Type Here to Get Search Results !

KISAH KELUARGA YASIR


Oleh: Muslihah

Yasir dan Sumayyah adalah pasangan budak di masa awal Rasulullah Saw diutus. Mereka memiliki seorang anak bernama Ammar. Saat itu orang kafir Quraisy sangat memusuhi dakwah Rasulullah Saw. Mereka yang beriman bisa dipastikan akan mendapatkan gangguan dari orang kafir. Terutama mereka yang miskin atau apalagi menjadi budak.

Kafir Quraisy saat itu membedakan perlakuan terhadap orang muslim. Jika kepada orang miskin dan kaum budak mereka berani menyiksa dan memaksa agar murtad meninggalkan agama Islam dan kembali menyembah berhala. Pada mereka yang memiliki pengaruh di masyarakat atau orang bangsawan, orang kafir mengancam akan menjatuhkan kehormatan dan merusak bisnis mereka.

Sedangkan saat itu Rasulullah Saw belum memiliki institusi negara Islam. Maka beliau tidak bisa berbuat banyak kecuali membesarkan hati mereka dengan meminta mereka sabar. Rasulullah Saw juga memberi kabar gembira bahwa Yasir dan keluarga adalah penghuni surga.

Bani Makhzum yang diserahi oleh kaum kafir Quraisy untuk menyiksa keluarga tersebut. Penyiksaan yang diluar batas perikemanusiaan. Tubuh Sumayyah ditusuk dengan tombak hingga meregang nyawa. Sedangkan tubuh Yasir diikat tangan dan kakinya, terhubung dengan kaki kuda. Empat ekor kuda disiapkan menuju empat penjuru berbeda. Kemudian kuda-kuda itu dihela agar berlari. Tubuh Yasir pun terputus menjadi empat. Yasir syahid didalam penyiksaan.

Saat mereka belum meninggal dan masih dalam penyiksaan Rasulullah Saw mengunjungi mereka, mengelus wajah, mengusap air mata mereka dengan hati hancur karena tidak bisa menolong dan meminta agar tetap sabar.

"Bersabarlah keluarga Yasir, sungguh tempat kalian adalah di surga."

"Aku sudah melihatnya, Ya Rasulullah," jawab Sumayyah dalam penyiksaan.

Sepeninggal ayah ibunya, Ammar pun menjadi sasaran penyiksaan oleh orang-orang kafir Quraisy. Mereka membakar Ammar bin Yasir hingga ia mengeluh kepada Rasulullah,

"Wahai Rasulullah, kami sudah tidak kuat lagi menahan siksaan."

Dahsyatnya siksaan yang diterima Ammar mengakibatkan ia tidak sadar dengan apa yang diucapkan. Ia dipukul, dibakar, ditenggelamkan hingga tidak bisa bernapas. Pada saat Ammar tidak sadar orang kafir mengulang-ulang kata pujian kepada tuhan berhala mereka. Hingga diluar sadarnya Ammar turut mengucapkan apa yang diucapkan mereka.

Saat kesadarannya pulih, Ammar menyesalinya. Jika selama ini ia kuat menahan siksaan orang kafir karena yakin imannya kuat dan diterima Allah, maka saat menyadari ucapannya ia merasa hancur. Penyesalan yang teramat besar sehingga tidak bisa ditebus dengan apapun. Rasa hancur yang ia rasakan jauh lebih pedih dari pada siksaan yang ia terima dari orang kafir. Hingga seandainya ia dibiarkan larut dalam penyesalan ia bisa mati akibat hal itu. Ini memperparah rasa sakit di sekujur tubuhnya akibat siksaan. Dalam keadaan demikian Rasulullah menjenguknya. Ammar menangis dan menceritakan ucapan di luar kesadarannya.

Rasulullah Saw menghiburnya dengan menyampaikan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam surat An Nahl: 106,

اعوذ بالله من الشيطان الرجيم
مَنْ كَفَرَ بِا للّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ اِيْمَا نِهٖۤ اِلَّا مَنْ اُكْرِهَ وَقَلْبُهٗ مُطْمَئِنٌّ بِۢا لْاِ يْمَا نِ وَلٰـكِنْ مَّنْ شَرَحَ بِا لْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللّٰهِ ۚ وَلَهُمْ عَذَا بٌ عَظِيْمٌ
"Barang siapa kafir kepada Allah setelah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan mereka akan mendapat azab yang besar."

Mendengar ayat itu, Ammar seperti mendapat kekuatan baru. Ia bagaikan tidak merasa sakit meski sepedih apapun siksaan itu. Lama kelamaan justru orang-orang yang menyiksa lelah sendiri dan merasa remeh di hadapan Ammar. Demikianlah kisah Ammar bin Yasir yang terpaksa mengucapkan kalimat murtad, pun itu ia sedang tidak sadar. Karenanya Allah mengampuni ucapan di luar kesadaran.

Kisah ini tentu sangat berbeda dengan peristiwa beberapa hari terakhir tentang seorang tokoh masyarakat yang menukar iman Islam dengan agama Hindu.

اللهم ثبت قلوبنا على دينك
Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu” (HR al-Nasai')

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ
“dan Allah lebih tahu yang sebenar-benarnya”

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.