Posted by : Dibalik Islam 24 Mar 2019

Lagi, darah Muslim tertumpah. Sekitar 50 warga Muslim New Zealand di kawasan Christchurch, yang sedang bersiap beribadah shalat Jumat, menjadi korban penembakkan brutal oleh seorang teroris Kristen. Pelaku bukan saja berencana membunuhi warga Muslim. Dia juga berniat menciptakan ketakutan pada kaum Muslimin dunia dengan cara menyiarkan aksi terornya secara live streaming lewat media sosial.

Pelaku dan komplotannya kemudian berhasil dibekuk aparat. Namun, yang menjadi persoalan, mengapa begitu mudah darah umat Muslim di belahan dunia manapun, termasuk di negeri Islam sekalipun, ditumpahkan? Di Suriah, Irak, Rohingya, Kashmir, India dan Uighur nyawa kaum Muslim begitu mudah dicabut, tanpa ada pembelaan sama sekali!


Harga Nyawa Mukmin


Islam adalah satu-satunya agama yang memberikan penghargaan amat tinggi pada darah dan jiwa manusia. Allah SWT menetapkan pembunuhan satu nyawa tak berdosa sama dengan menghilangkan nyawa seluruh umat manusia:

مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي اْلأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا
Siapa saja yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, seakan-akan dia telah membunuh seluruh manusia (TQS al-Maidah [5]: 32).

Allah SWT pun mengancam orang yang menghilangkan nyawa seorang Mukmin dengan ancaman yang sangat keras:

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا
Siapa saja yang membunuh seorang Mukmin dengan sengaja, balasannya ialah Neraka Jahanam. Dia kekal di dalamnya. Allah murka kepada dia, mengutuk dia dan menyediakan bagi dia azab yang besar (TQS an-Nisa`[4]:93).

Begitu cintanya pada jiwa seorang Mukmin, Allah SWT mengancam akan mengazab semua penghuni dan langit seandainya bersekutu dalam membunuh seorang Muslim. Rasul saw. bersabda:

لَوْ أَنَّ أَهْلَ السَّمَاءِ وَأَهْلَ الأَرْضِ اجْتَمَعُوا عَلَى قَتْلِ مُسْلِمٍ لَكَبَّهُمُ اللهُ جَمِيعًا عَلَى وُجُوهِهِمْ فِي النَّارِ
Andai penduduk langit dan penduduk bumi berkumpul membunuh seorang Muslim, sungguh Allah akan membanting wajah mereka dan melemparkan mereka ke dalam neraka (HR ath-Thabrani).

Dalam riwayat lain, kata Ibnu Abbas ra., saat memandang Ka’bah, Nabi saw. pun bersabda, “Selamat datang, wahai Ka’bah. Betapa agungnya engkau dan betapa agung kehormatanmu. Akan tetapi, seorang Mukmin lebih agung di sisi Allah daripada engkau.” (HR al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman).

Adakah agama yang begitu memuliakan dan menjaga nyawa seorang hamba melebihi ajaran Islam? Tidak ada! Karena itulah, sepanjang sejarah penerapan syariah Islam, tak ada darah seorang Muslim pun ditumpahkan, melainkan akan diberikan pembelaan yang besar dari umat dan Daulah Islam. Ibnu Hisyam dalam Sirah-nya menceritakan, ketika ada seorang pedagang Muslim yang dibunuh beramai-ramai oleh kaum Yahudi Bani Qainuqa, karena membela kehormatan seorang Muslimah yang disingkap pakaiannya oleh pedagang Yahudi, Rasulullah saw. segera mengirim para Sahabat untuk memerangi mereka dan mengusir mereka dari Madinah setelah mengepung perkampungan mereka selama 15 malam (Sirah Ibnu Hisyam, 3/9-11).

Pembelaan terhadap kehormatan dan darah kaum Muslim terus dilakukan oleh para penguasa Muslim sepanjang sejarah. Seperti yang dilakukan Sultan al-Hajib al-Manshur (971-1002 M). Ia dikenal oleh Barat sebagai penguasa Muslim dan jenderal di wilayah Andalusia. Ia pernah mengancam penguasa Kerajaan Navarre, salah satu kerajaan yang berada di wilayah Spanyol yang tunduk pada Khilafah Islam, karena diketahui menyekap tiga orang Muslimah di salah satu gereja di wilayah mereka. Sultan al-Hajib al-Manshur segera mengirim pasukan berjumlah besar untuk menghukum Kerajaan Navarre. Penguasa Navarre ketakutan. Dia segera mengirim surat permintaan maaf, lalu melepaskan tiga Muslimah tersebut dan menyerahkan mereka kepada kaum Muslim. Bahkan dia berjanji akan menghancurkan gereja tersebut.


Umat Butuh Pelindung


Umat tak bisa melindungi diri mereka sendiri. Harus ada penguasa yang melindungi mereka. Demikianlah sebagaimana pesan Nabi saw.:

إنَّمَا اْلإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
Sungguh Imam (Khalifah) itu (laksana) perisai; orang-orang akan berperang di belakang dia dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya (HR al-Bukhari, Muslim, an-Nasa’i, Abu Dawud dan Ahmad).

Rasulullah saw., selaku imam kaum Muslim, semasa menjadi kepala Negara Islam Madinah, telah melindungi setiap tetes darah kaum Muslim. Demikian pula Khulafaur-Rasyidun dan para khalifah setelah mereka. Mereka terus melindungi umat dari setiap ancaman dan gangguan. Dengan begitu umat dapat hidup tenang dimanapun mereka berada karena ada yang menjadi pelindung bagi mereka.
Bagaimanakah dengan sekarang? Saat puluhan warga Muslim ditembaki di dalam mesjid di New Zealand, adakah yang melindungi mereka? Adakah yang menuntut balas atas darah yang tertumpah? Belum lagi ratusan ribu nyawa Muslim yang menjadi korban pembantaian di Suriah, Irak, Palestina, Kashmir, Uighur dan Myanmar. Adakah yang membela dan melindungi mereka dari kaum agresor? Tidak ada!

Sampai hari ini pun, kaum Muslim Rohingya yang masih hidup masih terlunta-lunta. Tak bisa kembali ke kampung halaman mereka. Mereka menderita di penampungan. Sekitar satu juta Muslim Uighur juga masih mendekam di kamp konsentrasi pemerintah komunis Cina tanpa ada yang mau menolong mereka. Tragisnya, Raja Saudi Muhammad bin Salman justru mendukung pemerintah komunis Cina melanjutkan program ‘deradikalisasi Islam’ terhadap Muslim Uighur.

Apakah para pemimpin Muslim lupa terhadap firman Allah SWT:

وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ
Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan pembelaan) agama, kalian wajib memberikan pertolongan (TQS al-Anfal [8]: 72).

Tidakkah mereka pernah membaca sabda Nabi saw.:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لاَ يَظْلِمُهُ، وَلاَ يُسْلِمُهُ
Seorang Muslim adalah saudara Muslim yang lain. Janganlah menganiaya dia dan jangan pula menyerahkan dia (kepada musuh)(HR al-Bukhari).

Bagaimana bisa para pemimpin Dunia Islam malah bermesraan dengan penguasa Timur dan Barat yang nyata-nyata menganiaya kaum Muslim seperti Cina, Rusia, AS atau Israel?

Bandingkan dengan sikap para pemimpin Barat usai penyerengan terhadap kantor Majalah Charlie Hebdo di Paris, Prancis beberapa waktu lalu. Mereka serentak turun ke jalan di Kota Paris. Mereka kompak mengutuk keras penyerangan tersebut meski jelas nyata kejadian ini dipicu penghinaan terhadap ajaran Islam.

Lihat pula ketika terjadi serangan terhadap Menara Kembar WTC 11 September 2001, George Bush langsung menyatakan perang terhadap apa yang ia namakan ‘kelompok teroris’. Lalu pada tahun 2003 AS menginvasi Irak bersama sejumlah negara dengan alasan menghukum para ‘teroris’. Hasilnya, setengah juta warga Irak tewas dalam operasi tersebut. Lagi-lagi tanpa pembelaan dan perlawanan. Semua penguasa Muslim diam!

Sekarang, siapa pula yang membela dan melindungi kaum Muslim? Lagi-lagi tidak ada! Padahal serangan terhadap Mesjid di Christchurch pekan lalu dilakukan oleh pelaku karena dorongan kebencian pada Islam. Dalam manifesto 74 halaman yang diunggah pelaku di sosial media, ia mengatakan bila dia memang penganut supremasi kulit putih yang ingin balas dendam terhadap serangan Muslim di Eropa.

Memang tidak semua warga non-Muslim di Barat memiliki kebencian terhadap Islam dan kaum Muslim. Berbagai simpati dan empati berdatangan dari warga dunia kepada korban penembakan.

Namun demikian, kebencian terhadap Islam (Islamphobia) telah meningkat di seantero Eropa dan Amerika Serikatadalah fakta. Sebuah survei yang dilakukan Pew Research Center mengenai Islamophobia, sentimen negatif warga Eropa terhadap Muslim melonjak di sepanjang tahun 2016. Di Inggris, prosentase Islamophobia meningkat hingga 28 persen.

Di Spanyol dan Italia, prosentase masing-masing adalah 50 persen dan 69 persen. Di Yunani prosentasenya 65 persen. Hungaria menduduki tingkat tertinggi dengan angka 72 persen. Di Polandia, Prancis, Jerman, Belanda, dan Swedia berdasarkan laporan, peningkatannya juga terbilang tinggi.

Banyak warga Muslim di Eropa, terutama remaja dan perempuan,dilaporkan mengalami pelecehan secara verbal hingga pemukulan. Sepanjang tahun 2017, sekitar 200 mesjid diserang di seantero Eropa dan Inggris. Ini meningkat dua kali lipat dibandingkan periode sebelumnya.
Meski demikian, tak ada satupun pemimpin Dunia Islam yang merespon penderitaan umat. Para pemimpin umat hanya menjadi macan kertas. Hanya melakukan gertak sambal berisi kecaman kosong. Apakah mereka tidak malu pada remaja ingusan yang berani menghinakan senator Australia yang fasis membenci Islam? Padahal remaja itu non-Muslim dan dia tidak punya kekuasaan sebagaimana para penguasa Muslim itu?

Padahal Allah SWT tegas berfirman:

فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ
Karena itu siapa saja yang menyerang kalian, maka seranglah dia, seimbang dengan serangannya terhadap kalian (TQS al-Baqarah [2]: 194).

Jelas, kaum Muslim membutuhkan pemimpin yang sanggup melindungi dan membela mereka. Bukan pemimpin yang hanya menonton dan berkoar-koar di belakang meja, sementara tangannya tak pernah terulur menyelamatkan kaum Muslim.

Kita membutuhkan Khilafah yang dipimpin seorang imam/khalifah, yang akan menjadi perisai yang melindungi kita. Khilafahlah yang akan menghukum siapa saja yang berani menganiaya kita.[]


Hikmah:

Nabi saw. bersabda:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ
Kehancuran dunia ini lebih ringan di sisi Allah dibandingkan dengan pembunuhan seorang Muslim (HR an-Nasa’i).

Kaffah - Edisi 083

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © 2013 Dibalik Islam - Islamic - Powered by DiazWeb