Posted by : Dibalik Islam 2 Nov 2018



Bendera (al-‘alam) termasuk perkara yang dicontohkan oleh Rasulullah saw., juga Khulafaur-Rasyidin sesudah beliau. Bendera Rasulullah saw. ada dua macam yaitu Al-Liwa‘ (bendera putih) dan ar-Rayah (bendera hitam) bertuliskan: Lâ ilâha illalLâh Muhammad rasûlulLâh.

Bendera Rasulullah saw., baik al-Liwa‘ (bendera putih) maupun ar-Rayah (bendera hitam) bukanlah sembarang bendera yang berhenti sebagai simbol. Keduanya mengekspresikan makna-makna mendalam yang lahir dari ajaran Islam. Berikut adalah di antara makna-makna di balik bendera Rasulullah saw. tersebut.

Bendera Aqidah Islam


Pertama: Sebagai lambang ‘Aqidah Islam. Pada al-Liwa‘ dan ar-Rayah tertulis kalimat syahadat: Lâ ilâha illalLâh Muhammad rasûlulLâh. Kalimat inilah yang membedakan Islam dan kekufuran; kalimat yang menyelamatkan manusia di dunia dan akhirat.

Di dalam riwayat Ibnu Abbas ra., sebagaimana dikutip oleh Abdul Hayyi al-Kattani (1/266), dinyatakan, “Tertulis pada Liwa` Nabi saw. kalimat: Lâ ilâha illalLâh Muhammad rasûlulLâh.”

Lebih tegas dinyatakan dalam hadis lain: “Rayah Rasulullah saw. berwarna hitam dan Liwa-nya berwarna putih. Tertulis di situ Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh.” (HR Abu Syaikh al-Ashbahani dalam Akhlâq an-Nabiy saw.).

Semua hadis di atas shahih. Hadis-hadis tersebut dinyatakan di dalam banyak kitab hadis. Para ulama sudah membahas hal ini saat mereka menjelaskan hadis-hadis di atas dalam kitab syarh dan takhrîj-nya. Sebut saja seperti Kanz al-Ummal, Majma al-Zawâid, Fath al-Bâri, Tuhfah al-Ahwadzi, Umdah al-Qâri, Faydh al-Qâdir, dll. Belum lagi dalam kitab sirah dan maghâzi yang di antaranya memiliki sanad kuat.

Bendera Pemersatu Umat Islam


Kedua: Sebagai pemersatu umat Islam. Lâ ilâha illalLâh Muhammad rasûlulLâh adalah kalimat yang mempersatukan umat Islam sebagai satu kesatuan tanpa melihat lagi keanekaragaman bahasa, warna kulit, kebangsaan ataupun mazhab dan paham yang ada di tengah umat Islam.

Imam Abdul Hayyi Al-Kattani menjelaskan, jika suatu kaum berhimpun di bawah satu bendera, artinya bendera itu menjadi tanda persamaan pendapat kaum tersebut (ijtimâ’i kalimatihim) dan juga tanda persatuan hati mereka (ittihâdi qulûbihim). Dengan demikian kaum itu akan menjadi bagaikan satu tubuh (ka al-jasad al-wâhid) dan akan terikat satu sama lain dalam satu ikatan yang bahkan jauh lebih kuat daripada ikatan antar saudara yang masih satu kerabat (dzawil arhâm) (Abdul Hayyi al-Kattani, Nizhâm al-Hukûmah an-Nabawiyyah [At-Tarâtib al-Idâriyyah], I/266).

Bendera Simbol Kepemimpinan Islam


Ketiga: Sebagai simbol kepemimpinan. Faktanya, al-Liwa‘ dan ar-Rayah itu selalu dibawa oleh komandan perang pada zaman Rasulullah saw. dan Khulafaur Rasyidin. Misalnya pada saat Perang Khaibar, Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh aku akan memberikan ar-Rayah ini kepada seorang laki-laki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah akan memberikan kemenangan kepada dirinya.” Umar bin al-Khaththab berkata, “Tidaklah aku menyukai kepemimpinan kecuali hari itu.” (HR Muslim).

Selain itu, fungsi Liwa’ sebagai penanda posisi pemimpin pasukan. Pembawa bendera Liwa’ akan terus mengikuti posisi pemimpin pasukan berada. Riwayat mengenai Liwa’, seperti yang diriwayatkan dari Jabir ra. yang mengatakan: Rasulullah membawa Liwa’ ketika memasuki Kota Makkah saat Fathul Makkah (pembebasan Kota Makkah). (HR Ibnu Majah).

Bendera Kewibawaan Perang


Keempat: Sebagai pembangkit keberanian dan pengorbanan dalam perang. Makna ini khususnya akan dirasakan dalam jiwa pasukan dalam kondisi perang. Pasalnya, dalam perang, pasukan akan terbangkitkan keberaniannya dan pengorbanannya selama mereka melihat benderanya masih berkibar-kibar. Pasukan akan berusaha mati-matian agar bendera tetap berkibar dan menjaga jangan sampai bendera itu jatuh ke tanah sebagai simbol kekalahan (Abdul Hayyi al-Kattani, ibid., I/267).

Bendera sebagai pembangkit semangat dan keberanian itu tampak jelas dalam Perang Mu’tah (HR al-Bukhari, Ibnu Katsir, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, IV/281).

Bendera Penggentar Musuh


Kelima: Sebagai sarana untuk menggentarkan musuh dalam perang. Imam Ibnu Khaldun dalam kaitan ini menyatakan, “Banyaknya bendera-bendera itu, dengan berbagai warna dan ukurannya, maksudnya satu, yaitu untuk menggentarkan musuh…” (Ibnu Khaldun, Muqaddimah, II/805-806).

Kisah kepemimpinan Muhammad bin Abi Amir (326 H – 392 H) atau yang dikenal dengan sebutan Al-Hajib al-Manshur, pemimpin Andalus terbesar dan terhebat, dalam Perang Ar-Rayah (Bendera) menunjukkan kisah bagaimana sebuah bendera yang sangat “ditakuti” musuh Islam (Lihat: At-Andalus at-Târîkh al-Mushawwar, h. 236).

Sejarah Bendera Tauhid


Pada masa Khulafaur Rasyidin, al-Liwa‘ dan ar-Rayah mengikuti yang ada pada masa Rasulullah saw., yaitu al-Liwa‘ (bendera putih) dan ar-Rayah (bendera hitam) bertuliskan: Lâ ilâha illalLâh Muhammad rasûlulLâh. Pada masa Khalifah Abu Bakar, misalnya, sebanyak 11 (sebelas) al-Liwa‘ dibawa pasukan Islam dalam perang untuk memerangi orang-orang murtad di berbagai pelosok Jazirah Arab (Ibnul Atsir, Al-Kâmil fî at-Târîkh, II/358).

Pada masa Khilafah Bani Umayyah, sebagian sejarahwan seperti George Zaidan dalam bukunya, Târîkh at-Tamaddun al-Islâmi (I/88) menyebutkan warna ar-Rayah atau al-Liwa` masa Khilafah Umayah adalah hijau atau putih (Shalih bin Qurbah, Ar-Rayât wa al-A’lam fî at-Târîkh al-‘Askari al-Islâmi, hlm. 3).

Pada masa Khilafah Bani ‘Abbasiyah, al-Liwa’ dan ar-Rayah mereka berwarna hitam. Dengan demikian berakhirlah penggunaan warna hijau pada masa Khilafah Bani Umayah, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Qalqasyandi (Ma’âtsir al-Inâfah fî Ma’âlim al-Khilâfah, II/805).

Pada masa Khilafah Utsmaniyah, pada al-Liwa‘ atau ar-Rayah mereka terdapat gambar hilal (bulan sabit). Dalam perkembangan sejarah selanjutnya, al-Liwa’ dan ar-Rayah pada masa Khilafah Utsmaniyah itu berpengaruh ke negeri-negeri Islam yang berada di bawah pengaruhnya, termasuk Nusantara. Maka dari itu, tidaklah aneh jika di tengah-tengah masyarakat Nusantara berkembang bendera yang melambangkan syiar Islam tersebut, yaitu bendera bertuliskan Lâ ilâha illalLâh Muhammad rasûlulLâh yang sering disertai simbol hilal (bulan sabit).

Di antara kerajaan yang menggunakan kalimat tauhid pada bendera maupun lambang kerajaannya ialah Kerajaan Samudra Pasai. Kerajaan yang muncul sekitar abad ke-13 ini memiliki sebuah lambang kerajaan yang mirip dengan lambang Garuda. Konon, lambang Kerajaan Samudra Pasai ini dirancang oleh Sultan Zainal Abidin yang kemudian disalin ulang oleh Teuku Raja Muluk Attahashi bin Teuku Cik Ismail Siddik Attahasi. Hanya saja, pada setiap bagiannya dari kepala, sayap, hingga kaki dipenuhi tulisan-tulisan arab. Tulisan tersebut berisikan kalimat basmallah dan kalimat tauhid.

Kesultanan Cirebon juga memiliki bendera dengan kalimat tauhid di dalamnya. Bendera Macan Ali namanya. Pada bendera Kesultanan Cirebon tersebut memuat sejumlah kalimat seperti basmalah, surat al-Ikhlas, hingga kaimat tauhid yang membentuk seperti macan.

Kesultanan Tidore juga memiliki bendera dengan kalimat tauhid di dalamnya. Bendera Kesultanan Tidore pada 1890 tersebut berwarna kuning dengan tulisan kalimat tauhid di bagian atas berwarna merah.

Hal yang sama juga digunakan di Kesultanan Inderapura di Sumatra Barat. Pada lambang Kesultanan ini juga memuat kalimat tauhid di dalamnya. Kesultanan ini mempunyai lambang lingkaran bertuliskan kalimat syahadat yang diapit oleh dua singa dan naga pada tiap sisinya. Selain itu mempunyai mahkota bertuliskan lafal Allah dan Muhammad. Kesultanan yang berada di pesisir selatan Sumatra Barat itu telah berdiri pada 1347.

Bendera dengan kalimat tauhid juga dimiliki oleh laskar Hizbullah yang kemudian membentuk TNI. Tak hanya dalam bentuk bendera, pada atribut laskar Hizbullah lainnya seperti emblem atau pin juga menyertakan kalimat tauhid.

Tak hanya laskar Hizbullah, Sarekat Dagang Islam yang didirikan oleh Samanhudi juga menggunakan lambang yang memuat kalimat tauhid di dalamnya. Pada lambang organisasi yang dibentuk 1905 itu membuat kalimat tauhid pada bagian bulan sabitnya. Bendera ormas Muhammadiyah pun menggunakan kalimat syahadat Lâ ilâha illalLâh Muhammad rasûlulLâh (Deni Junaedi, Bendera Khilafah Representasi Budaya Visual dalam Budaya Global, hlm. 3)

Penutup

Setelah keruntuhan Khilafah di Turki tahun 1924, negeri-negeri Islam terpecah-belah atas dasar konsep nation-state (negara-bangsa) mengikuti gaya hidup Barat. Implikasinya, masing-masing negara-bangsa mempunyai bendera nasional dengan berbagai macam corak dan warna. Sejak saat itulah, al-Liwa‘ dan ar-Rayah seakan-akan tenggelam dan menjadi sesuatu yang asing di tengah masyarakat Muslim.

Kondisi inilah yang mengakibatkan munculnya pandangan curiga dan phobia dari penguasa sekular terhadap bendera Islam yang bertuliskan Lâ ilâha illalLâh Muhammad rasûlulLâh. Bendera yang dicontohkan sendiri oleh Rasulullah saw. ini pun kemudian sering dicap atau dihubungkan dengan terorisme atau radikalisme.

Pandangan curiga tersebut sesungguhnya lahir dari kebodohan yang nyata terhadap ajaran Islam selain karena adanya sikap taklid buta terhadap konsep nation-state (negara-bangsa) yang membelenggu dan memecah-belah umat Islam di seluruh dunia.


Hikmah:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Berpegang teguhlah kalian pada tali (agama) Allah dan janganlah bercerai berai. Ingatlah oleh kalian nikmat Allah atas kalian saat dulu kalian saling bermusuhan, kemudian Dia menyatukan kalbu-kalbu kalian sehingga kalian dengan nikmat-Nya itu bersaudara. (Ingatlah) juga saat kalian berada di tepi jurang neraka, lalu Dia menyelamatkan kalian dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian agar kalian mendapatkan petunjuk (TQS Ali Imran [3]: 103).

Kaffah - Edisi 063

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © 2013 Dibalik Islam - Islamic - Powered by DiazWeb