Type Here to Get Search Results !

AKAL MANUSIA PUNYA POTENSI UNTUK MEMILIH


Oleh: Emmy Emmalya

Ada sebagian manusia saat ini yang menganggap orang yang terikat dengan aturan agamanya hidupnya terlalu kaku sehingga tidak bisa hidup layaknya orang kebanyakan.

Padahal keterikatan manusia terhadap keyakinannya adalah sebuah kewajiban, karena agama itu diambil berdasarkan proses berpikir bukan terhenti pada agama keturunan atau karena ikut orang kebanyakan.

Seorang yang beragama melalui proses berpikir maka dia akan menjadi sosok yang taat karena dia menyakini terhadap agama yang dia ambil. Karena dia memahami konsekuensi beragama itu berefek pada kehidupan di masa kini (dunia) dan masa yang akan datang (akherat).

Oleh karena itu aturan agama tidak boleh dipermainkan begitu saja ada konsekuensi ikutan dari penerapannya. Apalagi dalam Islam ketika sudah memilih Islam sebagai sebuah keyakinan maka konsekuensinya harus terikat dengan syariatnya.

Maka adalah hal yang aneh apabila ditemukan di masyarakat seorang yang mengaku muslim tapi sikap dan ucapannya tidak mencerminkan sebagai seorang muslim.

Padahal Allah telah menurunkan petunjuk kepada manusia berupa Al Qur'an dan Al-Hadits melalui utusan-Nya yaitu Rasulullah Saw.

Allah telah menerangkan didalamnya jalan ketakwaan dan jalan kesesatan sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam surat As-Syam ayat 7-8 :

وَنَفْسٍ وَّمَا سَوّٰٮهَا
فَاَ لْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰٮهَا
"demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya."

Dari ayat ini sangat jelas bahwa Allah tidak hanya menciptakan manusia begitu saja tanpa arahan tapi Allah memberikan peta jalan bagaimana seharusnya manusia menjalani kehidupan di dunia ini sehingga bisa sampai ke akherat nanti dengan selamat.

Tentu saja jika menginginkan kebahagiaan di dunia dan akherat maka kita harus tunduk dan taat pada aturan Rabb pencipta alam semesta yaitu Allah Swt.

Jika kita berpaling, maka azab Allah-lah yang akan kita dapatkan. Oleh karena itu manusia diberikan pilihan oleh Allah apakah akan memilih jalan takwa ataukah jalan sesat.

Pilihan ada pada manusia, tentu dengan diberikan potensi akal sebagai alat untuk berpikir. Maka manusia itu pada dasarnya memiliki potensi yang sama, jika dia memilih jalan kesesatan maka dia akan menjadi penentang Syariat Allah, tapi jika dia memilih jalan takwa maka dia akan menjadi manusia yang taat dan patuh pada syariat Allah Swt.

Tinggal sekarang mau memilih jalan yang mana? Apakah menjadi manusia penentang syari'at atau menjadi pejuang syari'at?

Al Qur'an sudah sempurna diturunkan tinggal manusia mau mempelajari dan memahaminya. Manusia pasti akan ditanya di yaumil akhir nanti mengapa tidak menerapkan apa yang terkandung dalam Al Qur'an? Padahal Allah sudah menurunkan Al Qur'an melalui Rasululllah yang kemudian ajarannya dilanjutkan oleh para Sahabat, Tabi'in dan Tabi'ut Tabi'in serta Salafus sholeh.

Apalagi sarana untuk mempelajari dan memahami Al Qur'an melalui seorang guru, saat ini sangat mudah untuk didapatkan karena tehnologi sangat mendukung. Lain halnya jika berada di daeah yang terpencil dan tak terjamah oleh tehnologi.

Maka alangkah naifnya jika dengan kemudahan yang dirasakan saat ini tapi manusia tidak mau mempelajari dan memahami apa yang telah Allah turunkan berupa Al Qur'an dan Al Hadits.

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ
“dan Allah lebih tahu yang sebenar-benarnya”

Bogor, 13 September 2021

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.