Type Here to Get Search Results !

MELAKSANAKAN SALAT JUMAT DAN ANCAMAN BAGI YANG MENINGGALKANNYA DENGAN SENGAJA


Oleh: Muslihah

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اعوذ بالله من الشيطان الرجيم
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلٰوةِ مِنْ يَّوْمِ الْجُمُعَةِ فَا سْعَوْا اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۗ ذٰ لِكُمْ خَيْرٌ لَّـكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan sholat pada hari Jum'at, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS. Al-Jumu'ah 62: Ayat 9)

Panggilan Allah ini adalah khusus bagi orang beriman. Hanya orang beriman yang mendapatkan kehormatan diseru oleh Allah untuk menjalankan salat Jumat. Maka, hanya mereka yang berangkat salat Jumat yang berhak mendapatkan predikat beriman. Artinya mereka yang dengan sengaja tidak menjalankan salat Jumat tak patut disebut sebagai orang yang beriman.

Sungguh orang beriman itu tercermin dari perilakunya. Seseorang melakukan salat Jumat atau tidak, tergantung apakah ia beriman atau tidak. Sebab orang beriman selalu merasa diawasi oleh Allah. Kewajiban menjalankan salat Jumat pun tak lepas dari pengawasan Allah. Jika terbersit dalam hati untuk meninggalkan maka bersama itu teringat bahwa Allah mengawasi dan malaikat mencatat. Ia akan urung meninggalkannya.

Perintah salat Jumat bersamaan waktunya dengan salat Zuhur. Pada jam itu merupakan jam sibuk orang bekerja. Ini merupakan salah satu ujian bagi orang beriman. Manakah yang akan ia dahulukan, mendatangi panggilan Allah ataukah mengais rezeki? Jika ia beriman pasti akan mendahulukan panggilan menjalankan salat Jumat. Sebab ia yakin rezeki merupakan pemberian Allah. Sehingga ia tak akan pernah rugi meninggalkan pekerjaan duniawi demi menjalankan perintah yang bersifat ukhrawi.

Sementara bagi orang yang tidak beriman, meninggalkan pekerjaan sama halnya mengurangi kesempatan untuk meraih keuntungan materi (rezeki). Yang ia tahu meninggalkan pekerjaan adalah kehilangan kesempatan meraih keuntungan materi. Baginya seseorang hanya akan mendapat rezeki (keuntungan materi) jika ia giat bekerja. Maka menjalankan salat Jumat merupakan penghalang ia meraih keuntungan materi secara maksimal.

Beberapa hadits Rasulullah Saw melarang meninggalkan salat Jumat. Diantaranya adalah,

مَنْ تَرَكَ الجُمُعَةَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللهُ عَلَى قَلْبِه
Artinya, “Siapa meninggalkan shalat Jumat tiga kali karena meremehkan, niscaya Allah menutup hatinya,” (HR At-Turmudzi, At-Thabarani, Ad-Daruquthni).

Selain itu terdapat riwayat Rasulullah Saw bersabda,

مَنْ تَرَكَ الجُمُعَةَ ثَلَاثًا مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ فَقَدَ نَبَذَ الإِسْلَامَ وَرَاءَ ظَهْرِ
Artinya “Siapa saja yang meninggalkan Jumat tiga kali tanpa uzur, maka ia telah mencampakkan Islam di balik punggungnya,” (HR Al-Baihaqi).

Dalam hadits lain Rasulullah Saw bersabda,

مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَلَمْ يَأْتِهَا، طَبَعَ اللهُ عَلَى قَلْبِهِ، وَجَعَلَ قَلْبَهُ قَلْبَ مُنَافِقٍ
Artinya, “Siapa yang mendengarkan azan shalat Jumat, namun ia tidak mendatangi (seruan tersebut), maka Allah menutup hatinya dan menjadikan hatinya sebagai hati orang kafir munafik,” (HR Al-Baihaqi).

Dalam redaksi yang lain, Rasulullah Saw bersabda,

مَنْ تَرَكَ ثَلَاثَ جُمُعَاتٍ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ كُتْبَ مِنَ المُنَافِقِيْنَ
Artinya, “Siapa saja yang meninggalkan tiga kali ibadah shalat Jumat tanpa uzur, nisacaya ia ditulis sebagai orang kafir nifaq/munafiq,” (HR At-Thabarani).

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda,

مَنْ سَمِعَ الْأَذَانَ ثَلَاثَ جُمُعَاتٍ ثُمَّ لَمْ يَحْضُرْ كُتِبَ مِنَ الْمُنَافِقِينَ
Artinya, “Siapa yang mendengarkan azan pada tiga shalat Jumat, kemudian ia tidak menghadirinya, niscaya namanya ditulis ke dalam golongan orang kafir-munafik,” (HR At-Thabarani)

Bagi orang beriman ancaman Rasulullah menggolongkannya sebagai orang munafik merupakan ancaman yang mengerikan. Sebab tempat kembalinya orang munafik adalah dasar neraka. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ فِى الدَّرْكِ الْاَ سْفَلِ مِنَ النَّا رِ ۚ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيْرًا
"Sungguh, orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka," (QS. An-Nisa' 4: Ayat 145)

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ
“dan Allah lebih tahu yang sebenar-benarnya”

Mojokerto, 11 September 2021

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.