Posted by : Dibalik Islam 23 Okt 2019


Setiap kehidupan manusia pastilah memiliki ujian di setiap jalannya, tak jarang ujian tersebut membuat kita sedih, tidak tenang, stres hingga susah tidur. Bagi mereka yang merasa cobaan hidupnya terlampau berat namun tidak memiliki pemahaman yang benar bahwa semua itu ujian dan setiap ujian tidak akan melampaui kemampuan kita kerap melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan syariat Islam bahkan melanggarnya hanya untuk menghindarinya daripada menyelesaikannya.


Orang-orang yang mudah menyerah sesungguhnya hanya merugikan diri mereka sendiri, karenanya sangat penting untuk mendapatkan ketenangan hidup agar bisa menghadapi segala macam cobaan di dunia ini.



Dalam Islam mengajarkan cara agar kita bisa mendapatkan hati yang tenang sehingga dalam berbuat sesuatu tidak akan merasa tertekan maupun gelisah. Berikut akan dijelaskan bagaimana cara agar membuat hati kita menjadi tenang sehingga dalam menghadapi masalah pun kita masih bisa bersikap optimis: 


Dzikir


Zikir atau Dzikir (bahasa Arab: الذكر, translit. al-żikr‎) adalah sebuah aktivitas ibadah seorang muslim untuk mengingat Allah. Di antaranya dengan menyebut dan memuji nama Allah, dan zikir adalah satu kewajiban yang tercantum dalam al-Qur'an. Bacaan zikir yang paling utama adalah kalimat "Laa Ilaaha Illallaah", sedangkan doa yang paling utama adalah "Alhamdulillah". Seseorang yang melakukan zikir disebut dzaakir (ذاكر). Tidak ada yang paling bisa membuat hati kita menjadi lebih baik kecuali selalu mengingat kepada Maha Pencipta. Tanamkan dalam diri untuk senantiasa berdzikir baik dalam lisan maupun perbuatan, sehingga segala perbuatan kita adalah berdasarkan kepada mengharap ridha Allah SWT semata.

Allah SWT berfirman :

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (Ar-Rad : 28).


Sholat


Sholat (pengucapan bahasa Indonesia: [salat]; bahasa Arab: صلاة; transliterasi: ṣalāt; bentuk tidak baku: salat, solat, sholat, shalat). Menurut syariat Islam, praktik salat harus sesuai dengan segala petunjuk tata cara Nabi Muhammad sebagai bentuk perintah Allah. Umat muslim diperintahkan untuk mendirikan salat karena menurut Surah Al-'Ankabut dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar.


اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah sholat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (sholat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Ankabut : 45)


Sholat yang dimaksud selain sholat wajib lima waktu juga baik bagi kita untuk memperbanyak sholat sunnah. Karena melalui sholat, merupakan salah satu cara untuk mendekatkan diri sekaligus dapat berkomunikasi kepada Allah SWT. Sholat juga bisa mengobati berbagai jenis penyakit hati seperti sombong, iri, dengki, termasuk untuk mendapatkan ketenangan jiwa.

Sholat yang dilakukan secara benar dan khusyu’ akan membantu membuat hati menjadi lebih tenang. Selepas sholat kita juga bisa mengadu kepada Allah tentang segala keluh kesah kita, sekaligus berdo’a agar dipermudah dalam menghadapi masalah hidup. Sebagaimana firman Allah SWT :

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Hanya kepada-Mu lah kami menyembah, dan hanya kepada-Mu lah kami meminta pertolongan. (Al-Fatihah : 5).


Sabar


Sabar adalah suatu sikap menahan emosi dan keinginan, serta bertahan dalam situasi sulit dengan tidak mengeluh. Sabar merupakan kemampuan mengendalikan diri yang juga dipandang sebagai sikap yang mempunyai nilai tinggi dan mencerminkan kekokohan jiwa orang yang memilikinya. Semakin tinggi kesabaran yang seseorang miliki maka semakin kokoh juga ia dalam menghadapi segala macam masalah yang terjadi dalam kehidupan. Sabar juga sering dikaitkan dengan tingkah laku positif yang ditonjolkan oleh individu atau seseorang.

Ketika menghadapi masalah, ingatlah kalau semua itu diberikan oleh Allah bukan untuk menyulitkan kita, melainkan untuk menguji iman dan taqwa kita. Ketika kita sadar akan hal tersebut, yang perlu kita lakukan ialah bersabar dalam menghadapi segala macam permasalahan dan cobaan yang diberikan. Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. ( Al-Baqarah : 153).


Membaca, mendengarkan, serta mengamalkan Al-Qur’an 


Sebagai pribadi seorang muslim membaca, mendengarkan serta mengamalkan Al-Qur'an haruslah hadir pada keseharian kehidupan seorang hamba sebagai bentuk keimanan mereka dan agar hati senantiasa tenang dan lembut, Allah SWT berfirman :

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ
Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun. (Q. S. Az Zumar : 23).


Selalu bersangka baik kepada Allah SWT


Berperasangka baik tidak hanya dilakukan kepada sesama manusia melainkan juga kepada Allah SWT. dalam kehidupan manusia pastilah penuh dengan segala macam kesenangan dunia dan kesedihannya karena sesungguhnya kehidupan dunia adalah ujian oleh sebab itu kita harus percaya bahwa segala yang terjadi adalah atas kehendak Allah SWT. ketika kita menyadari akan hal tersebut pastilah kita akan bertambah keimanannya dan tidak akan menyalahkan takdir Allah SWT. atas segala sesuatu yang terjadi dan Allah SWT. tidak akan memberikan ujian melebihi kemampuan dari manusia tersebut untuk menghadapinya serta selalu ada hikmah dibalik setiap cobaannya.


Membiasakan diri bersuci


Menjaga diri dari hadast dan najis dengan cara menjaga wudhu merupakan salah satu cara untuk mendapatkan ketenangan hati karena dalam keadaan suci, insya Allah pikiran kita akan menjadi lebih tenang ditambah dengan selalu mengucap dzikir mengingat kepada Allah SWT.


Menjaga siaturrahmi


Sebagai manusia, kita perlu untuk saling berhubungan dengan sesama manusia karena kodrat kita memang sebagai makhluk sosial yang butuh beriteraksi satu sama lain. Akan tetapi, tidak jarang antar sesama manusia itu terjadi perselisihan atau kesalahpahaman yang kemudian menyebabkan pertikaian. Ini merupakan salah satu sumber penyebab kegundahan di hati.

Oleh sebab itu, kita dianjurkan untuk menjaga hubungan yang baik dengan orang lain agar terjalin ketentraman dalam hidup. Nabi Muhammad SAW bersabda yang artinya;

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR. Bukhari no. 5985 dan Muslim no. 2557)

مَنِ اتَّقَى رَبَّهُ، وَوَصَلَ رَحِمَهُ، نُسّىءَ فِي أَجَلِه وَثَرَى مَالَهُ، وَأَحَبَّهُ أَهْلُهُ
Siapa yang bertakwa kepada Rabb-nya dan menyambung silaturrahmi niscaya umurnya akan diperpanjang dan hartanya akan diperbanyak serta keluarganya akan mencintainya.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 58, hasan)


Senantiasa bersyukur


Dalam hidup, kita harus pandai bersyukur. Artinya, tidak hanya saat mendapatkan rezeki atau kesenangan, namun dalam keadaan sulit pun kita tetap harus bersyukur kepada Allah SWT. Dengan bersyukur, kita menyadari bahwa apa-apa yang kita miliki tidak lain segala sesuatunya hanyalah milik Allah SWT. Kita tidak memiliki apapun harta, tahta, bahkan nyawa kita sendiri adalah milik Allah SWT.

Karena sadar bahwa Allah adalah pemilik segalanya, kita pun tidak perlu merasa sakit hati apabila suatu waktu kita harus kehilangan atau merasa kesedihan akan sesuatu hal. Kita percaya, Allah telah mengatur segala-galanya. Dengan begitu, kita pun akan merasa lebih lapang dan tenang karena Allah akan menjaga segalanya bagi kita.

Sebaliknya, bagi orang yang tidak pandai bersyukur, Allah SWT berfirman :

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ
Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. (An-Nahl : 112)

Sesulit apapun hidup, seberat apapun masalah yang kita hadapi, kita yakin bahwa Allah tidak akan memberi cobaan yang hamba-Nya tidak mampu untuk menghadapinya. Kita yakin bahwa Allah SWT. pasti akan membantu kita melewati semua rintangan itu asal kita menjalaninya dengan ikhlas dan sabar serta selalu bertawaqqal kepada-Nya.

Sebab, ketidaktenangan terjadi ketika seseorang selalu memikirkan tentang beratnya hidup, tetapi ia lupa bahwa ada Allah yang selalu bersamanya.


Mintalah pertolongan kepada Allah, niscaya Dia akan memberi pertolongan.


Allah SWT berfirman yang artinya:

وَمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلَّا بُشْرَىٰ لَكُمْ وَلِتَطْمَئِنَّ قُلُوبُكُمْ بِهِ ۗ وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ
Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Ali 'Imran : 126)


Memerhatikan dan sadar akan kekuasan Allah SWT


Manusia adalah makhluk yang lemah, sementara Allah SWT dengan segala kuasa-Nya mampu mengendalikan apapun. Sebagai manusia, kita harus menyadari bahwa tiada yang lebih berkuasa dibandingkan Sang Pencipta. Seseorang menjadi tidak tenang ketika ia memikirkan akan kemampuannya untuk menghadapi sesuatu, sedangkan ia lupa bahwa semua kekuatan dan kemampuan yang ia miliki datangnya dari Allah SWT.

Ketika manusia itu lupa bahwa Allah Maha Kuasa, ia akan berpikir bahwa ia pasti bisa menghadapi sesuatu. Namun ketika keadaan tidak memungkinkan, ia akan menjadi resah karena merasa dirinya tidak memiliki kemampuan. Padahal, ada Allah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Allah SWT berfirman :


وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَىٰ ۖ قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي ۖ قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلَىٰ كُلِّ جَبَلٍ مِنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا ۚ وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati". Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu?" Ibrahim menjawab: "Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman: "(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): "Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera". Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al-Baqarah : 260)


Penulis : Darul Al-Fatih

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © 2013 Dibalik Islam - Web - Powered by Dibalik Islam