
Di sebuah ruang kelas di Eropa, abad ke-10 Masehi. Seorang biarawan muda duduk termenung di bangku kayu yang lapuk. Di depannya, seorang pendeta tua membacakan teks-teks Latin tentang dosa dan siksa neraka. Tak ada angka. Tak ada ilmu. Tak ada penjelasan tentang bagaimana alam semesta bekerja.
Di luar jendela, kabut tebal menyelimuti kota. Jalanan becek. Bau sampah dan kotoran manusia menyengat. Wabah penyakit datang silih berganti. Penduduk takut keluar rumah karena keyakinan bahwa penyakit adalah kutukan Tuhan.
Inilah Eropa pada abad pertengahan. Para sejarawan Barat menyebutnya Dark Ages (zaman kegelapan). Gereja memegang kendali mutlak. Sains dianggap bidah. Kebebasan berpikir adalah dosa.
Namun, di belahan dunia yang lain, tepatnya di Baghdad, pemandangan yang sangat berbeda terhampar.
Di Perpustakaan yang Tak Pernah Padam

Seorang pemuda berusia dua puluhan berjalan cepat menyusuri koridor panjang. Di tangannya tergenggam gulungan perkamen berisi catatan tentang bintang-bintang. Ia baru saja menghabiskan semalam suntuk di observatorium, mengamati pergerakan planet.
Pemuda itu bernama Al-Khawarizmi. Namanya mungkin asing di telinga kita hari ini, tetapi setiap kali kita menyebut kata aljabar atau algoritma, kita sebenarnya sedang menyebut namanya.
Ia memasuki ruangan besar yang dipenuhi ribuan kitab. Bukan kitab biasa. Kitab-kitab ini berasal dari Persia, India, Yunani, bahkan Romawi, semuanya diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Inilah Baitul Hikmah, perpustakaan terbesar di dunia pada masanya, didirikan oleh Khalifah Harun ar-Rasyid dan dikembangkan oleh putranya, Al-Ma'mun.
"Khawarizmi," sapa seorang lelaki tua dari balik tumpukan kitab. "Bagaimana perhitunganmu tentang pergerakan matahari?"
Al-Khawarizmi tersenyum. Ia duduk di hadapan gurunya, membuka gulungan perkamen, dan mulai menjelaskan. Angka-angka yang ia tulis bukan angka Romawi yang rumit, tetapi angka yang kelak dikenal dunia sebagai numerals, angka nol hingga sembilan, yang sebenarnya diadaptasi dari India tetapi disempurnakan oleh ilmuwan muslim.
Di ruangan yang sama, ratusan meter persegi itu, para ilmuwan dari berbagai disiplin berkumpul. Ada yang menerjemahkan karya-karya Galen tentang kedokteran. Ada yang mengkaji geometri Euclid. Ada yang menulis ensiklopedia tentang tumbuh-tumbuhan. Semuanya dibiayai negara. Semuanya bekerja dengan satu keyakinan: menuntut ilmu adalah ibadah.
Di Rumah Sakit Pertama yang Melayani Gratis

Sekitar seratus tahun sebelumnya, di kota yang sama, seorang insinyur mendapat perintah dari Khalifah Al-Walid. Perintah itu sederhana: bangunlah tempat untuk merawat orang sakit.
Insinyur itu mengerjakan tugasnya dengan tekun. Ia merancang bangunan dengan ventilasi yang baik, saluran air bersih, dan ruangan-ruangan yang terpisah. Ketika selesai, ia menghadap khalifah.
"Wahai Amirul Mukminin," katanya, "rumah sakit ini kami lengkapi dengan ruang isolasi untuk penyakit menular, apotek, dan ruang perawatan khusus untuk pasien dengan gangguan jiwa."
Khalifah Al-Walid mengangguk puas. "Biayanya?"
"Telah kami hitung, Amirul Mukminin. Namun, jika engkau izinkan, kami ingin membiayainya dari kas negara dan wakaf kaum muslim. Tidak ada biaya yang dipungut dari pasien."
Itulah rumah sakit pertama di dunia. Bukan konsep baru yang lahir di Eropa berabad-abad kemudian, tetapi di Baghdad, pada awal abad ke-8 Masehi.
Di masa Khalifah Harun ar-Rasyid, rumah sakit ini berkembang pesat. Bangsal laki-laki dan perempuan dipisah. Perawat pria merawat pasien pria, perawat wanita merawat pasien wanita. Pasien dari agama apa pun, suku apa pun, kaya atau miskin, semua mendapat pelayanan yang sama. Tak seorang pun ditolak.
Bahkan pasien yang ingin berwudu sebelum salat disediakan air mengalir dan kamar mandi yang bersih.
Sementara di Eropa, tiga abad kemudian, orang-orang masih berobat ke kuil-kuil untuk disembuhkan oleh pendeta dengan mantra dan sesajen. Konsep rumah sakit baru dikenal di Barat sekitar tahun 1100 M, tiga abad setelah Islam memilikinya.
Di Universitas yang Tidak Memungut Biaya

Di kota Fez, Maroko, seorang wanita bernama Fatima al-Fihri berdiri di tengah pembangunan. Tangannya menyentuh dinding masjid yang baru didirikan. Ia mewarisi harta dari ayahnya, seorang saudagar kaya. Namun, alih-alih membelanjakannya untuk kemewahan dunia, ia memilih mendirikan lembaga pendidikan.
Tahun 859 Masehi, Universitas Al-Qarawiyyin berdiri. Ia menjadi universitas tertua di dunia yang masih beroperasi hingga hari ini. Para mahasiswa datang dari berbagai penjuru. Mereka belajar fikih, astronomi, kedokteran, matematika, dan filsafat. Semua biaya ditanggung negara dan wakaf umat.
Seorang pemuda dari Andalusia datang menimba ilmu di sana. Namanya Ibnu Rusyd. Ia kelak dikenal di Eropa sebagai Averroes, filsuf yang karyanya menjadi rujukan utama universitas-universitas Eropa berabad-abad kemudian.
Di Mesir, Universitas Al-Azhar berdiri tahun 975 M. Di Baghdad, Nizamiyah didirikan tahun 1067 M. Di Timbuktu, Mali, Universitas Sankore menjadi pusat ilmu pengetahuan di Afrika.
Setiap universitas ini memiliki sistem dan kurikulum yang sangat maju. Para pencari ilmu tidak perlu membayar satu dirham pun. Negara hadir, wakaf mengalir, dan ilmu pengetahuan menjadi milik semua orang.
Bahkan Paus Sylvester II, pemimpin tertinggi umat Katolik pada abad ke-10, sebelum menjadi Paus, pernah belajar di universitas Islam. Ia membawa pulang ilmu matematika dan astronomi yang kelak menjadi fondasi kebangkitan Eropa.
Di Ruang Sidang yang Menjunjung Keadilan

Di Madinah, abad ke-7 Masehi, sebuah peristiwa mengguncang masyarakat. Seorang wanita dari kalangan terpandang terbukti mencuri. Sahabat-sahabat dekat Rasulullah ﷺ datang menghadap, berbisik-bisik.
"Wahai Rasulullah," kata salah seorang di antara mereka, "wanita ini berasal dari keluarga terhormat. Mungkin lebih baik jika...."
Belum selesai bicara, wajah Rasulullah berubah. Beliau berdiri, suaranya tegas memotong.
"Demi Allah, seandainya Fatimah putriku sendiri yang mencuri, sungguh akan kupotong tangannya."
Ruangan menjadi hening. Mereka tahu, ini bukan sekadar ancaman. Ini adalah prinsip: di hadapan hukum, semua manusia sama. Tidak ada istimewa-istimewa. Tidak ada privilege bagi keluarga penguasa.
Prinsip ini terus hidup di masa para khalifah. Di masa Ali bin Abi Thalib, sebuah peristiwa unik terjadi. Seorang warga Yahudi mengaku memiliki baju besi yang diklaim sebagai milik Ali. Keduanya bersengketa. Kasus itu dibawa ke pengadilan.
Hakim mendengarkan kedua belah pihak. Ali berbicara sebagai penggugat. Namun, ia tidak bisa membuktikan bahwa baju besi itu miliknya. Hakim pun memutuskan: baju besi itu milik si Yahudi.
Ali menerima putusan itu tanpa protes. Ia bahkan tersenyum. Si Yahudi, yang kaget melihat seorang khalifah (penguasa tertinggi) tunduk pada putusan hakim biasa, kemudian berkata:
"Wahai Amirul Mukminin, aku tahu baju besi ini milikmu. Aku hanya ingin melihat bagaimana keadilan ditegakkan di negerimu."
Ia mengembalikan baju besi itu dan masuk Islam.
Di Tengah Sumber-Sumber Sejarah yang Otentik

Berabad-abad kemudian, di sebuah perpustakaan di Granada, seorang lelaki tua duduk membuka lembaran-lembaran manuskrip. Ia adalah Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam, yang kelak dikenal sebagai Ibnu Hisyam.
Di hadapannya terbentang catatan-catatan tentang kehidupan Nabi Muhammad ﷺ. Namun, ia tidak sekadar menyalin. Ia melacak setiap informasi hingga ke saksi mata pertama. Ia memastikan rantai periwayatan bersambung. Ia memverifikasi keutuhan informasi.
Inilah metode sanad dan matan, metode yang sudah dipraktikkan kaum muslim sejak abad ke-7 Masehi untuk menjaga keautentikan Al-Qur'an dan hadis. Metode yang sama ia terapkan untuk menulis sejarah.
Kitab Sirah Nabawiyyah karya Ibnu Hisyam menjadi rujukan utama sejarah Nabi hingga hari ini. Metode penulisan sejarah yang canggih ini baru dikenal Barat pada abad ke-16 Masehi.
Sejarawan Bucla mencatat: "Metode ini belumlah dipraktikkan oleh Eropa sebelum tahun 1597 M."
Dua abad setelah Ibnu Hisyam, lahirlah seorang sejarawan terkemuka lainnya: Ibnu Khaldun. Di abad ke-14 M, ia menulis Muqaddimah, sebuah karya tentang metodologi sejarah, sosiologi, dan peradaban yang baru mendapat perhatian serius di Barat pada abad ke-19.
Dalam kitab Kashfuz Zunun, terdapat daftar 1300 buku sejarah yang ditulis dalam bahasa Arab pada masa beberapa abad sejak munculnya Islam. Angka yang tak terbayangkan oleh para sejarawan Eropa di abad pertengahan.
Di Ruang Seorang Peneliti Yahudi yang Mengakui

Di New York, tahun 1978 M, seorang peneliti Yahudi bernama Michael H. Hart menyelesaikan bukunya yang fenomenal: The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History. Ia menghabiskan waktu bertahun-tahun meneliti, membandingkan, dan meranking tokoh-tokoh paling berpengaruh dalam sejarah manusia.
Di meja kerjanya, setumpuk referensi berserakan. Biografi para pemimpin dunia, filsuf, ilmuwan, penemu. Ia menimbang-nimbang: siapa yang paling pertama? Isaac Newton? Yesus Kristus? Albert Einstein?
Setelah melalui proses panjang, ia menuliskan satu nama di urutan pertama: Muhammad.
Bukan karena provokasi. Bukan karena sensasi. Ia menulis dengan argumentasi yang logis: Muhammad bukan semata pemimpin agama, tetapi juga pemimpin duniawi. Ia adalah kekuatan pendorong gerak penaklukan kaum muslim. Pengaruh kepemimpinannya berada dalam posisi terdepan sepanjang waktu. Ia mampu dengan gemilang memberikan teladan aplikasi wahyu dalam kehidupan sebagai pribadi, kepala rumah tangga, anggota masyarakat, dan kepala negara.
Hart tidak berlebihan. Ia hanya jujur pada fakta sejarah yang ia temukan.
Di Titik Balik yang Mengubah Peradaban

Kembali ke abad ke-7 Masehi. Di sebuah gua di luar Makkah, seorang lelaki tengah merenung. Ia adalah Muhammad bin Abdullah. Di usia 40 tahun, ia menerima wahyu pertama yang menggetarkan jiwanya.
Tiga belas tahun kemudian, ia dan para pengikutnya yang masih sedikit harus meninggalkan Makkah. Mereka hijrah ke Madinah. Di kota inilah perubahan besar terjadi.
Bayangkanlah: di Makkah, ia sulit memperoleh pengikut. Di Madinah, dalam tempo cepat, ia menjadi pemegang kekuasaan yang sesungguhnya. Suku-suku Arab berbondong-bondong masuk Islam. Pertempuran demi pertempuran terjadi antara Makkah dan Madinah. Tahun 630 M, ia kembali ke Makkah sebagai penakluk, bukan dengan dendam, tetapi dengan ampunan.
Dua setengah tahun terakhir hidupnya, ia menyaksikan Semenanjung Arab hampir seluruhnya memeluk Islam. Tatkala ia wafat tahun 632 M, tidak ada lagi nabi setelahnya. Yang ada adalah pengganti (khalifah) yang melanjutkan kepemimpinannya sebagai kepala negara.
Khilafah pun tegak. Dan dari sinilah peradaban Islam meroket.
Di Antara Kegelapan yang Sengaja Dibangun

Kini, berabad-abad kemudian, seorang guru sejarah membuka buku di depan kelas. Ia membacakan: "Pada abad 1 hingga 15 Masehi, Eropa mengalami zaman kegelapan."
Salah seorang murid mengangkat tangan. "Bu, kalau Eropa gelap, bagaimana dengan dunia Islam?"
Guru itu terdiam. Buku di tangannya tidak menjawab.
Padahal fakta sejarah berkata lain: kegelapan (atau dalam Islam disebut jahiliah) hanya terjadi pada abad 1 hingga 6 Masehi. Sejak Nabi Muhammad ﷺ lahir di abad ke-7, peradaban Islam lahir dan terus meroket hingga abad ke-15. Kemudian menurun pada abad berikutnya, hingga akhirnya khilafah Islam yang berpusat di Turki runtuh pada tahun 1924.
Mengapa fakta ini tidak diajarkan? Mengapa kurikulum sekolah dengan rinci membahas peradaban manusia ratusan tahun sebelum Masehi, kemudian melompat ke abad ke-16 M, seolah-olah abad ke-7 hingga ke-15 tidak pernah ada?
Seorang sejarawan muslim menutup buku catatannya. Ia menghela napas panjang. "Inilah yang disebut penjajahan sejarah," gumamnya. "Mereka tidak hanya menjajah tanah, tetapi juga menjajah ingatan."
Di Penghujung Harapan yang Masih Menyala

Di sebuah masjid di pinggiran kota, seorang pemuda duduk bersila. Di depannya terbuka kitab sirah. Ia membaca tentang bagaimana Nabi membangun peradaban dari nol. Tentang bagaimana khilafah melahirkan ilmuwan-ilmuwan yang mengubah dunia. Tentang bagaimana keadilan ditegakkan tanpa pandang bulu.
Ia menutup kitab itu. Matanya berkaca-kaca.
"Dulu mereka pernah jaya," katanya dalam hati. "Kita yang sekarang ini, apa yang telah kita lakukan?"
Ia teringat firman Allah dalam surah Ar-Ra'd ayat 11: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri."
Maka ia pun bangkit. Bukan dengan mimpi kosong, tetapi dengan langkah nyata. Belajar. Menulis. Berdakwah. Mengajak. Membangun kesadaran bahwa kejayaan tidak datang dengan sendirinya. Kejayaan datang ketika umat kembali berpegang teguh pada agamanya, ketika syariat kembali menjadi hukum tertinggi, ketika khilafah kembali tegak.
Di luar masjid, suara azan magrib berkumandang. Ia bergegas mengambil wudu. Di tengah dinginnya air yang membasahi wajah, ia berbisik: "Ya Allah, pulihkanlah kejayaan umat ini. Kembalikan kami pada jalan yang Engkau ridai."
Langit mulai gelap. Namun, di kejauhan, bintang pertama mulai muncul.
Seperti harapan. Kecil, tetapi tak pernah padam.
والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ
“dan Allah lebih tahu yang sebenar-benarnya”
Abu Ghazi | Followers Om Joy
