KEISTIMEWAAN SURAT AL FALAQ DAN AN-NAS


Oleh: Iha Bunda Khansa

1. Surat Al-Falaq , surat ke 113:

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِۙ
مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَۙ
وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَۙ
وَمِنْ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الْعُقَدِۙ
وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ
Artinya: Katakanlah, "Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar), dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya), dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki."

2. Surat An-Nas, surat ke 114:

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ
مَلِكِ النَّاسِ
إِلَٰهِ النَّاسِ
مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ
الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ
مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ
Artinya: Katakanlah, "Aku berlindung kepada Tuhannya manusia, Raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia."

Di penghujung juz 30 terdapat dua surat yang istimewa dan mempunyai makna yang besar dan mudah dihapal karena kedua surat tersebut pendek.

Surat Al-Falaq dan An-Nas juga merupakan dua surat terakhir dalam Al-Qur'an. Namun dalam urutan turunnya kepada Rasulullah, dua surat ini menempati urutan ke-20 dan ke-21.

Biasanya dibaca ketika kita mohon perlindungan Allah dari segala godaan setan, dan gangguan yang datang di malam hari. Selain itu sering dibaca saat menjelang tidur.

Kedua surat ini disebut Al-Mu'awwidzatain karena bisa menuntun pembacanya mendapatkan perlindungan dari Allah Ta'ala.

Dalam asbabun Nuzul (sebab turunnya surat), Surah Al-Falaq dan An-Naas berkaitan dengan sihir:

Diceritakan dalam Hadis yang diriwayatkan Abu Nu'aim dari Abi Jakfat Ar-Razai Ar-Rabi' bin Anas dari Anas bin Malik dalam Kitab 'Ad-Dalail, suatu hari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (SAW) menderita sakit yang sangat parah.

Maka Allah Ta'ala mengutus dua Malaikat untuk menjenguk beliau. Salah satu Malaikat duduk di sebelah kepala dan yang satunya duduk di bagian kaki. Kedua Malaikat itu terlibat dialog.

"Apa yang kamu lihat terhadap diri Rasulullah?" tanya Malaikat yang berada di bagian kaki.

"Beliau kena sihir," jawab Malaikat yang di bagian kepala. "Siapa gerangan yang menyihirnya?"

Jawab Malaikat: "Labid bin Al-A'sham, seorang Yahudi. Sihirnya berupa ijuk gulungan yang diletakkan di sumur sebelah sana, pada keluarga si anu, di bawah batu besar. Maka timbalah air sumur dan angkatlah batu besar itu, kemudian ambil dan bakarlah ijuk tersebut."

Dari penjelasan Asbabul nuzul di atas hendaklah kita membiasakan untuk selalu membaca kedua surat di atas, memohon perlindungan Allah dari segala gangguan setan.

Oleh karena hendaklah kita senantiasa mendekatkan diri pada Allah dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ
“dan Allah lebih tahu yang sebenar-benarnya”

Posting Komentar

0 Komentar