Type Here to Get Search Results !

ORANG MUNAFIK VS ORANG BERIMAN


Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اعوذ بالله من الشيطان الرحيم
وَمِنَ النَّا سِ مَنْ يَّقُوْلُ اٰمَنَّا بِا للّٰهِ وَبِا لْيَوْمِ الْاٰ خِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِيْنَ
"Dan di antara manusia ada yang berkata, "Kami beriman kepada Allah dan hari akhir," padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 8)

Ayat ini menceritakan tentang orang-orang yang mengaku beriman tetapi perilakunya tidak mencerminkan orang yang beriman. misalnya mengaku sebagai orang islam tetapi tidak mau menjalankan perintah dalam agama Islam. Ia tidak pernah melaksanakan salat, enggan berzakat dan tidak menutup aurat. Bahkan terbiasa menjalankan larangan-larangan Allah. Misal bergunjing, minum minuman keras bahkan berzina.

Pada zaman sekarang orang-orang semacam ini mudah sekali ditemukan. Saking banyaknya hingga sulit mencari orang yang benar-benar beriman. Sehingga orang yang beriman menjadi sesuatu yang aneh di komunitas mereka. Bagaimana tidak seorang muslim yang mengenakan busana tertutup berada di tengah-tengah orang yang berbusana kekurangan bahan. Bukankah hal yang demikian menjadi terlihat aneh?

Di sebuah kantor dimana hampir semua orang melakukan tindakan korupsi, suap menyuap, maka jika ditemukan di antara mereka ada yang jujur tidak mau melakukan korupsi atau suap menyuap, orang demikian akan justru dikucilkan oleh komunitasnya. Keberadaannya di kantor itu akan menjadi sesuatu yang mengganggu bagi teman-temannya. Bukan tidak mungkin ia akan dibully atau bahkan difitnah oleh mereka. Yang demikian itu karena orang beriman dianggap membahayakan eksistensi mereka.

Saat di pasar atau di toko melakukan kebohongan dan penipuan terhadap pembeli itu hal yang biasa. barang yang buruk dicampur kepada barang yang baik agar mendapatkan harga barang yang baik itu itu sudah biasa.

Pesta dengan dansa, campur baur antara laki-laki dan perempuan, berpakaian mini nan seksi bahkan diselingi dengan minum minuman keras adalah sesuatu yang biasa bagi mereka. Andaikata di sana ada seseorang yang memakai pakaian tertutup, mengenakan jilbab dan kerudung lengkap dengan kaus kaki akan menjadi sesuatu yang aneh.

Bahkan karena sejak kecil tidak pernah mengenal aturan Islam, akibat pola asuh orang tuanya yang hanya memberikan kesenangan duniawi saja. Mereka bahkan tidak mengenal bagaimana cara salat. Akan tetapi ketika ditanya apa agamanya, mereka menjawab beragama Islam karena di KTP mereka tertera demikian. Itu pun melihat KTP lebih dulu baru menjawabnya. Ma syaa Allah.

Semua ini berawal dari sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Seakan-akan sejarah agama hanya cukup berada di masjid saja. Jika berada di kantor, di pasar atau di luar masjid maka tidak perlu membawa-bawa nama agama ataupun Tuhan di sana. Sehingga perilaku apapun dianggap tidak ada hubungannya dengan agama. ketika orang terbiasa melanggar aturan Tuhan maka ia pun tidak akan segan melanggar aturan sesama manusia. Undang-undang ataupun tata tertib hanya menjadi hiasan yang tidak pernah diterapkan.

Ditambah lagi sistem kapitalis yang segalanya diukur dengan uang. Semboyan waktu adalah uang dan mengeluarkan modal seminimal mungkin untuk mendapatkan hasil yang maksimal, hanya ada dalam sistem kapitalis. Inilah yang menyebabkan orang tidak takut melakukan kecurangan di pasar, atau korupsi di kantor. yang ada dalam benak mereka hanya bagaimana meraih keuntungan yang sebesar-besarnya dalam sebuah bisnis.

Karena dalam Islam semua harus berdasarkan kepada aturan Allah. Setiap perilaku ada hukumnya masing-masing, wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram. Walaupun pada dasarnya setiap sesuatu itu mubah, tetapi kemudian benda (hususnya makanan dan minuman), dihukumi dengan halal dan haram. Yang paling mendasar segala sesuatu didasarkan oleh aqidah, di mana meyakini bahwa setiap amal perbuatan dicatat oleh malaikat dan disaksikan oleh Allah kelak akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah.

Hal demikian ini menjadikan manusia dalam sistem Islam tidak melakukan kecurangan. Kesadaran bahwa setiap saat dia diawasi oleh Allah dan dicatat oleh malaikat. Baik dan buruknya perbuatan di dunia, mereka akan menuai di akhirat nanti. Inilah yang membedakan antara sistem Islam dengan sistem kapitalis.

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ
“dan Allah lebih tahu yang sebenar-benarnya”

Mojokerto, 19 Juli 2021

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.