MENGAMBIL PELAJARAN DARI AL QUR'AN


Oleh: Muslihah

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اعوذ بالله من الشيطان الرجيم
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْاٰ نَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُّدَّكِرٍ
"Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?" (QS. Al-Qamar 54: Ayat 22)

Sebagai orang beragama Islam yang biasa membaca Al Qur'an (sebab masih banyak yang belum terbiasa), menjadi familiar dengan ayat yang berbunyi :

فَبِاَ يِّ اٰلَآ ءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"

Ayat ini diulang-ulang dalam surat Ar Rahman juz 27. Bisa jadi semua hafal dengan ayat ini. Tentu Allah mempunyai maksud tertentu sampai mengulang kalimat ini berkali-kali sampai 72 kali. Masya Allah.

Ternyata bukan hanya ayat ini satu-satunya yang diulang-ulang dalam Al Qur'an namun ada yang lain:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْاٰ نَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُّدَّكِرٍ
"Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?"

Ini pun diulang sampai empat kali oleh Allah. Pada ayat 17, 22, 23 dan 40. Menarik, bukan? Pada setiap ayat diawali dengan kisah kaum nabi terdahulu, kisah kaum nabi Nuh as, kaum Ad, kaum Samud, kaum nabi Saleh dan kaum nabi Luth as.

Sekarang mari kita perhatikan! Allah berfirman, "Sungguh telah Kami mudahkan Al Qur'an untuk peringatan." Allah yang memudahkan Al Qur'an sebagai peringatan. Bukankah ini bisa diartikan saat manusia menggunakan Al Qur'an sebagai petunjuk, sebagai peringatan, maka jika Allah yang memudahkan. Allah akan menjadikan mudah bagi mereka. Subhanallah.

"Maka adakah yang mau mengambil pelajaran?"

Ini sebuah tantangan agar senantiasa mengambil pelajaran dari Al Qur'an. Bahkan dari kisah-kisah kaum terdahulu. Banyak pelajaran yang bisa diambil, terlebih bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Dan bahwa Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, yaitu menyekutukan-Nya dengan sesuatu.

Pada masa kini masih banyak ditemukan manusia menyekutukan Allah. Bisa dimaklumi jika mereka sejak lahir tidak mengenal iman Islam. Bisa dimaklumi jika tidak atau belum pernah ada dakwah kepada mereka untuk beriman kepada Allah. Namun tidak sedikit mereka yang mengaku beragama Islam, tapi masih mempercayai khurafat dan tahayyul. Masya Allah. Tidak sulit kita menemukan praktek larung saji, membawa sajen ke pepunden, atau bahkan pesugihan, yang dilakukan oleh mereka yang mengaku beragama Islam. Nauzubillah.

Apakah mereka tidak mengambil pelajaran dari umat terdahulu? Tidakkah mereka membaca Al Qur'an yang katanya pedoman hidup? Ah, ya. Bisa jadi mereka memang tidak pernah membaca Al Qur'an. Jadi teringat kajian Online Sahabat Surga Cinta Al-Qur'an yang lalu. Bahwa kemampuan baca tulis Al-Qur'an di Indonesia masih sangat rendah. Lebih dari 60% generasi muslim tidak mengenal baca tulis Al-Qur'an. Astaghfirullah.

Padahal saat ini, Taman Pendidikan Al Qur'an itu menjamur di mana-mana. Tidak sulit mencari guru Al Qur'an. Eh, tapi apa aku saja, ya, yang kebetulan dikelilingi oleh banyak TPQ? Dikecamatan Candi Sidoarjo, lebih dari seratus TPQ tersebar di 18 desa atau kelurahan. Sedangkan di desa Karang Tanjung saja ada enam Taman Pendidikan Al Qur'an.

Sekarang aku berdomisili di desa Pesanggrahan kecamatan Kutorejo Kabupaten Mojokerto. Di dusun Jatisari saja, terdapat setidaknya tiga Taman Pendidikan Al Qur'an. Sementara satu kelurahan ada lima dusun. Wow, bukanlah sangat banyak? Tapi data menunjukkan 60% generasi muslim Indonesia buta huruf Al Qur'an. Bukankah ini sangat miris?

Dalam ayat lain Allah menegaskan bahwa Allah memudahkan manusia mempelajari Al Qur'an. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

فَاِ نَّمَا يَسَّرْنٰهُ بِلِسَا نِكَ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ
"Sungguh, Kami mudahkan Al-Qur'an itu dengan bahasamu agar mereka mendapat pelajaran." (QS. Ad-Dukhan 44: Ayat 58)

Maka sebenarnya tidak ada alasan keberatan mempelajari Al Qur'an. Mempelajari Al Qur'an sama halnya mendatangi Allah. Sedangkan dalam sebuah hadits Qudsi (firman Allah yang disampaikan Rasulullah Saw dengan bahasa beliau) diriwayatkan:

"Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair dan Abu Mu'awiyah dari Al A'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah 'azza wajalla berfirman; Aku bersama dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku akan bersamanya selama ia berdzikir (berdoa) kepada-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam sekumpulan orang maka Aku akan mengingatnya dalam sekumpulan yang lebih baik dan lebih bagus dari mereka. Jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepadanya satu hasta, jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa, dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari." Abu Isa berkata; "Hadits ini derajatnya hasan shahih." Terdapat dalam kitab Jami' At Tirmidzi no 3527.

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ
“dan Allah lebih tahu yang sebenar-benarnya”

Posting Komentar

0 Komentar