Popular Post

Posted by : Dibalik Islam 14 Okt 2016


Salah satu tindakan yang haram di dalam Islam adalah melakukan tindakan zalim dan melampaui batas. Dalam bahasa Nabi Muhammad SAW, tindakan demikian dinamakan dengan al-baghyu. Al-Baghyu (bentuk masdar) berasal dari kata: bagha–yabghi, yang berarti “menghendaki”. Dalam perkembangannya, kata ini sering digunakan untuk makna yang negatif; kadang-kadang diartikan durhaka, melanggar hak, permusuhan, penganiayaan atau pelacuran. Dalam Alquran kata al-baghyu diulang sebanyak 11 kali, dengan arti yang berbeda-beda, sesuai dengan konteksnya. Kata al-baghyu dapat diartikan negatif, misalnya, pada surat Al-Baqarah [2]:90, An-Nisaa’ [4]: 19, dapat diartikan: penganiayaan atau perzinaan. Pada surat Hud [10]: 23, dapat diartikan “durhaka”, pada surat Al-An’am dapat diartikan “dosa”.

Dalam arti negatif, al-baghyu sering dimaknai sebagai tindakan zalim atau melampui batas. Al-Baghyu dikaitkan dengan sikap atau tindakan lalim terhadap orang lain (Lihat: Tafsir al-Muyassar, VIII/459).

Al-Baghyu (kezaliman) bisa saja menyangkut badan, jiwa atau nyawa seseorang, yakni berupa tindakan menyakiti orang lain baik secara psikis (misal: melalui kata-kata yang penuh cacian dan penghinaan) maupun fisik (seperti: pemukulan, penyiksaan, pemerkosaan ataupun pembunuhan tanpa alasan yang dibenarkan). Seorang suami yang mencaci-maki dan menghinakan istrinya, apalagi sampai memukulnya tanpa alasan yang dibenarkan, misalnya, jelas telah melakukan tindakan al-baghyu (zalim). Demikian pula seorang anak yang durhaka terhadap kedua orangtuanya, baik dengan ucapan maupun tindakan.

Al-Baghyu (kezaliman) juga bisa menyangkut harta seseorang, yakni berupa tindakan mencuri, merampas, atau merampok harta orang lain dsb. Al-Baghyu (kezaliman) juga bisa terjadi saat seseorang tidak memenuhi kewajibannya terhadap orang lain. Seorang majikan, misalnya, yang telat membayar upah karyawannya apalagi jika tidak membayarnya jelas telah melakukan tindakan al-baghyu (lalim). Apalagi jika ia mempekerjakan karyawannya secara tidak manusiawi.

Al-Baghyu (kezaliman) juga bisa dilakukan oleh penguasa terhadap rakyat. Penguasa yang menelantarkan rakyatnya, tidak mengurus rakyatnya dengan sungguh-sungguh, tidak memenuhi kebutuhan pokok rakyatnya, atau membiarkan rakyatnya banyak yang miskin, jelas adalah penguasa yang lalim. Apalagi jika ia merampas hak-hak rakyatnya, seperti menjual sumberdaya alam milik rakyat kepada pihak swasta atau asing. Semua ini merupakan kezaliman yang nyata.

Di luar itu, al-baghyu juga identik dengan sikap memberontak terhadap penguasa (imam/khalifah) yang sah, yang juga terlarang di dalam Islam, yang sering dikenal dengan istilah bughat.

Lalu apakah orang kafir termasuk orang yang zalim?

Pertanyaan tersebut telah dijawab dalam surah Luqman dan dipertegas dengan hadits Nabi:

ﻭَﺇِﺫْ ﻗَﺎﻝَ ﻟُﻘْﻤَﺎﻥُ ﻟِﺎﺑْﻨِﻪِ ﻭَﻫُﻮَ ﻳَﻌِﻈُﻪُ ﻳَﺎ ﺑُﻨَﻲَّ ﻟَﺎ ﺗُﺸْﺮِﻙْ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ۖ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺸِّﺮْﻙَ ﻟَﻈُﻠْﻢٌ ﻋَﻈِﻴﻢ.ٌ ‏(لقمان:13‏)
“Tatkala Luqman berkata kepada anaknya dan dia menasihatinya: Hai Anakku jangan engkau menyekutukan Allah. Sesungguhnya Syirik/kekafiran adalah Kezaliman Terbesar (QS. Luqman: 13).


قال ﺇﺳﻤﺎﻋﻴﻞ ﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﻛﺜﻴﺮ ﺍﻟﻘﺮﺷﻲ ﺍﻟﺪﻣﺸﻘﻲ ﺃﻱ : ﻫﻮ ﺃﻋﻈﻢ ﺍﻟﻈﻠﻢ

Berkata Syaikh Ismail bin Umar bin Katsir Ibnu Katsir saat memberikan penafsiran terhadap ayat ini: Syirik atau Kekafiran adalah sebesar - besarnya kezaliman.

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻗﺘﻴﺒﺔ ، ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺟﺮﻳﺮ ، ﻋﻦ ﺍﻷﻋﻤﺶ ، ﻋﻦ ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ ، ﻋﻦ ﻋﻠﻘﻤﺔ ، ﻋﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ، ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ، ﻗﺎﻝ : ﻟﻤﺎ ﻧﺰﻟﺖ : ‏( ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺁﻣﻨﻮﺍ ﻭﻟﻢ ﻳﻠﺒﺴﻮﺍ ﺇﻳﻤﺎﻧﻬﻢ ﺑﻈﻠﻢ ‏) ‏[ ﺍﻷﻧﻌﺎﻡ 82 : ‏] ، ﺷﻖ ﺫﻟﻚ ﻋﻠﻰ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ، ﻭﻗﺎﻟﻮﺍ : ﺃﻳﻨﺎ ﻟﻢ ﻳﻠﺒﺲ ﺇﻳﻤﺎﻧﻪ ﺑﻈﻠﻢ ؟ ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : ” ﺇﻧﻪ ﻟﻴﺲ ﺑﺬﺍﻙ ، ﺃﻻ ﺗﺴﻤﻊ ﺇﻟﻰ ﻗﻮﻝ ﻟﻘﻤﺎﻥ : ‏( ﻳﺎ ﺑﻨﻲ ﻻ ﺗﺸﺮﻙ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﺇﻥ ﺍﻟﺸﺮﻙ ﻟﻈﻠﻢ ﻋﻈﻴﻢ ‏).
Dalam riwayat Shahih Bukhari beberapa shahabat bertanya tentang bagaimana mungkin kita beriman dan tidak mencampuri keimanan kita dengan kezaliman?

Maka Nabi menjawab: “Bahwa Kezaliman adalah syirik atau kekafiran seperti yang sudah disampaikan luqman terhadap anaknya.

Al-Baghyu (kezaliman) ini termasuk dosa yang tidak bisa dianggap ringan. Sebabnya, banyak nash yang menegaskan tentang balasan yang keras bagi para pelaku tindakan zalim tersebut. Bahkan balasan keras yang berupa hukuman dari Allah SWT tidak hanya akan dirasakan oleh pelakunya di akhirat saja, tetapi juga akan dia rasakan akibatnya di dunia. Abu Bakrah ra menuturkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah bersabda:

“Tidak ada dosa yang lebih utama untuk disegerakan azabnya oleh Allah SWT atas pelakunya di dunia sementara di akhirat ia akan tetap diazab daripada memutuskan silaturahmi dan bertindak zalim (al-baghyu).” (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

Dalam hadits di atas, tindakan zalim disetarakan dosanya dengan dosa memutuskan silaturahmi, yang juga merupakan dosa yang tidak bisa dianggap ringan.

Al-Baghyu (kezaliman) juga merupakan salah satu dosa di antara banyak dosa yang mesti diwaspadai berdasarkan apa yang dijelaskan oleh Baginda Rasulullah SAW. Dalam hal ini, Abu Hurairah ra berkata:

“Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya umatku bakal ditimpa penyakit sosial.’ Para sahabat bertanya, ‘Apa itu penyakit sosial?” Beliau bersabda, ‘Keburukan, kesombongan, saling membanggakan diri, saling bersaing meraih dunia, saling membenci, saling iri-dengki hingga saling menzalimi (al-baghyu) serta membuat kerusuhan dan pembunuhan.’” (HR Ibn Abi ad-Dunya’).

Sufyan bin Uyainah berkata bahwa seseorang telah berkata berdasarkan penuturan kakeknya, bahwa Nabi Muhammad SAW pernah menasihati seseorang dengan bersabda:

“Aku melarang kamu atas tiga perkara: Janganlah kamu membatalkan janji dan membantu orang lain untuk membatalkan janjinya; kamu harus waspada terhadap tindakan zalim (al-baghyu) karena siapa saja yang berbuat zalim kepada orang lain maka Allah pasti akan menolong orang yang dia zalimi; kamu harus hati-hati terhadap tindakan makar karena makar yang buruk tidak akan menimpa kecuali kepada pelakunya, sementara Allah ‘Azza wa Jalla tetap akan menuntut dirinya.” (HR Ibn Abi ad-Dunya’).

Semoga kita bisa menghindari segala bentuk kezaliman terhadap orang lain supaya kita terhindar dari hukuman Allah SWT yang amat cepat kedatangannya.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © 2013 Dibalik Islam - Islamic - Powered by DiazWeb