Type Here to Get Search Results !

UMMATAN WAHIDAH


Oleh: Honriani Nst

Allah ﷻ memberikan petunjuk kepada manusia. Jika manusia mengikuti petunjuk Allah ﷻ, maka manusia akan menjadi manusia yang beriman yang taat pada semua aturan Allah ﷻ. Allah menciptakan balasan kepada mereka berupa nikmat syurga dan ketenangan hidup di dunia. Sedangkan bagi orang-orang yang tidak mengikuti petunjuk dari Allah ﷻ mereka akan berada dalam kesesatan/kekufuran yang selalu melanggar aturan Allah ﷻ. Allah sediakan balasan bagi orang-orang yang tidak mengikuti petunjuk ini berupa siksa yang pedih di neraka dan kesempitan /kesengsaraan hidup di dunia.

Allah ﷻ memerintahkan umat manusia untuk melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Orang yang melakukan perintah Allah ini adalah para Nabi dan dilanjutkan oleh pengemban dakwah. Para pengemban dakwah akan banyak menghadapi tantangan saat mereka melakukan aktivitas amar mafruf nahi mungkar. Kesulitan itu berupa perlawanan langsung dari orang-orang yang memperturutkan hawa nafsu. Para pemuja hawa nafsu bisa saja menyiksa para pengenmban dakwah atau bisa juga berupa abainya mereka terhadap ajakan para pengemban dakwah ini.

Saat para pengemban dakwah mengajak manusia untuk meninggalkan riba, mereka malah makin menyuburkan riba dengan iklan-iklan yang berseliweran di sosial media yang sangat mudah diakses oleh umat manusia. Saat para pengemban dakwah mengajak manusia untuk menjalani kehidupan sesuai dengan aturan Allah, para pemuja hawa nafsu akan mengemas berbagai kemaksiatan dengan kemasan yang cantik hingga tidak sedikit umat manusia yang terkecoh.

Begitulah yang terjadi pada program moderasi beragama yang digalakkan oleh pemerintah melalui berbagai departemen dengan departemen agama sebagai komandonya. Padahal moderasi beragama itu merupakan agenda Barat untuk menjauhkan umat Islam dari ajaran Islam. Sebuah program Kafir Barat yang menggiring umat Islam memiliki perasaan sudah menjalankan aturan Allah ﷻ, padahal hakikatnya mereka semakin terjerumus dalam kesesatan. Disangka telah mengamalkan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin, padahal terjerumus pada kemaksiatan yang membuat manusia makin sengsara.

Sebagai contoh kondisi umat Islam yang rela hadir pada perayaan natal di gereja atau pejabat muslim yang merasa tidak bersalah saat mengucapkan selamat pada umat Nasrani yang sedang merayakan natal.

Kondisi umat yang senang melakukan kemaksiatan tidak boleh menyurutkan semangat dakwah para pengemban dakwah. Pengemban dakwah tetap bergerak menyerukan keagungan ajaran Islam dan terus membongkar keburukan sistem demokrasi yang terlahir dari ide sekulerisme yang mengharamkan aturan Allah untuk mengatur kehidupan manusia. Para pengemban dakwah tetap menyadari bahwa Allah melihat setiap perbuatan mereka dan Allah akan membalas setiap amal dakwah yang mereka lakukan dengan balasan terbaik. Masalah orang akan mau ikut atau melawan seruan dakwahnya itu merupakan hak prerogative Allah.

Pengemban dakwah selalu menyadari bahwa jika Allah berkehendak, bisa saja Allah menjadikan semua umat manusia ini menjadi orang yang taat kepada-Nya. Tapi Allah ﷻ tidak menciptakan keadaan umat sebagai umat yang satu (ummatan wahidah) sebagai umat yang sama-sama taat kepada-Nya. Hal itu tidak lain sebagai ujian bagi para pengemban dakwah. Hal ini sudah dinyatakan Alah dalam ayat cinta-Nya pada surat Asy-Syura ayat 8 berikut:

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَهُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ يُدْخِلُ مَنْ يَشَاءُ فِي رَحْمَتِهِ ۚ وَالظَّالِمُونَ مَا لَهُمْ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ
Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Allah menjadikan mereka satu umat (saja), tetapi Dia memasukkan orang-orang yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Dan orang-orang yang zalim tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dan tidak pula seorang penolong.

Pada ayat ini Allah ﷻ mengatakan:

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَهُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً
Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Allah menjadikan mereka satu umat (saja).

Adakalanya dalam hidup ada hidayah dan kesesatan, tetapi Dia memisahkan di antara mereka, maka Dia memberi petunjuk kepada jalan yang benar siapa yang dikehendaki-Nya, dan menyesatkan dari jalan yang benar siapa yang dikehendaki-Nya.

Dia dalam tindakan-Nya mengandung hikmah dan alasan yang sangat tepat, karena itulah disebutkan dalam kelanjutan ayatnya:

وَلَكِنْ يُدْخِلُ مَنْ يَشَاءُ فِي رَحْمَتِهِ وَالظَّالِمُونَ مَا لَهُمْ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ
tetapi Dia memasukkan orang-orang yang dikehendakiNya ke dalam rahmatNya. Dan orang-orang yang zalim tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dan tidak pula seorang penolong.

Bermodalkan ayat-ayat cinta dari Allah ﷻ, pengemban dakwah tidak akan bisa dilemahkan oleh berbagai perlawanan yang dilakukan oleh orang-orang kafir dan kroni-kroninya. Karena pengemban dakwah menyadari bahwa Allah ﷻ selalu melindungi mereka dan Allah akan memberikan pertolongan kepada mereka pada saat yang tepat. Saat itu umat Islam akan bersatu menghancurkan segala kemaksiatan yang dilakukan oleh orang-orang kafir di bawah naungan Khilafah Islamiyyah ala minhjain nubuwwah.

Sangat berbeda halnya dengan keadaan orang kafir, bagi mereka tidak ada pelindung dan tidak ada penolong, bahkan sesama mereka pun mereka akan saling tuding, saling curiga dan saling menjatuhkan.

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ
“dan Allah lebih tahu yang sebenar-benarnya”

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.