TAAT RASULULLAH ADALAH YANG TERBAIK


Oleh: Muslihah

Madinah merupakan tanah pertanian. Meski tidak sehijau Malang dan sekitarnya. Akan tetapi sistem pertanian di Madinah di masa Rasulullah sudah menggunakan sistem irigasi. Rasulullah ﷺ menetapkan bahwa lahan yang berada paling bawah mendapatkan air lebih dahulu. Selanjutnya lahan yang ada setingkat di atasnya. Demikian seterusnya hingga semua mendapatkan jatah air bagi seluruh lahannya.

Namun ada seorang yang menginginkan sawahnya dialiri air terlebih dulu, meski lahan di bawahnya belum terisi. Tentu saja hal ini menimbulkan konflik. Perseteruan tidak bisa dihindari. Mereka menghadap Rasulullah ﷺ. Sayangnya Rasul ﷺ tetap pada aturannya yaitu lahan yang rendah harus diairi lebih dulu.

Sang pengadu tidak terima, kebetulan orang yang diadukan adalah sepupu Rasulullah ﷺ. Maka ia pun mengambil kesimpulan bahwa Rasul memenangkan terdakwa karena ia adalah sepupunya. Hal ini menjadikan Rasulullah ﷺ murka. Merasa tidak mendapatkan keadilan dari Rasulullah ﷺ, Sang Pemimpin tersebut lalu mendatangi Abu Bakar. Maka Abu Bakar pun memutuskan hal yang sama persis dengan keputusan Rasulullah ﷺ.

Ia pun tidak berhenti di situ. Ia merasa pendapatnya sudah benar, maka ia mendatangi Umar bin Khattab. Umar bahkan tidak mempersilahkannya masuk rumah. Ia diminta menunggu di luar rumah, sementara Umar masuk rumah mengambil pedang dan menghunusnya. Sampai di luar rumah dengan menghunus pedang ia langsung menebas leher orang itu. Menurut Umar, jika Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar saja tidak dipatuhi, maka ia hanya mengikuti hawa nafsu saja. Sebab Rasulullah ﷺ tidaklah memutuskan sesuatu kecuali dibimbing oleh wahyu Ilahi. Karena itu hanya pedang yang layak berbicara. Rasulullah ﷺ tidak menyalahkan Umar bin Khattab.

Sayangnya pada hari ini banyak manusia yang tidak mau mengikuti ketentuan Rasulullah ﷺ. Banyak peraturan dan hukum yang ditetapkan dan dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ ditinggalkan. Rasulullah ﷺ tidak pernah berhukum kepada selain hukum Allah. Hukum yang dipakai Rasulullah semua berdasarkan kepada wahyu. Sementara hari ini banyak pemimpin meninggalkan ajaran Rasulullah ﷺ.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اعوذ بالله من الشيطان الرجيم
وَمَا كَا نَ لِمُؤْمِنٍ وَّلَا مُؤْمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗۤ اَمْرًا اَنْ يَّكُوْنَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ اَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا مُّبِيْنًا
"Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata." (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 36)

Jangan sampai ditulis oleh Allah sebagai golongan orang-orang yang tersesat dengan kesesatan yang nyata. Jika saja itu terjadi, maka tidak ada yang mampu membuka hati dan pikirannya untuk menjadi orang yang beruntung. Yaitu orang yang mendapat hidayah dari Allah. Sebab ia telah memilih kedurhakaan dan kemaksiatan daripada ketaatan.

Allah ﷻ adalah Dzat yang adil, bahkan Mahaadil. Namun justru karena Mahaadil itulah lalu Allah ﷻ mengunci hati mereka yang mempermainkan agama-Nya.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اعوذ بالله من الشيطان الرجيم
قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَخَذَ اللَّهُ سَمْعَكُمْ وَأَبْصَارَكُمْ وَخَتَمَ عَلَىٰ قُلُوبِكُمْ مَنْ إِلَٰهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِهِ ۗ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ ثُمَّ هُمْ يَصْدِفُونَ
"Katakanlah (Muhammad), "Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?" Perhatikanlah, bagaimana Kami menjelaskan berulang-ulang (kepada mereka) tanda-tanda kekuasaan (Kami), tetapi mereka tetap berpaling." (QS. Al-An'am 6: Ayat 46)

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ
“dan Allah lebih tahu yang sebenar-benarnya”

Posting Komentar

0 Komentar