Type Here to Get Search Results !

HATI MENGERAS SEPERTI BATU


Oleh: Noviana Irawaty

Allah Subhanahu Wa Taala berfirman:

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوْبُكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ فَهِيَ كَا لْحِجَا رَةِ اَوْ اَشَدُّ قَسْوَةً ۗ وَاِ نَّ مِنَ الْحِجَا رَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْاَ نْهٰرُ ۗ وَاِ نَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَآءُ ۗ وَاِ نَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ ۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَا فِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ
"Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras sehingga (hatimu) seperti batu, bahkan lebih keras. Padahal, dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang (airnya) memancar daripadanya. Ada pula yang terbelah, lalu keluarlah mata air darinya. Dan ada pula yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Dan Allah tidaklah lengah terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 74)


Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

74. “Kemudian hatimu menjadi keras,” maksudnya mengeras dan menebal hingga nasihat tidak mampu berpengaruh padanya. “setelah itu”, maksudnya, setelah Allah ﷻ memberikan nikmat atas kalian dengan nikmat-nikmat yang besar dan memperlihatkan kepada kalian ayat-ayat-Nya, dan seharusnya tidaklah patut hati-hati kalian menjadi keras, karena apa yang kalian saksikan sendiri seharusnya menimbulkan kelembutan hati dan ketundukannya.

Kemudian Allah ﷻ menerangkan tentang kekerasan hati mereka yaitu bahwasanya ia, “seperti batu” yang lebih keras daripada besi, karena besi dan timah apabila dibakar dalam api, niscaya akan meleleh, berbeda dengan batu. Dan firman-Nya, “atau lebih keras lagi,” maksudnya bahwa ia tidaklah terbatas hanya sekeras batu, dan (atau) di sini tidaklah bermakna (bahkan).

Kemudian Allah ﷻ menyebutkan tentang keutamaan batu atas hati mereka seraya berfirman, “padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah.” Maka dengan sifat-sifat itu, batu itu melebihi keutamaan hati mereka.

Kemudian Allah ﷻ mengancam mereka dengan ancaman yang paling keras seraya berfirman, “dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan,” bahkan Allah ﷻ sangat mengetahuinya, menghafalnya, baik kecil maupun besar, dan kalian akan di beri balasan atas perbuatan kalian dengan balasan yang paling sempurna dan paling penuh.

Ketahuilah bahwasanya kebanyakan para ahli tafsir telah memperbanyak penyisipan cerita-cerita Bani Israil dalam tafsir mereka, dan memaknai ayat-ayat al-Qur’an menurut cerita-cerita tersebut. Mereka berhujjah dengan sabda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam: “ceritakan tentang Bani Israil, tidak apa-apa” (HR. Bukhori : 3461)

Dan menurut hemat saya adalah bahwasanya bila pun boleh meriwayatkan cerita-cerita mereka adalah dalam bentuk dialokasikan tersendiri tanpa dikaitkan dan tidak pula menjadi makna dasar atas kitabullah, karena sesungguhnya menjadikannya sebagai tafsir bagi kitabullah tidaklah boleh sama sekali apabila tidak sahih kabarnya dari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, hal itu jika derajatnya seperti yang Nabi sabdakan :

jangan membenarkan ahli kitab dan jangan juga mendustakan mereka” (HR. Bukhari : 4485)

Apabila derajatnya diragukan, dan suatu hal yang pasti diketahui dalam agama Islam bahwasanya al-Qur’an itu wajib di imani dengan keyakinan bulat, baik kata-katanya maupun makna-maknanya, oleh karena itu tidak boleh menjadikan cerita-cerita tersebut yang diriwayatkan secara majhul (tidak di ketahui) yang kemungkinan besar menurut akal adalah cerita dusta atau mayoritasnya adalah dusta, sebagai makna-makna al-Qur’an sebagai suatu yang pasti dan tidak ada seorang pun yang meragukannya, akan tetapi karena kelalaian terhadap hal ini, akhirnya terjadilah apa yang terjadi. Hanya Allah sajalah Zat yang membimbing.

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ
“dan Allah lebih tahu yang sebenar-benarnya”

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.