JANGAN GENTAR MELAKUKAN AMAR MAKRUF NAHI MUNGKAR


Setiap perintah Allah SWT pasti membawa kebaikan dan kemanfaatan. Setiap larangan-Nya pasti membawa keburukan dan kemadaratan. Untuk memastikan hukum Allah SWT tegak, Islam memiliki perangkat berupa dakwah dan amar makruf nahi mungkar (menyerukan kebaikan dan melarang kemungkaran) yang wajib dijalankan.

Pelaku kemungkaran atau kezaliman bisa siapa saja. Individu, kelompok atau penguasa. Kemungkaran individu, menurut Imam al-Ghazali dalam Ihyâ’ ‘Ulûmiddîn, bermacam-macam dan berbagai tempat. Kemungkaran bisa terjadi di masjid, di pasar, di jalanan, dan sebagainya. Dalam konteks kekinian, tentu tempat kemungkaran itu semakin luas dan banyak. Bisa di tempat rekreasi, tempat hiburan, hotel, penginapan, salon, kafe, bioskop, kampus dan sebagainya.

Kemungkaran juga bisa dilakukan secara berkelompok, misalnya kemungkaran segerombolan perampok. Contoh lain adalah kelompok sekular yang menyebarluaskan ide, program atau langkah yang menyalahi Islam. Mereka juga mengadopsi ide liberal yang menafsirkan Islam agar tunduk pada kaidah-kaidah ideologi kapitalisme-sekular.

Kemungkaran bisa juga dilakukan oleh penguasa. Bahkan dengan kadar yang jauh lebih besar dan lebih luas. Misalnya, saat penguasa menjadikan sekularisme sebagai dasar kehidupan bernegara. Mereka menolak syariah Islam. Mereka menjalankan sistem demokrasi dalam bidang politik dan sistem kapitalisme dalam bidang ekonomi. Mereka pun melakukan kriminalisasi kepada ulama dan organisasi Islam dengan cap radikal.


Keutamaan Amar Makruf Nahi Mungkar


Amar makruf nahi mungkar adalah kewajiban penting dalam Islam dan mengandung banyak keutamaan. Di antara keutamaannya, amar makruf nahi mungkar merupakan ciri khas kaum Mukmin sekaligus menjadi ciri umat terbaik. Allah SWT berfirman:

وَٱلمُؤمِنُونَ وَٱلمُؤمِنَٰتُ بَعضُهُم أَولِيَاءُ بَعض يَأمُرُونَ بِٱلمَعرُوفِ وَيَنهَونَ عَنِ ٱلمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَيُطِيعُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَٰئِكَ سَيَرحَمُهُمُ ٱللَّهُ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيم
Orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. Mereka melakukan amar makruf nahi mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat serta mentaati Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (TQS at-Taubah [9]: 71).

Inilah salah satu ciri khas kaum Mukmin. Berbeda dengan kaum Bani Israil terlaknat yang tidak melarang kemungkaran di antara mereka (QS al-Maaidah [3]: 79). Berbeda pula dengan kaum munafik yang malah melakukan amar mungkar nahi makruf (QS at-Taubah [9]: 67).

Kemuliaan umat Muhammad saw. juga antara lain karena amar makruf nahi mungkar yang mereka lakukan. Allah SWT berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia; melakukan amar makruf nahi mungkar dan mengimani Allah (TQS Ali Imran [3]: 110).

Berkaitan dengan ayat di atas, Imam Ahmad rahimahulLah meriwayatkan hadis dari Durrah binti Abu Lahab yang berkata: pernah ada seseorang berdiri menghadap Nabi saw. Ketika itu beliau berada di mimbar. Orang itu berkata, “Ya Rasulullah, siapakah manusia terbaik? Beliau bersabda, “Manusia terbaik adalah yang paling hafal al-Quran, paling bertakwa kepada Allah, paling giat melakukan amar makruf nahi mungkar dan paling rajin bersilaturahmi di antara mereka.” (HR Ahmad).

Syaikh As-Sa’di rahimahulLah menambahkan, “Allah memuji umat ini. Allah mengabarkan bahwa mereka adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Hal ini karena mereka menyempurnakan diri mereka dengan iman, yang mengharuskan mereka untuk menunaikan semua perintah Allah. Juga karena mereka menyempurnakan orang lain dengan cara amar makruf nahi mungkar, yang di dalamnya terkandung dakwah ke jalan Allah. Mereka bersungguh-sungguh di dalam dakwah tersebut. Mereka mengerahkan seluruh kemampuan mereka di dalam mengembalikan manusia dari kesesatan dan kesalahan mereka (menuju ke jalan hidayah).” (As-Sa’adi, Taysir Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Manan, 1/143).

Jelaslah, selama berpegang teguh dan memelihara ciri khasnya, yaitu amar makruf nahi mungkar, umat Islam pasti menjadi umat terbaik. Sebaliknya, jika umat Islam meninggalkan amar makruf nahi mungkar, akan lenyaplah predikat agung itu dari diri mereka.


Bahaya Meninggalkan Amar Makruf Nahi Mungkar


Meninggalkan amar makruf nahi mungkar akan menimbulkan bahaya yang besar. Saat amar makruf nahi mungkar ditinggalkan, Allah SWT akan mendatangkan azab-Nya kepada semua pihak, baik pelaku kemungkaran ataupun bukan. Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الْمُنْكَرَ لَا يُغَيِّرُونَهُ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمْ اللَّهُ بِعِقَابِهِ
Sungguh manusia itu, jika melihat kemungkaran, kemudian mereka tidak mengubah kemungkaran itu (menjadi kemakrufan), dikhawatirkan Allah akan meratakan azab-Nya kepada mereka semuanya (HR Ibn Majah).

Suatu kemungkaran yang terjadi di muka bumi, jika tidak ada seorang pun yang berusaha mengubahnya, akan menyebar. Kerusakan pun akan meluas. Jika kondisi sudah demikian, azab Allah SWT akan diturunkan kepada seluruh komponen masyarakat; baik yang shalih maupun tidak; pelaku kebajikan maupun pelaku kemungkaran; yang adil maupun yang zalim. Hal ini dinyatakan dalam firman Allah SWT:

وَاتَّقُوْا فِتْنَةً لَّا تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَاۤصَّةً ۚوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
Peliharalah diri kalian dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang zalim saja di antara kalian. Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksanya (TQS al-Anfal [8]: 25).

Dalam ayat ini Allah SWT memberikan peringatan kepada kaum Mukmin agar tidak meninggalkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, juga tidak meninggalkan amar makruf nahi mungkar.

Ayat di atas juga menekankan betapa pentingnya umat Islam melakukan amar makruf nahi mungkar terhadap siapapun pelaku kezaliman atau kemungkaran; baik individu, kelompok maupun penguasa. Jika kewajiban ini ditinggalkan, akan muncul siksaan atau cobaan yang menimpa secara umum, baik kepada pelaku kemungkaran dan kezaliman maupun orang-orang yang taat.

Meninggalkan amar makruf nahi mungkar juga bisa menjadi penyebab doa tidak dikabulkan. Rasulullah saw. bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنْ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوْشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْ عِنْدِهِ ثُمَّ لَتَدْعُنَّهُ فَلاَ يَسْتَجِيْبُ لَكُمْ
Demi Zat Yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian benar-benar melakukan amar makruf nahi mungkar atau (jika tidak) niscaya Allah akan mengirimkan hukuman/siksaan kepada kalian (karena keengganan kalian tersebut). Lalu kalian berdoa kepada Allah, namun Dia tidak mengabulkan doa kalian (HR at-Tirmidzi).

Hadis Nabi saw. ini menegaskan kewajiban setiap Muslim untuk mengajak berbagai pihak agar melakukan kebaikan dan melarang mereka melakukan keburukan. Hadis tersebut juga mengancam orang-orang yang enggan melakukan amar makruf nahi mungkar, yaitu akan diberi hukuman/siksaan atas keengganan mereka tersebut, juga pada saat itu doa yang mereka panjatkan tidak akan Allah SWT kabulkan.


Sabar dan Istiqamah


Amar makruf nahi mungkar bukanlah tanpa tantangan dan hambatan. Perubahan yang diharapkan dari aktivitas amar makruf nahi mungkar tak selalu terjadi dalam waktu cepat. Di sinilah diperlukan sikap sabar dan istiqamah. Allah SWT berfirman:

وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
Lakukanlah amar makruf nahi mungkar dan bersabarlah atas segala sesuatu yang menimpa kalian. Sungguh yang demikian termasuk hal-hal yang telah Allah wajibkan (TQS Luqman [31]: 17).

Niat ikhlas semata-mata karena Allah SWT adalah kunci penting dalam membangun sikap sabar dan istiqamah. Terkait hal ini Imam Ibnu Taimiyah berpesan, “Wajib bagi pelaku amar makruf nahi mungkar untuk selalu ikhlas semata-mata karena Allah, dengan maksud taat kepada Allah. Hendaknya tujuannya adalah untuk memperbaiki orang yang diperintah dan menegakkan hujjah kepada dirinya. Jangan bertujuan untuk mencari kedudukan, baik untuk dirinya maupun untuk kelompoknya, atau untuk melecehkan orang lain.


Khatimah

Jika kemungkaran telah tampak secara terbuka di tengah masyarakat dan tidak ada yang berusaha menghentikannya maka basis-basis kemungkaran akan terbentuk, komponen-komponennya akan menguat, eksistensinya akan semakin tampak dan jaringannya semakin meluas.

Kemungkaran yang telah eksis dan memiliki basis yang kuat menyebabkan para pelaku kemungkaran akan merasa di atas angin. Mereka lalu berusaha mempengaruhi berbagai pihak agar kemungkaran yang mereka lakukan diakui dan diikuti oleh orang lain.

Apalagi jika kemungkaran dan kezaliman tersebut dilakukan oleh penguasa dengan berbagai perangkat kekuasaannya. Mereka akan menggunakan simbol, narasi dan tindakan, baik dengan halus maupun kasar, untuk mempengaruhi rakyatnya sehingga kemungkaran dan kezalimannya tetap berlangsung dan merajalela. Akhirnya, kerusakan pun semakin parah dan merebak di berbagai bidang kehidupan, tempat dan waktu.

Jika hal ini terjadi, tidak ada pilihan lain, umat Islam wajib bersungguh-sungguh melakukan amar makruf nahi mungkar dengan penuh keberanian tanpa keraguan dan rasa segan.

Hikmah:

Rasulullah saw. bersabda:

أَلَا لَا يَمْنَعَنَّ رَجُلًا هَيْبَةُ النَّاسِ أَنْ يَقُولَ بِحَقٍّ إِذَا عَلِمَهُ
Perhatikanlah, janganlah rasa segan kepada manusia menghalangi seseorang untuk menyatakan kebenaran yang telah ia ketahui. (HR at-Tirmidzi dan Ibnu Majah). []

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ
“dan Allah lebih tahu yang sebenar-benarnya”

Kaffah - Edisi 175

Posting Komentar

0 Komentar