Muhammad bin Abdullah. Usianya telah menginjak 40 tahun. Selama bertahun-tahun, ia kerap menyendiri di gua ini, mencari ketenangan, merenungkan makna kehidupan yang selama ini ia saksikan, penindasan, kesewenang-wenangan, dan penyembahan pada patung-patung yang tidak berdaya.
Malam itu berbeda.
Dari keheningan yang dalam, tiba-tiba sebuah cahaya menyilaukan memenuhi ruang gua. Malaikat Jibril muncul dalam wujudnya yang asli, sayapnya membentang hingga menutupi ufuk timur dan barat. Dengan suara yang tegas namun penuh kasih, ia berkata:
“Iqra!” — Bacalah!
Muhammad gemetar. Ia bukanlah seorang yang pandai membaca atau menulis. “Aku tidak bisa membaca,” jawabnya dengan suara lirih.
Jibril memeluknya erat hingga ia merasa sesak, lalu melepaskannya. Sekali lagi: “Iqra!”
“Aku tidak bisa membaca,” ulang Muhammad.
Jibril memeluknya untuk kedua kalinya. Lalu ketiga kalinya, dengan suara yang menggema di seluruh penjuru gua, Jibril membacakan:
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-'Alaq: 1-5)
Muhammad keluar dari gua dengan hati berdebar. Di hadapannya, langit terbuka, dan di sana Jibril berdiri dalam wujud aslinya, seorang utusan yang gagah perkasa.
“Wahai Muhammad,” suara Jibril menggema, “sesungguhnya engkau adalah utusan Allah. Dan aku adalah Jibril.”
Muhammad berlari pulang ke pangkuan Khadijah, istrinya. Tubuhnya gemetar karena dingin dan rasa takut yang bercampur haru. “Selimuti aku, selimuti aku,” katanya.
Di malam itulah, risalah terbesar dalam sejarah manusia mulai disampaikan. Dan sejak saat itu pula, perintah untuk terus menyampaikan (tanpa takut, tanpa gentar) menjadi beban sekaligus kemuliaan bagi orang-orang yang mengembannya.
Di Padang Arafah, Suara yang Tak Pernah Padam

Delapan tahun setelah hijrah, pada musim haji tahun 10 Hijriyah, puluhan ribu orang berkumpul di Padang Arafah. Panas terik matahari tidak menyurutkan mereka. Di tengah kerumunan itu, Rasulullah ﷺ berdiri di atas untanya yang bernama Al-Qashwa. Suaranya lantang, menggema hingga ke barisan paling belakang.
أَيُّهَا النَّاسُ، اِسْمَعُوْا مِنِّي أُبَيِّنُ لَكُمْ، فَإِنِّيْ لَا أَدْرِيْ لَعَلِّيْ لَا أَلْقَاكُمْ بَعْدَ عَامِيْ هَذَا، فِيْ مَوْقِفِيْ هَذَا
“Wahai manusia, dengarkanlah perkataanku. Sungguh aku tidak tahu apakah aku akan bertemu dengan kalian lagi di tempat ini setelah tahun ini.”
Para sahabat yang mendengar seketika terdiam. Ada yang matanya mulai berkaca-kaca. Mereka tahu, ada yang berbeda dari ucapan beliau kali ini.
Rasulullah melanjutkan. Ia berbicara tentang darah yang haram, tentang harta yang suci, tentang hak-hak wanita, tentang persaudaraan sesama Muslim. Setiap kalimat keluar dengan jelas, tanpa rasa takut, tanpa ada yang disembunyikan.
Di antara kalimat-kalimat itu, ia bersabda:
وَقَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَة نَبِيهِ
“Sungguh telah aku tinggalkan pada kalian sesuatu yang tidak akan menjadikan kalian tersesat selagi kalian berpegang teguh denganya yaitu al-Qur’an dan Sunah nabi-Nya.” (HR. Muslim no: 1218)
Tidak ada yang ia sembunyikan. Tidak ada yang ia kurangi. Semua amanah telah ia sampaikan dengan utuh.
Setelah itu, turunlah wahyu yang menjadi penutup risalah-Nya:
اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu menjadi diin bagimu.” (QS. al-Maidah: 3)
Di Arafah itu, di hadapan puluhan ribu manusia, Rasulullah ﷺ menyelesaikan tugasnya. Ia telah menyampaikan. Tidak ada yang tersisa. Tidak ada yang ditutupi. Dan meskipun ancaman dari orang-orang kafir terus mengintai hingga akhir hayatnya, Allah senantiasa menjaganya.
Di Ruang Sidang Istana Firaun, Ketika Takut Berganti Keyakinan

Jika kita menengok ke belakang, ke masa yang lebih awal, ada kisah lain yang tak kalah menggetarkan. Di istana Firaun, penguasa yang mengaku sebagai Tuhan, para tukang sihir berkumpul. Mereka dipanggil untuk mengalahkan Musa yang dianggap mengancam kekuasaan.
Firaun duduk di singgasananya yang megah. Para pembesar di sekelilingnya menatap dengan penuh percaya diri. Mereka yakin, para tukang sihir ini tidak akan terkalahkan.
Di tengah lapangan yang luas, para tukang sihir melemparkan tali-tali mereka. Di mata orang-orang yang hadir, tali-tali itu seolah berubah menjadi ular-ular besar yang menjalar. Namun ketika tongkat Musa dilemparkan, ular-ular palsu itu ditelannya satu per satu.
Para tukang sihir itu tercengang. Mereka yang selama ini dianggap ahli dalam sihir, tiba-tiba menyadari bahwa yang mereka saksikan bukanlah sihir biasa. Ini adalah mukjizat. Ini adalah kekuatan dari Tuhan yang sesungguhnya.
Mereka pun bersujud. “Kami beriman kepada Tuhan semesta alam,” seru mereka dengan suara yang menggema.
Di singgasana, Firaun murka. Wajahnya memerah. Dengan suara bergetar karena amarah, ia berteriak:
“Apakah kalian beriman kepadanya sebelum aku izinkan? Sungguh, ini adalah tipu daya yang telah kalian rencanakan di kota ini. Aku akan memotong tangan dan kaki kalian secara bersilang, dan sungguh, akan aku salib kalian semua!”
Para pembesar istana yang hadir terdiam. Mereka tahu, ancaman Firaun bukan isapan jempol. Namun para tukang sihir itu tidak gentar. Mereka saling berpandangan. Lalu, salah seorang di antara mereka melangkah maju.
“Tidak ada masalah,” katanya dengan tenang. “Engkau hanya bisa menghukum kami di dunia ini. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Tuhan kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang engkau paksakan kepada kami.”
Mereka tidak takut. Mereka telah menemukan keyakinan yang lebih besar dari ancaman manusia. Di hadapan mereka ada Firaun yang mengaku Tuhan, tetapi di dalam hati mereka telah tertanam keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang berhak disembah.
Seorang pengawal mendekat, siap menyeret mereka ke tiang salib. Namun wajah para tukang sihir itu tetap tenang. Bahkan ada senyum tipis di bibir mereka. Mereka tahu, kematian di jalan kebenaran lebih mulia daripada hidup dalam kehinaan.
Di Masjid Nabawi, Seorang Khatib Menggugah Jemaah

Berabad-abad kemudian, di Masjid Nabawi yang megah, ribuan jemaah duduk bersimpuh mendengarkan khotbah Jumat. Di atas mimbar, seorang khatib berdiri dengan khidmat. Suaranya lantang, menggema di antara tiang-tiang masjid yang bersejarah.
“Sidang jemaah rahimakumullah,” ujarnya, “kita bersyukur kepada Allah atas nikmat iman dan Islam. Sebab tiada nikmat yang lebih agung dari keduanya. Dan sebagai bentuk syukur, kita harus meningkatkan ketakwaan, yang melahirkan komitmen berjuang di jalan Allah, berdakwah di jalan-Nya, tidak takut kepada apa pun kecuali hanya kepada Allah.”
Ia berhenti sejenak. Matanya menyapu jemaah yang duduk rapi di hadapannya.
“Wahai saudara-saudaraku,” lanjutnya, “Allah telah berfirman dalam surah Al-Maidah ayat 67: ‘Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Jika tidak engkau lakukan, maka engkau tidak menyampaikan amanah-Nya. Dan Allah akan memelihara engkau dari (gangguan) manusia.’”
Ia menegaskan suaranya.
“Ayat ini turun ketika Nabi menghadapi ancaman dari Ahli Kitab yang hendak mencelakakan beliau. Namun meskipun sebabnya khusus, ibrahnya umum. Perintah ini berlaku bagi siapa pun yang mengemban risalah Islam, di era apa pun, hingga hari kiamat. Dan jaminan perlindungan ini juga berlaku bagi umat yang istikamah.”
Jemaah yang duduk di shaf terdepan mendengarkan dengan saksama. Seorang pemuda di shaf keempat menunduk, matanya berkaca-kaca.
“Mengapa kita takut?” khotib itu bertanya. “Mengapa kita takut dicap radikal? Mengapa kita takut disebut teroris? Mengapa kita takut kehilangan jabatan, kehilangan popularitas?”
Ia menunjuk ke arah kiblat.
“Lihatlah para tukang sihir Fir’aun. Mereka baru beriman, belum lama menjadi Muslim, tetapi ketika diancam salib, mereka tidak gentar. Mereka berkata: ‘Engkau hanya berkuasa di dunia ini. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Tuhan kami.’ Lalu bagaimana dengan kita yang mengaku umat Nabi akhir zaman?”
Jemaah terdiam. Suasana masjid menjadi hening. Hanya suara burung di luar yang sesekali terdengar.
“Allah telah berjanji,” lanjut khatib, “In tanshurullaha yanshurkum wa yutsabbit aqdamakum. Jika kamu menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. Maka jangan takut. Sampaikan. Sampaikan risalah Islam dengan utuh. Jangan dikurangi. Jangan ditutup-tutupi. Karena yang memberi hidayah bukan kita, tetapi Allah. Tugas kita hanya menyampaikan.”
Ia mengangkat tangannya. Seluruh jemaah mengikuti.
“Ya Allah, teguhkanlah kami di jalan dakwah. Lindungilah kami dari kejahatan manusia. Dan kembalikanlah kejayaan Islam dengan tegaknya syariat-Mu di muka bumi.”
Di Pinggir Kota, Seorang Pemuda Teringat Ayat

Di pinggiran kota, di sebuah ruang tamu sederhana, seorang pemuda duduk termenung. Di depannya terbuka mushaf Al-Qur’an pada surah Al-Maidah. Jari-jarinya menelusuri ayat 67 yang ia baca berulang-ulang.
“Ya ayyuhar rasulu balligh ma unzila ilaika min rabbik...”
Ia ingat kata-kata seorang guru yang pernah ia dengar: “Ini bukan hanya perintah untuk Nabi, tetapi untuk kita semua. Seruan kepada Nabi adalah seruan kepada umatnya.”
Ia menghela napas. Selama ini, ia sering merasa takut. Takut mengingatkan teman yang mulai meninggalkan salat. Takut berbicara tentang syariat di media sosial. Takut disebut intoleran jika membahas khilafah.
Namun ayat ini mengingatkannya pada sesuatu yang lebih besar. Jaminan Allah lebih kuat dari ancaman manusia.
Ia menutup mushaf. Matanya menerawang ke luar jendela, ke arah langit yang mulai gelap.
“Ya Allah,” bisiknya, “aku sering takut. Aku sering merasa kecil. Tapi Engkau telah berjanji akan melindungi siapa pun yang menyampaikan risalah-Mu. Maka berikanlah aku keberanian. Jadikanlah aku termasuk orang-orang yang tidak takut kepada siapa pun selain kepada-Mu.”
Ia berdiri. Di luar, azan magrib mulai berkumandang. Ia bergegas mengambil air wudhu. Langkahnya terasa lebih ringan dari biasanya.
Di Penghujung Malam, Sebuah Kenangan tentang Pemimpin yang Adil

Di sebuah majelis taklim, seorang ulama tua duduk bersandar di bantal. Di hadapannya, puluhan santri berkumpul, mencatat setiap kalimat yang keluar dari mulutnya.
“Sidang jemaah,” ujarnya dengan suara parau namun penuh wibawa, “kita merindukan pemimpin seperti Umar bin al-Khattab. Suatu hari, Madinah diguncang gempa. Para pejabat sibuk menghitung kerugian material. Namun Umar keluar dengan tergesa-gesa, bukan untuk menghitung harta yang runtuh, tetapi untuk berkhutbah di hadapan kaum Muslimin.”
Ia menghela napas.
“Umar berkata, ‘Wahai kaum Muslimin, maksiat apa yang telah kalian lakukan hingga bumi ini murka kepada kalian?’”
Para santri yang mendengar tertegun.
“Subhanallah,” gumam salah seorang di antara mereka. “Beliau tidak bertanya tentang bangunan yang roboh, tetapi tentang dosa yang dilakukan.”
Sang ulama mengangguk pelan.
“Itulah pemimpin yang lahir dari sistem Islam. Bukan pemimpin yang sibuk dengan proyek-proyek megah, tetapi lalai terhadap kemaksiatan. Bukan pemimpin yang mengukur keberhasilan dengan angka pertumbuhan ekonomi, tetapi tidak peduli pada kehancuran moral umat.”
Ia menatap para santrinya satu per satu.
“Kita rindu pemimpin seperti itu. Tapi ingatlah, pemimpin seperti itu tidak akan lahir dari sistem sekuler. Tidak akan lahir dari demokrasi yang menjadikan suara terbanyak sebagai suara Tuhan. Pemimpin seperti itu hanya bisa lahir dari khilafah, sistem yang menjadikan syariat sebagai sumber kedaulatan, bukan suara rakyat, bukan kehendak penguasa.”
Ia mengangkat telunjuknya.
“Dan ini adalah bagian dari risalah yang harus kita sampaikan. Jangan takut. Jangan ragu. Karena Allah telah menjamin perlindungan bagi siapa pun yang menyampaikan amanah-Nya.”
Para santri mengangguk mantap. Ada cahaya di mata mereka. Cahaya keyakinan bahwa kebenaran tidak akan pernah kalah, bahwa risalah akan terus berjalan, bahwa suatu hari, khilafah akan kembali tegak.
Di Ufuk Timur, Fajar Mulai Menyingsing

Di luar, langit mulai memutih. Fajar menyingsing perlahan, mengusir kegelapan malam. Burung-burung mulai berkicau menyambut pagi.
Di masjid-masjid, muazin mulai mengumandangkan azan Subuh. Suara-suara itu bergema dari satu ujung kota ke ujung lainnya:
“Allahu Akbar, Allahu Akbar...”
Seorang pemuda yang semalam termenung di pinggir kota, kini sudah berdiri di shaf terdepan masjid. Ia mengangkat tangan, membaca doa iftitah dengan suara lirih namun penuh penghayatan.
Setelah salat, ia duduk bersimpuh, menengadahkan tangan.
“Ya Allah, aku tidak tahu seberapa besar risalah yang harus aku sampaikan. Aku tidak tahu apakah aku akan dicela, diancam, atau bahkan disakiti. Namun aku tahu, Engkau telah berjanji. Engkau akan melindungi siapa pun yang menyampaikan kebenaran. Maka, ya Allah, jadikanlah aku salah seorang dari mereka.”
Ia menunduk. Air matanya menetes.
Di luar, matahari mulai terbit. Sinar keemasannya menerobos jendela masjid, menyinari wajah-wajah yang khusyuk berzikir.
Hari baru dimulai. Dan dengan hari baru itu, semangat baru menyala di dada para pembawa risalah. Mereka tidak lagi takut. Karena mereka tahu, Allah telah berjanji. Dan janji Allah pasti.
والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ
“dan Allah lebih tahu yang sebenar-benarnya”
Abu Ghazi
