Type Here to Get Search Results !

KESESATAN YANG NYATA


Oleh: Honriani Nst

Pada harlah satu abad NU yang diselenggarakan di Sidoarjo, Selasa (7/2/2023) di Sidoarjo Jawa Timur, NU kembali menegaskan posisinya sebagai pihak yang menolak perjuangan penegakan Khilafah Islamiyyah ala Minhajin Nubuwwah dan memposisikan diri sebagai pendukung PBB dan meninggalkan fikih klasik untuk membangun peradaban dengan berbagai dalih berdasarkan anggapan bukan berdasarkan bukti-bukti yang teruji secara normative, empiric, historic dan politik. Hal ini terbaca dari rekomendasi yang mereka hasilkan dari Muktamar Internasional Fikih Peradaban I. Pertanyaannya, bagaimana semestinya sikap umat Islam terhadap rekomendasi NU ini?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu mengetahui isi rekomendasi yang dihasilkan pada Muktamar Internasional Fikih Peradaban I, kemudian memahaminya selanjutnya menilai apakah rekomendasi itu memang layak diikuti oleh umat Islam atau menolak rekomendasi tersebut.

Penulis mencoba menganalisis dan menilainya dalam bentuk poin per poin:

1. Nahdlatul Ulama berpandangan bahwa pandangan lama yang berakar pada tradisi fikih klasik, yaitu adanya cita-cita untuk menyatukan umat Islam di bawah naungan tunggal sedunia atau negara khilafah harus digantikan dengan visi baru demi mewujudkan kemaslahatan umat. (nasional.kompas.com).

Poin ini menunjukkan NU mengakui padahal sebelumnya mereka tidak mengakui bahwa pada fikih klasik ada pembahasan negara khilafah yang mampu menyatukan umat Islam sedunia, hanya saja dalam pandangan NU cita-cita mendirikan negara khilafah tidak akan mampu mewujudkan kemaslahatan umat. Jelas pandangan NU ini bertentangan dengan konsep Khilafah Islamiyyah (Daulah Islam) yang pernah dipraktekkan oleh Rasulullah ﷺ dan diikuti oleh para Khalifah berikutnya, baik Khalafaur Rasyidin, Khilafah Umayyiyah, Khilafah Abbasiyyah, atau pun khilafah Utsmaniyyah. Pada masa itu Daulah Islam mampu mewujudkan kemaslahatan umat baik muslim atau pun non muslim, bahkan para ahli sejarah Barat mengakui keunggulan sistem pemerintahan Khilafah Islamiyyah ini.

Mereka mengakui tidak ada peradaban yang bisa mengungguli peradaban yang dibangun oleh Khilafah Islamiyyah. Hal ini disebabkan Khilafah Islamiyyah mengatur urusan rakyat berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis yang terbukti kebenarannya, bukan berdasarkan Piagam PBB atau teori yang berasal dari buah pikir manusia yang lemah, terbatas, serta sarat mengandung kesalahan.

2. Cita-cita mendirikan kembali negara khilafah yang dianggap bisa menyatukan umat Islam sedunia, namun dalam hubungan berhadap-hadapan dengan nonmuslim bukanlah hal yang pantas diusahakan dan dijadikan sebagai sebuah aspirasi. Sebagaimana terbukti akhir-akhir ini melalui upaya mendirikan negara ISIS, usaha semacam ini niscaya akan berakhir dalam kekacauan dan justru berlawanan dengan tujuan-tujuan pokok agama yang tergambar dalam lima prinsip, menjaga nyawa, menjaga agama, menjaga akal, menjaga keluarga, dan menjaga harta. (nasional.kompas.com).

Poin ini menunjukkan NU memandang bahwa perjuangan penegakan Khilafah Islamiyyah akan membuat umat Islam berhadap-hadapan dengan non muslim yang akan mengakibatkan kekacauan sebagaimana yang dihasilkan dari perjuangan ISIS. Terlalu picik jika umat Islam menilai khilafah yang diperjuangkan oleh umat Islam yang ikhlas sama dengan perjuangan khilafah oleh ISIS karena ISIS hanyalah kelompok yang di design oleh USA untuk mengkriminalkan Khilafah Islamiyyah agar umat Islam menolak perjuangan Khilafah Islamiyyah.

3. Dalam kenyataannya, usaha-usaha untuk mendirikan kembali negara khilafah nyata-nyata bertabrakan dengan tujuan-tujuan pokok agama tersebut dikarenakan usaha semacam ini akan menimbulkan ketidakstabilan dan merusak keteraturan sosial politik. Lebih dari itu jika pun akhirnya berhasil, usaha-usaha ini juga akan menyebabkan runtuhnya sistem negara bangsa serta menyebabkan konflik berbau kekerasan yang akan menimpa sebagian besar wilayah di dunia. (nasional.kompas.com)

Poin ini menunjukkan NU menuduh para pejuang khilafah melakukan perbuatan yang nyata-nyata bertabrakan dengan tujuan-tujuan pokok agama, padahal setiap pejuang khilafah dikader untuk melakukan perbuatan sesuai dengan aturan Islam, dikader untuk taat kepada aturan Islam pada semua aspek kehidupan. Bukankah pandangan NU ini menunjukkan bahwa mereka menilai bahwa pengamalan syariat Islam tidak mampu mewujudkan tujuan-tujuan pokok agama?

Selain itu peryataan ini juga menunjukkan bahwa NU menerima konsep negara bangsa yang merupakan hasil kesepakatan aliansi keluarga kristen Eropa (cikal bakal PBB) dalam rangka mencegah munculnya kembali kekuatan umat Islam dalam negara Khilafah Islamiyyah. Perlu umat Islam fahami bahwa PBB berdiri bukan berdasarkan kesepakatan umat Islam dengan kaum kafir, tapi merupakan kesepakatan antara lima negara besar saat itu, Inggris, Prancis, China, Uni Sovyet, dan Amerika untuk menghambat bangkitnya kembali Khilafah Islamiyyah yang telah mereka hancurkan pada Perang Dunia I. Kelima negara ini merupakan negara yang berperan untuk menghancurkan Khilafah Utsmani, saat itu tidak ada satu pun negeri kaum muslim yang ikut menandatangani. Jadi keberadaan negeri-negeri kaum muslim seperti Turki, Indonesia dan lain-lain sebagai anggota PBB hanya sebagai pendukung kelima negara ini meraih tujuannya untuk menghambat bangkitnya kembali umat Islam melalui negara Khilafah Islamiyyah.

4. Sejarah menunjukkan, kekacauan karena perang pada akhirnya akan selalu didampingi dengan penghancuran yang luas atas rumah ibadah, hilangnya nyawa manusia, hancurnya akhlak, keluarga, dan harta benda. Dalam pandangan Nahdlatul Ulama, cara yang paling tepat dan manjur untuk mewujudkan kemaslahatan umat Islam sedunia adalah dengan memperkuat kesejahteraan dan kemaslahatan seluruh umat manusia, baik muslim atau nonmuslim serta mengakui adanya persaudaraan seluruh manusia anak cucu Adam. (nasional.kompas.com)

Poin ini menunjukkan pandangan NU tentang peperangan, hanya saja mereka lupa bahwa dunia di bawah komando PBB tetap dalam keadaan tidak damai, tetap ada peperangan di beberapa wilayah. PBB tak pernah sukses melepaskan rakyat Palestina dari kebrutalan Israel, ironisnya PBB malah diam dengan berbagai aksi brutal Israel kepada rakyat Palestina. Hal yang wajar, karena keberadaan Israel di bumi Palestina atas restu USA, negara yang sangat berperan dalam PBB untuk menyibukkan umat Islam dengan masah Palestina dan membuat Islam lupa tentang perjuangan penegakan Khilafah Islamiyyah. Menjaga perdamaian dunia yang tercantum dalam Piagam PBB hanya omong kosong saja.

5. Perserikatan Bangsa-Bangsa berikut piagamnya memanglah tidak sempurna dan harus diakui masih mengandung masalah hingga saat ini. Namun demikian, Piagam PBB itu dimaksudkan sejak awal sebagai upaya untuk mengakhiri perang yang amat merusak dan praktik-praktik biadab yang mencirikan hubungan internasional sepanjang sejarah manusia. Karena itu piagam PBB dan PBB itu sendiri bisa menjadi dasar yang paling kokoh dan yang tersedia untuk mengembangkan fikih baru guna menegakkan masa depan peradaban manusia yang damai dan harmonis. (nasional.kompas.com)

Poin ini menunjukkan bahwa NU mengakui ketidaksempurnaan piagam PBB tapi anehnya NU lebih memilih Piagam PBB yang tak sempurna dari pada memilih Islam untuk membangun peradaban. Bukankah kalimat ini juga menunjukkan bahwa NU lebih meyakini Piagam PBB untuk mengatur dunia daripada Al-Qur’an dan As-Sunnah? Pernyataan mereka ini juga menunjukkan bahwa NU menjadikan Piagam PBB sebagai landasan membangun peradaban baru serta meninggalkan Al-Qur’an. Bukankah kerusakan dunia saat ini karena umat manusia tunduk kepada Piagam PBB dan meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah?

6. Daripada bercita-cita dan berusaha untuk menyatupadukan seluruh umat Islam dalam negara tunggal sedunia, yaitu negara khilafah, Nahdlatul Ulama memilih jalan lain, mengajak umat Islam untuk menempuh visi baru, mengembangkan wacana baru tentang fikih. Yaitu fikih yang akan dapat mencegah eksploitasi atas identitas, menangkal penyebaran kebencian antargolongan, mendukung solidaritas, dan saling menghargai perbedaan di antara manusia, budaya, dan bangsa-bangsa di dunia, serta mendukung lahirnya tatanan dunia yang sungguh-sungguh adil dan harmonis, tatanan yang didasarkan pada penghargaan atas hak-hak yang setara serta martabat setiap umat manusia. Visi yang seperti inilah yang justru akan mampu mewujudkan tujuan-tujuan pokok syariah. (nasional.kompas.com)

Poin ke enam ini menunjukkan bahwa NU resmi menjadikan negara barat sebagai metode dan kiblat untuk membangun peradaban, mereka meninggalkan metode dakwah rasul dalam membangun peradaban. Sekaligus juga NU gagal membaca fakta perpolitikan internasional hingga mereka tersesat mengikuti orang-orang yang sesat. Mereka meninggalkan Al-Quran dan menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin mereka.

Sebagai penutup, mari kita renungkan ayat al-Qur’an berikut:

قُلْ هُوَ الرَّحْمَنُ آمَنَّا بِهِ وَعَلَيْهِ تَوَكَّلْنَا فَسَتَعْلَمُونَ مَنْ هُوَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (29)
Katakanlah, "Dialah Allah Yang Maha Penyayang, kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nya kami bertawakal. Kelak kamu akan mengetahui siapakah dia yang berada dalam kesesatan yang nyata. (QS. Al-Mulk [67]: ayat 29)

Ayat ini merupakan tuntunan kepada umat manusia untuk beriman hanya kepada Tuhan semesta alam, Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Juga tuntunan kepada manusia untuk bertawakal hanya kepada-Nya. Berusaha sesuai dengan aturan Allah dan menyerahkan hasil setiap usaha kepada Alah ﷻ. Ayat ini ditutup Allah dengan pernyataan bahwa kelak manusia akan mengetahui siapakah yang berada dalam kesesatan yang nyata.

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ
“dan Allah lebih tahu yang sebenar-benarnya”

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.