Type Here to Get Search Results !

ANTARA ISLAM DAN MUSLIM: KETIKA IDENTITAS TAK LAGI MENCERMINKAN HAKIKAT


Pernahkah kita bertanya, mengapa umat Islam yang jumlahnya mencapai hampir dua miliar jiwa, dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, justru terus-menerus berada dalam kondisi terpuruk? Mengapa negeri-negeri yang mayoritas penduduknya Muslim sering kali menjadi langganan konflik, kemiskinan, dan keterbelakangan? Dan yang lebih memprihatinkan, mengapa ada kesenjangan yang begitu lebar antara Islam sebagai ajaran dengan muslim sebagai penganutnya?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan sekadar renungan akademik. Ia adalah kegelisahan yang dirasakan oleh banyak pihak, termasuk mereka yang telah mempelajari Islam secara mendalam, baik yang lahir sebagai Muslim maupun yang memilih Islam setelah melalui proses pencarian panjang.

Orang-orang muslim saat ini kebanyakan telah mengkhianati Islam.

Pernyataan ini bukanlah hujatan. Ia adalah kritik yang lahir dari keprihatinan. Sebab, ketika perintah pertama yang diterima umat Islam adalah iqra’ (bacalah) kenyataannya minat baca umat Islam berada di peringkat terbawah dunia. Ketika Al-Qur’an menantang umatnya untuk berpikir, banyak di antara kita justru enggan menggunakan akal. Ketika Islam mengajarkan keadilan dan persaudaraan, yang terjadi justru sebaliknya, banyak kelompok yang mengatasnamakan Islam namun mereka menghembuskan perpecahan, fanatisme sempit, dan sikap saling menyalahkan.

Inilah ironi besar yang harus kita hadapi, umat Islam hari ini sering kali lebih sibuk dengan ritual daripada substansi, lebih bangga pada nostalgia masa lalu daripada berusaha mengulang pola kejayaan, dan lebih mudah tersinggung daripada mau berpikir kritis.


Islam adalah Agama yang Menantang Akal


Salah satu ciri khas Islam yang paling membedakannya dari agama-agama lain adalah tuntutannya untuk berpikir. Tidak cukup hanya dengan iman, Islam memerintahkan umatnya untuk menggunakan akal, merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah, dan terus-menerus bertanya “mengapa”.

Dalam Al-Qur’an, terdapat ratusan ayat yang mendorong manusia untuk berpikir, merenung, dan mengambil pelajaran. Bahkan Allah ﷻ mengancam orang-orang yang tidak menggunakan akalnya dengan neraka. Sebuah ancaman yang menunjukkan betapa pentingnya peran akal dalam Islam.

Pendekatan ini sangat berbeda dengan agama-agama lain yang cenderung memisahkan antara iman dan akal. Dalam agama lain, doktrin sering kali diterima begitu saja tanpa perlu pembuktian. Jika ada pertanyaan “mengapa”, jawabannya cukup “karena itu doktrin” atau “karena sudah seperti itu dari dulu”. Dalam Islam, setiap doktrin harus memiliki argumen yang kuat. Tidak ada ruang kosong yang dibiarkan tanpa pertanggungjawaban logis.

Nabi Ibrahim AS, misalnya, tidak pernah menerima keyakinan warisan begitu saja. Ketika melihat kaumnya menyembah patung, ia bertanya: “Mengapa kalian menyembah patung ini?” Jawaban mereka: “Karena nenek moyang kami melakukan seperti ini.” Lalu Ibrahim menjawab dengan pertanyaan yang lebih tajam: “Apakah nenek moyangmu nabi?

Pertanyaan ini menunjukkan bahwa tradisi warisan bukanlah argumen yang sah dalam Islam. Yang sah adalah kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan secara logis, bukan sekadar karena “sudah begitu dari dulu”.

Namun, ketika kita melihat realitas umat Islam saat ini, gambaran yang muncul justru sebaliknya. Mayoritas umat Islam tidak lagi menggunakan akal sebagai alat untuk memahami agama. Mereka menerima ajaran secara dogmatis, tanpa bertanya, tanpa merenung, tanpa menghubungkan dengan realitas kehidupan.

Proses pendidikan agama yang diterapkan di banyak tempat dimulai dari pertanyaan what (apa) dan how (bagaimana), bukan why (mengapa). Anak-anak diajari apa itu salat, bagaimana cara salat, tetapi tidak pernah diajari mengapa mereka harus salat. Mereka diajari apa itu puasa, bagaimana cara puasa, tetapi tidak pernah diajari mengapa puasa itu penting dan bagaimana puasa dapat mengubah hidup mereka.

Akibatnya, agama menjadi sekadar ritual yang dilakukan secara mekanis, tanpa kesadaran mendalam. Orang-orang rajin salat, tetapi perilaku mereka tidak mencerminkan nilai-nilai Islam. Mereka bangga dengan identitas keislaman, tetapi tidak memahami substansi ajaran yang mereka anut. Mereka mengagungkan masa lalu, tetapi tidak pernah belajar dari pola yang membuat masa lalu itu gemilang.

Inilah yang dimaksud dengan mengkhianati Islam. Bukan dalam arti keluar dari agama, tetapi dalam arti mengosongkan ajaran dari substansinya, menjadikan ritual sebagai tujuan akhir, dan melupakan bahwa Islam adalah seperangkat ide yang seharusnya mengubah cara berpikir, cara hidup, dan cara memandang dunia.


Membandingkan Masa Lalu dan Masa Kini


Jika kita melihat ke belakang, pada rentang waktu antara abad ke-7 hingga ke-17 Masehi, peradaban Islam adalah pemimpin dunia. Para ilmuwan Muslim seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Al-Farabi, Ibnu Rusyd, Al-Biruni, dan Al-Haithami menjadi rujukan di bidang kedokteran, matematika, astronomi, fisika, kimia, dan filsafat. Mereka tidak hanya menerjemahkan karya-karya Yunani, tetapi juga mengembangkannya, mengkritiknya, dan menciptakan pengetahuan baru yang menjadi fondasi bagi kebangkitan Eropa.

Apa yang membuat mereka mencapai tingkat keilmuan setinggi itu? Bukan karena mereka orang Arab atau karena mereka berjubah dan bersorban. Mereka mencapai kejayaan karena mereka menerapkan pola berpikir Islam yang diajarkan oleh Al-Qur’an: kritis, rasional, dan selalu bertanya “mengapa”. Mereka tidak menerima pengetahuan secara dogmatis. Mereka menguji, membuktikan, dan mengembangkan.

Ibnu Sina, misalnya, tidak hanya menerima teori-teori kedokteran dari Galen, tetapi juga mengujinya, mengkritiknya, dan menuliskan penemuan-penemuan barunya dalam Al-Qanun fi at-Thibb, sebuah ensiklopedia kedokteran yang menjadi rujukan di Eropa selama berabad-abad. Al-Khawarizmi, yang namanya diabadikan dalam kata algoritma, adalah seorang yang sangat rasional dalam pendekatannya terhadap matematika.

Mereka adalah produk dari sebuah sistem, bukan sekadar individu jenius yang muncul secara kebetulan. Sistem yang memungkinkan mereka berkembang adalah sistem yang menghargai kebebasan berpikir, yang mendorong ijtihad, dan yang menjadikan ilmu pengetahuan sebagai kewajiban agama, bukan sekadar hobi.

Kontras dengan masa keemasan itu, hari ini umat Islam justru terjebak dalam nostalgia. Kita bangga dengan masa lalu, tetapi tidak pernah berusaha memahami pola apa yang membuat masa lalu itu gemilang. Kita mengagungkan nama-nama besar seperti Ibnu Sina dan Al-Khawarizmi, tetapi tidak pernah berusaha menciptakan lingkungan yang memungkinkan munculnya generasi penerus mereka.

Nostalgia, dalam konteks ini, adalah memuja hasil tanpa memahami proses. Sementara belajar dari sejarah adalah memahami pola yang menghasilkan hasil itu, lalu berusaha mengulang polanya, bukan hanya merayakan hasilnya.

Sejarah adalah akar yang menentukan pertumbuhan sebuah pohon. Bangsa yang tidak menghargai sejarah tidak akan pernah berkembang. Namun menghargai sejarah tidak berarti terjebak dalam nostalgia. Menghargai sejarah berarti mempelajari pola, memahami faktor-faktor yang menyebabkan kejayaan, lalu menerapkannya dalam konteks kekinian.


Kembali pada Pola, Bukan Nostalgia


Langkah pertama untuk keluar dari keterpurukan adalah mengembalikan critical thinking sebagai fondasi pendidikan agama. Ini berarti mengubah orientasi pendidikan dari what dan how menjadi why.

Pertanyaan “mengapa” adalah kunci yang membuka pintu pengetahuan. Para ulama zaman dulu memahami hal ini dengan baik. Mereka mengatakan bahwa pertanyaan yang tepat akan membuka ilmu yang tepat. Ilmu adalah tempat penyimpanan, dan pertanyaan adalah kuncinya. Jika hanya memiliki satu kunci, hanya satu pintu yang bisa dibuka.

Dalam konteks ini, Islam harus diajarkan sebagai seperangkat ide yang mengubah cara pandang, bukan sekadar kumpulan ritual. Sebagaimana Rasulullah ﷺ mentransformasi masyarakat Arab dengan ide, bukan dengan ritual. Ritual adalah konsekuensi dari ide, bukan sebaliknya.

Ketika seseorang memahami mengapa ia harus sehat, ia akan pergi ke gym. Tetapi pergi ke gym tidak selalu berarti ia sehat, bisa jadi ia hanya sekadar flexing atau menghindari masalah di rumah. Demikian pula, ketika seseorang memahami mengapa ia harus salat, salatnya akan menjadi sesuatu yang hidup, bukan sekadar gerakan mekanis yang dilakukan karena takut neraka.

Kedua, kita harus belajar membedakan antara nostalgia dan belajar dari sejarah. Nostalgia membuat kita terjebak pada hasil masa lalu. Belajar dari sejarah membuat kita menemukan pola yang menghasilkan hasil itu.

Khawarismi, Ibnu Sina, Al-Farabi, dan Al-Biruni adalah produk dari sebuah sistem yang menghargai kebebasan berpikir, yang mendorong ijtihad, dan yang menjadikan ilmu pengetahuan sebagai kewajiban agama. Jika kita ingin melahirkan generasi penerus mereka, kita harus menciptakan sistem yang sama: sistem pendidikan yang berbasis pada critical thinking, bukan hafalan; sistem politik yang mendorong keadilan dan partisipasi; sistem ekonomi yang berpihak pada rakyat, bukan pada segelintir kapitalis.

Ketiga, kita harus jujur mengakui bahwa masalah utama kita bukan pada Islam, tetapi pada muslim. Islam sebagai ajaran sudah sempurna. Namun muslim sebagai penganut sering kali tidak mencerminkan ajaran yang mereka anut.

Kita perlu berani mengkritik diri sendiri. Kita perlu berani mengatakan bahwa praktik keberagamaan kita sering kali tidak sesuai dengan ajaran Islam. Kita perlu berani mengakui bahwa banyak ustaz dan kiai yang menyampaikan ajaran dengan cara yang tidak mendidik, yang justru membuat orang semakin jauh dari Islam.

Ketika seorang khatib hanya berbicara tentang neraka dan siksaan, tanpa pernah menyentuh realitas yang dihadapi jemaah, tidak heran jika jemaah tidur saat khotbah. Ketika seorang ustaz hanya mengulang-ulang doktrin tanpa pernah menjelaskan mengapa doktrin itu penting, tidak heran jika generasi muda merasa bosan dan akhirnya meninggalkan agama.

Akhirnya, kita harus kembali pada pertanyaan paling mendasar: mengapa kita beragama? Bukan sekadar karena lahir dari keluarga Muslim. Bukan sekadar karena takut neraka. Tetapi karena kita menemukan bahwa Islam adalah kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan secara logis, yang menawarkan solusi bagi problematika kehidupan, dan yang mengantarkan pada kebahagiaan dunia dan akhirat.

Pertanyaan ini harus diajarkan sejak dini. Anak-anak harus dibiasakan untuk bertanya “mengapa”, bukan sekadar menerima apa yang disampaikan. Orang tua dan pendidik harus siap menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan jujur dan ilmiah, bukan dengan kekuasaan atau otoritas semata.


Antara Islam dan Muslim, Pilihan di Tangan Kita


Kesenjangan antara Islam sebagai ajaran dan muslim sebagai penganut adalah fakta yang tidak bisa diingkari. Namun kesenjangan ini bukanlah vonis mati. Ia adalah tantangan yang harus dijawab dengan kesungguhan.

Kita tidak bisa terus-menerus hidup dalam nostalgia masa lalu, membanggakan kejayaan yang sudah berlalu tanpa pernah berusaha mengulang polanya. Kita tidak bisa terus-menerus menyalahkan orang lain atas keterpurukan kita, tanpa pernah introspeksi diri. Kita tidak bisa terus-menerus mengklaim bahwa Islam adalah agama terbaik, sementara kita sendiri tidak menjalankannya dengan baik.

Allah ﷻ telah berjanji dalam surah Ar-Ra’d ayat 11:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ
Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.

Perubahan harus dimulai dari diri sendiri. Dari kebiasaan berpikir kritis. Dari keberanian bertanya “mengapa”. Dari kesungguhan untuk menjadikan Islam sebagai prinsip hidup, bukan sekadar pengetahuan.

Karena pada akhirnya, yang akan dihisab di hadapan Allah bukanlah klaim kita tentang Islam, tetapi sejauh mana kita menjalankan ajaran-Nya dengan kesadaran dan keikhlasan.

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ
“dan Allah lebih tahu yang sebenar-benarnya”

Abu Arslan

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.