Type Here to Get Search Results !

CINTAI KESEHATAN KITA KARENA ALLAH


Oleh: Alfi Ummuarifah

Islam itu adalah agamanya orang-orang kuat. Islam agama yang tinggi. Tak ada yang bisa menyamai ketinggiannya. Allah yang anugerahkan sifat itu melekat pada agama akhir zaman ini. Bahkan hingga ke kehidupan akhirat nanti, agama inilah yang paling agung, mulia dan sempurna.

Oleh karena itu, Allah menginginkan hambaNya memiliki dan mempersiapkan kekuatan apa saja agar dia kuat. Kuat fisik, jasad, jiwa, peradaban dan harkat martabatnya di antara manusia dan peradaban lainnya.

Dia Ummat terbaik. Tugasnya menyuruh manusia kepada islam, amar makruf dan nahi munkar.

Allah memerintahkan kita menyiapkan apa saja kekuatan itu agar kita kuat. Kuat akidah, kuat ilmu, kuat fisik dan jiwanya. Sehingga tak terbawa arus zaman yang serba kapitalistik hari ini dengan hukum buatan manusia menandingi Allah pencipta alam.

Untuk itu, Allah telah memberikan kekuatan dan kelebihan pada Nabi Muhammad dari nabi lainnya secara fisik dan keimanannya. Ini sinyal pasti bahwa kondisi ummat islam pun harus begitu. Mencontoh nabinya.

Nabi menyebutkan dalam hadist dari Abu Hurairah Ra, bahwa mukmin yang kuat lebih dicintai Allah dari mukmin yang lemah, Allah menyuruh meminta pertolongan padaNya, jangan membiarkan diri lemah. Jangan bilang coba jika begini dan begitu. Katakanlah itu Qodarullah... sebab itu peluang kita membuka pintu untuk perbuatan setan. (HR.Muslim, 2664).

Kuat yang dimaksud adalah kuat fisik dan jiwa juga kuat iman. Ketiganya mesti ada. Karena jika itu tidak ada, manusia akan sulit dan susah beribadah maksimal karena menderita sakit. Peluang beramal banyak untuk bekal menjadi terhambat. Sukakah kita dengan itu?

Tentu tidak bukan?

Ingat kita kaum muslim, kaum yang kuat.

Nabi pun pernah sakit. Tapi dua kali sakit karena orang lain (faktor eksternal). Bukan karena faktor internal sebab zalim pada diri sendiri, tidak memperhatikan diri, tubuhnya, makanannya, cara aktifitasnya dan istirahatnya.

Nabi sakit dua kali seumur hidup. Sakit karena disihir oleh Labid bin A'shom.

Juga diracuni oleh perempuan Yahudi saat memakan daging paha kambing kesukaannya yang sudah dilumuri racun mematikan dalam sebuah jamuan.

Saat itu beliau masih tertolong, namun berefek pada sakit yang dihadiahkan Allah menjelang wafatNya. Qadarullah.

Saat itu ada sahabat Bisyr bin Al barra' yang terlanjur memakan daging beracun itu. Dia wafat setelah pembuluh darah besar aortanya pecah. Namun nabi masih hidup. Setelah itu, tiga tahun berikutnya Nabi mendapatkan efek racunnya juga. Qadarullah wa maa syaa faala.

Jadi, Allah menciptakan sakit itu berikut obatnya. Akidah yang salah menyatakan bahwa ada penyakit yang tak ada obatnya. Kaum muslimin harus meyakini bahwa setiap penyakit itu ada obatnya. Ya, obatnya makanannya sendiri, kebiasaan dan habitnya.

Adapun penyebabnya sakit itu bisa karena faktor internal individu itu juga karena faktor eksternal manusia itu sebagaimana nabi dahulu (ain, sihir, racun dan sehenisnya).

Tapi, itu perlu disikapi baik. Sakit itu tanda cinta Allah. Justru kita harus "khawatir jika kita tidak pernah sakit sekalipun di dunia ini".

Jika keseringan sakit bagaimana?

Kita perlu mengintrospeksi diri, apa sebabnya? Apakah kezaliman kita pada tubuh kita? Apa karena kebodohan kita akan ilmu kesehatan? Atau karena faktor eksternal?

Perhatikanlah, nabi hanya sakit dua kali. Dua-duanya karena faktor eksternal. So. Nabi menjaga kesehatannya. Mari kita contoh nabi bagaimana beliau menjaga kesehatannya. Yuk ah...

Seorang arab badwi pernah ditanya Rasulullah apakah pernah sakit. Rasul bertanya tentang demam (Ummu mildam) dan shuda' (pusing). Laki-laki badwi itu tak mengetahuinya, tak pernah sakit sedikitpun.

Lalu nabi berujar dalam hadits itu "barang siapa ingin melihat penghuni neraka, maka lihatlah orang itu" ( HR. Bukhori nomor 381 dalam kitab Adabul Furod).

Maksudnya badwi yang ditanya rasul tadi tidak mengetahui tentang demam dan pusing. Dia tidak tau demam dan tidak tau pusing karena tidak pernah sekalipun mengalaminya selama hidupnya.

Namun itu bukanlah hal baik. Sebab Nabi justru mengomentari itu tidak baik.

Jadi, saat kita sakit introspeksilah, istighfar minta ampun atas kelalaian kita zalim pada diri kita, habits kita yang salah, life style yang rungkad ( kacau balau) dan karena tidak memperhatikan makanan kita sebab kebodohan kita yang tidak mengerti ilmu kesehatan untuk diri sendiri dan kaum Muslim.

Bisa jadi sakit karena kelalaian kita, istighfarlah banyak-banyak. Sakit adalah penggugur dosa kita yang banyak. Jika karena faktor eksternal misalnya diteluh, disihir bersabarlah ada pahala bagi sabar menahan ujian. Mudah bukan?

So, bersyukurlah pada Allah karena kita diberikan banyak nikmat luar biasa. Beramallah terbaik untuk ummat. Sesungguhnya itu akan kita petik hasilnya nanti dan itu pasti akan membahagiakan kita, saat orang lain terutama orang kafir saat itu tidak punya bekal sama sekali.

Yuk jelajahilah bumi lebih jauh, piknik kita harus lebih jauh agar banyak dapat ibrah yang kita dapat dalam menghadapi hidup ini.

Lihatlah Al-Qur'an surat Al-An’am ayat 11 ini:

قُلۡ سِيۡرُوۡا فِى الۡاَرۡضِ ثُمَّ انْظُرُوۡا كَيۡفَ كَانَ عَاقِبَةُ الۡمُكَذِّبِيۡنَ
Katakanlah (Muhammad), "Jelajahilah bumi, kemudian perhatikanlah bagai-mana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu."

Orang-orang kafir lalu diminta untuk mengamati nasib umat manusia sebelumnya yang mendustakan ajaran Allah.

Katakanlah, wahai Nabi Muhammad, kepada orang-orang kafir yang menolak ajakan beriman kepada Allah, "Jelajahilah bumi, dengan mengunjungi jejak para nabi dan menelaah kisah umat-umat terdahulu, kemudian perhatikanlah dengan cermat melalui pikiran yang jernih dan hati yang bersih, bagaimana kesudahan, perjalanan hidup dan nasib orang-orang yang mendustakan ajaran Rasulullah itu di dunia?"

Semoga kita menjadi salah satu orang yang memiliki bekal terbaik itu dan selamat di akhirat. Aamiin~

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ
“dan Allah lebih tahu yang sebenar-benarnya”

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.