Type Here to Get Search Results !

WASPADAI SIFAT MUNAFIK


Oleh: Desi

Pada ayat ke-8 surat Al-Baqarah, mencerminkan ciri orang munafik. Mereka mengaku beriman padahal tidak.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ
Dan di antara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,” padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. (QS. Al-Baqarah: 8)

Mereka juga dijuluki penipu oleh Allah. Mereka mengaku beriman tetapi kenyataannya tidak. 
يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ
Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.(QS. Al-Baqarah: 9)

Pengakuan lisan tentang iman seseorang itu tidak bisa dijadikan patokan bahwa ia benar-benar beriman. Keimanan itu butuh kejujuran antara lisan dan hati. Tidak ada perkataan yang diingkari hatinya dan tidak ada perbuatan yang menzalimi hatinya sendiri. Sebab hati tidak pernah mampu untuk berbohong. Hati akan merasa kecewa saat mulut dan tingkahlakunya tidak sesuai kebenaran. Jika si empunya jeli menangkap sinyal dari hati nurani, maka ia akan menyadari bahwa langkahnya sedang keliru.

Ia merasa enggan untuk berkata bohong, ia pun tidak akan mau menipu. Tetapi jika sinyal kekecewaan dari hati diabaikan maka akan membentuk karakter dengan tabiat yang tidak baik. Suka berbohong, senang menipu, memoles kata demi pencitraan, jaga image demi pujian. Jika itu terus-menerus dilakukan dan menjadi kebiasaan, sungguh hatinya telah berpenyakit. Ia mengeraskan hatinya sendiri, menjadikannya hitam pekat hingga sulit untuk diubah karena bisa jadi telah mengakar kuat.

فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu; dan mereka mendapat azab yang pedih, karena mereka berdusta. (QS. Al-Baqarah: 10)

Mirisnya, kondisi hari ini banyak orang-orang yang mengaku beriman tetapi mempunyai sifat munafik. Suka berkhianat, bermuka dua, berteman tetapi di belakang menggunjing, penjilat dan masih banyak lagi contoh perilaku semacam ini.

Mereka yang munafik juga seringkali mengemukakan banyak alasan demi menghindari ajakan teman menghadiri kajian. Padahal mencari ilmu merupakan bagian dari kewajiban. Diingatkan akan dosa riba, mereka enteng menjawab, "Kalo nggak ngutang ya nggak akan punya apa-apa." Entah konsep dari mana jawaban seperti itu.

Diajak berkata jujur, mereka bilang, "Jadi orang jangan jujur-jujur amat." Selalu ada saja alasan penolakan pada ajakan kebaikan dan kebenaran. Jika langkah kaki kita melangkah bukan pada jalan kebenaran maka ia berjalan mengikuti hawa nafsunya yang diarahkan setan.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ ۗ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَٰكِنْ لَا يَعْلَمُونَ
Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Berimanlah kamu sebagaimana orang lain telah beriman!’ Mereka menjawab, ‘Apakah kami akan beriman seperti orang-orang yang kurang akal itu beriman?’ Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang kurang akal, tetapi mereka tidak tahu. (QS. Al-Baqarah:13)

Seharusnya justru ketika ada yang mengingatkan kita bersyukur, ada orang yang berupaya menuntun kita pada jalan kebenaran. Jangan sampai saat petunjuk datang tetapi lebih memilih jalan lain yang ditunjukkan setan. Jangan sampai menjadi orang yang terkategori "Membeli kesesatan dengan petunjuk."

Matanya telah ditunjukkan pada jalan yang benar yang lurus dan yang selamat, tetapi nafsunya cenderung menempuh jalan yang salah. Lebih memilih untuk menyimpang yang sebenarnya itu mencelakakannya. Didekati oleh orang baik yang mengajak pada ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, justru mereka merasa perlu waspada dan jaga jarak karena khawatir terbawa aliran sesat yang akan mencuci otaknya atau takut dicap radikal dan semacamnya.

Beriman tetapi tidak beramal saleh itu juga termasuk munafik. Seorang yang beriman akan bersikap tegas pada kebenaran yang datang dari Allah dan Rasul-Nya. Tidak menduakan kebenaran yang sudah jelas dalilnya karena itu sangat ditentang oleh agama Islam. Yang haq menjadi pilihan yang batil tidak lentur menjadi haq.

Namun demikian, tidak bisa dipungkiri juga jika perubahan zaman menjadi penyumbang besar dalam kaburnya nilai-nilai kebenaran Islam. Ada tangan-tangan kotor yang tak pernah lelah berjuang menenggelamkan Islam. Jari mereka lincah mengaruskan umat Islam keluar dari koridor syar'i. Lisan mereka fasih menstigma buruk Islam yang memberi efek islamophobia pada diri umat Islam.

Maka untuk mampu melihat jelas warna dari abu-abu yang meragukan dan menyesatkan, kita butuh ilmu Islam yang sesungguhnya dan menyeluruh. Tidak ada jalan lain selain menempuh kajian ilmu dengan kelompok Islam ideologis. Karena Islam itu bukan sekedar agama ritual saja tetapi mabda yang harus diemban setiap pemeluknya dan menerapkan seluruh syariat-Nya.

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ
“dan Allah lebih tahu yang sebenar-benarnya”

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.