Type Here to Get Search Results !

Nasib Manusia Pada Hari Kiamat


(Tafsir QS ‘an-Nazi’at [79]: 34-41)

فَإِذَا جَاءَتِ الطَّامَّةُ الْكُبْرَى (34) يَوْمَ يَتَذَكَّرُ الْإِنْسَانُ مَا سَعَى (35) وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ لِمَنْ يَرَى (36) فَأَمَّا مَنْ طَغَى (37) وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (38) فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى (39) وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى (40) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى (41)
Lalu jika malapetaka yang sangat besar (Hari Kiamat) telah datang, pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dia kerjakan dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat, maka orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, sungguh nerakalah tempat tinggalnya, adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, sungguh surgalah tempat tinggalnya (QS an-Nazi’at [79]: 34-41).

Tafsir Ayat 

Allah SWT berfirman: Fa idzâ jâat al-thâmmah al-kubrâ (Jika malapetaka yang sangat besar [Hari Kiamat] telah datang). Yang dimaksud dengan ath-thâmmah al-kubrâ adalah Hari Kiamat.[1] Kiamat disebut demikian karena menghantam segala sesuatu dengan amat menyeramkan dan mengerikan.[2] Menurut orang Arab ath-thâmmah adalah malapetaka yang tidak dapat diatasi.”[3]

Dengan demikian ayat ini menegaskan tentang kepastian akan kejadian Hari Kiamat.

Kemudian disebutkan tentang peristiwa yang terjadi pada hari itu dengan firman-Nya: Yawma yatadzakkaru al-insân mâ sa’â (pada hari [ketika] manusia teringat akan apa yang telah dia kerjakan). Ibnu Katsir berkata, “Ketika itu manusia teringat dengan seluruh amalnya, yang baik maupu yang buruk.”

Penjelasan yang sama juga dikemukakan oleh ath-Thabari, al-Qurthubi, al-Khazin, al-Jazairi, dan lain-lain.[4] Ini sebagaimana firman Allah SWT:

يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ الإنْسَانُ وَأَنَّى لَهُ الذِّكْرَى
Pada hari itu ingatlah manusia. Namun, tidak berguna lagi mengingat itu bagi dirinya (QS al-Fajr [89]: 23).

Lalu dikatakan: wa burrizat al-Jahîm liman yarâ (dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat). Kata burrizat bermakna uzhhirat (ditampakkan). Ibnu Jarir ath-Thabari berkata, “Neraka Jahanam uzhhirat (ditampakkan), yakni neraka Allah SWT bagi orang-orang yang melihatnya.”[5]

Asy-Syaukani juga berkata, “Ditampakkan dengan sejelas-jelasnya dan tidak tersembunyi oleh siapa pun.”

Mufassir tersebut mengutip penjelasan Muqatil yang berkata, “Penutupnya dibuka sehingga terlihat oleh semua makhluk.”[6]

Penjelasan senada juga dikemukakan al-Khazin.[7]

Setelah itu kemudian Allah SWT memberitakan tentang karakter dan nasib dua golongan manusia di akhirat. Golongan pertama disebutkan dalam firman-Nya: Fa ammâ man taghâ (Adapun orang yang melampaui batas).

Secara bahasa, kata thagâ berarti tajâwaza al-hadd (melampaui batas). Pengertian ini dapat dijumpai dalam firman Allah SWT: Innâ lammâ thaghâ al-mâ’u hamalnâkum fî al-jâriyah (QS al-Haqqah [69]: 11). Kata thaghâ al-mâ’u di sini berarti air telah melampaui semua daratan hingga daratan yang paling tinggi, gunung.

Dalam perkembangan berikutnya, kata thaghâ merujuk pada tindakan yang melampaui batas dalam kemaksiatan dan kekufuran. Sebagaimana dijelaskan Mujahid, kata thaghâ dalam ayat ini bermakna ‘ashâ (bermaksiat). [8]

Al-Qurthubi juga berkata bahwa maknanya, “jâwaza al-hadd fî al-‘ishyân (melampaui batas dalam kemaksiatan).” [9]

Menurut al-Biqa’i maknanya, “melampaui batas dalam permusuhan sehingga tidak takut terhadap kebesaran Tuhannya.” [10]

Asy-Syaukani juga menafsirkan kata tersebut dengan jâwaza al-hadd fî al-kufr wa al-ma’âshî (melampaui batas dalam kekufuran dan kemaksiatan). [11] Dengan redaksi sedikit berbeda, Ibnu Katsir memaknai kata itu sebagai tamarrada wa ‘atâ (membangkang dan melampaui batas). [12]

Syihabuddin al-Alusi juga berkata bahwa maknanya, “melampaui batas dan membangkang dari ketaatan serta melampaui batas dalam dalam kemaksiatan hingga kufur.” [13]

Selain thaghâ, orang tersebut juga: wa âtsara al-hâyah ad-dun-yâ’ (lebih mengutamakan kehidupan dunia). Kata âtsara bermakna akrama wa qaddama wa ikhtâra (memuliakan, mendahulukan dan memilih).[14] Dengan demikian frasa ini memberikan pengertian bahwa orang tersebut lebih memilih apa yang ada di dunia daripada akhirat.[15] Ibnu Katsir berkata, “Dia lebih mendahulukan kehidupan dunia daripada urusan agama dan akhiratnya.”[16]

Ibnu Jarir ath-Thabari berkata, “Dia lebih memilih kesenangan dunia daripada kemuliaan akhirat dan semua yang disediakan Allah SWT di surga bagi para kekasih-Nya. Karena itu dia hanya berbuat dan berusaha untuk dunia dan tidak beramal untuk akhirat.”[17]

Asy-Syaukani juga berkata, “Orang tersebut lebih mendahulukan dunia atas akhirat, tidak menyiapkan bekal untuk akhirat dan tidak beramal untuknya.”[18]

Terhadap mereka, Allah SWT menyampaikan ancaman keras: fa inna al-jahîma hiya al-ma’wâ (sungguh nerakalah tempat tinggal-[nya]). Yang dimaksud dengan al-jahîm adalah neraka. Di tempat yang penuh siksa itulah mereka akan kembali. Di tempat itu pula mereka akan tinggal. Menurut asy-Syaukani, pengertian al-ma‘wâ adalah rumah yang dihuni dan tempat yang akan dia tinggali, bukan yang lain.”[19]

Kemudian diberitakan karakter golongan kedua dengan firman-Nya: Wa ammâ man khâfa maqâma Rabbihi (Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya). Menurut para mufassir, ketakutan itu pun melahirkan ketaatan kepada Allah SWT. Ibnu Jarir ath-Thabari berkata, “Orang yang takut terhadap pertanyaan Allah SWT kepada dirinya, ketika berdiri di hadapan-Nya pada Hari Kiamat, sehingga membuat dia bertakwa kepada-Nya dengan menunaikan kewajiban-kewajiban-Nya dan menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan kepada-Nya.”[20]

Selain itu juga dinyatakan: wa nahâ al-nafsa ‘an al-hawâ (dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya). Secara bahasa, kata al-hawâ berarti mahabbat al-insân al-syay’a wa ghalabatuhu ‘alâ qalbihi (kecintaan manusia terhadap sesuatu dan menguasai hatinya).[21]

Menurut Raghib al-Asfahani bahwa al-hawâ adalah mayl al-nafs ilâ asy-syahwah (kecenderungan jiwa pada syahwat).[22] Kendati bisa digunakan untuk sesuatu yang terkait dengan kebaikan, menurut Ibnu ‘Athiyah, kata al-hawâ, pada galibnya digunakan untuk sesuatu yang di dalamnya tidak ada kebaikan.[23]

Di dalam al-Quran sendiri, cukup banyak ayat yang melarang dan memberikan celaan kepada manusia yang mengikuti al-hawâ. Di antaranya adalah firman Allah SWT: Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran (TQS an-Nisa’ [4]: 135).

Dalam QS Shad (38) ayat 36 juga terdapat seruan kepada Dawud agar tidak mengikuti al-hawâ. Lalu disebutkan: fayudhilluka ‘an sabîlil-Lâh (karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah).

Dalam QS al-Kahfi (18) ayat 28 Allah SWT juga melarang Rasul-Nya mengikuti orang yang menuruti hawa nafsunya. Larangan senada juga terdapat dalam QS Thaha (20): 16. Bahkan dalam QS al-Mukminun (23): 71 ditegaskan bahwa andai kata kebenaran itu menuruti hawa nafsu orang kafir, maka langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya pasti binasa.

Ayat ini, menurut al-Qurthubi bermakna, “mencegahnya dari kemaksiatan dan yang diharamkan”.[24]

Ibnu Jarir ath-Thabari juga memaknai, “menahan dirinya dari keinginan hawa nafsunya dalam hal-hal yang Allah SWT benci Allah dan tidak Dia ridhai sehingga menjauhinya serta melawan hawa nafsunya untuk beralih pada apa yang diperintahkan Tuhannya.”[25]

Imam asy-Syaukani pun memaknai, “menahan dirinya dari kecenderungan pada perkara-perkara maksiat dan yang diharamkan yang dia senangi.”[26]

Terhadap orang yang demikian, dijanjikan balasan yang baik. Allah SWT berfirman: fa inna al-jannah hiya al-ma’wâ (sungguh surgalah tempat tinggalnya). Balasan buat mereka tak lain adalah surga, tempat yang penuh dengan aneka kenikmatan akan menjadi tempat tinggal abadi buat mereka. Bahkan dalam QS ar-Rahman (55) ayat 46 diberitakan bahwa orang-orang takut menghadap Tuhannya akan mendapatkan dua surga.

Amal di Dunia Penentu Nasib di Akhirat


Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari ayat-ayat ini. Di antaranya: Pertama, kepastian tentang kedatangan Hari Kiamat. Ayat ini menegaskan bahwa Hari Kiamat pasti datang. Dalam ayat ini hari itu disebut sebagai ath-thâmmah al-kubra (malapetaka besar). Penyebutan Hari Kiamat dengan kata tersebut menunjukkan kedahsyatan hari tersebut. Tidak ada yang bisa menghadang dan menghalanginya. Semuanya diterjang, dihantam serta dikalahkan. Menurut Ibnu Katsir, penyebutan tersebut sebagaimana diberitakan dalam firman-Nya:

وَالسَّاعَةُ أَدْهَى وَأَمَرُّ
Kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit (QS al-Qamar [54]: 46).[27]

Kedua, beberapa kejadian yang mengiringi Hari Kiamat. Diberitakan ayat ini, pada Hari Kiamat kelak semua manusia akan diperlihatkan semua amalnya, yang baik maupun yang buruk. Bahkan meskipun sebesar biji dzarrah pun, semua amal itu diperlihatkan kepada pelakunya (lihat QS al-Zalzalah [99]: 7-8).

Peristiwa lainnya, manusia juga akan diperlihatkan Neraka Jahanam. Berkenaan dengan neraka yang diperlihatkan kepada manusia pada Hari Kiamat, juga diberitakan dalam Hadis Nabi saw. Dari Adi bin Hatim berkata, Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada seorang pun di antara kalian kecuali akan diajak bicara oleh Allah tanpa penerjemah. Kemudian ia menengok ke kanan, ia tidak melihat kecuali apa yang pernah ia lakukan (di dunia). Ia pun menengok ke kiri, ia tidak melihat kecuali apa yang pernah ia lakukan (di dunia). Lalu ia melihat ke depan, ia tidak melihat kecuali neraka ada di depan wajahnya. Karena itu jagalah diri kalian dari neraka meski dengan sebutir kurma.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Pada hari itu manusia juga akan mendapatkan balasan atas semua amal yang dikerjakan di dunia. Tidak ada seorang pun yang dizalimi dan dirugikan.

Ketiga, manusia terbelah menjadi golongan: yang ditempatkan di neraka dan yang ditempatkan di surga. Ayat-ayat ini pun menjelaskan tentang karakter masing-masing.

Penghuni Neraka Jahanam disebutkan memiliki dua sifat: sifat taghâ dan âtsara al-hayâh ad-dun-nyâ. Menurut para ulama, pengertian thaghâ adalah melampaui batas dalam kemaksiatan dan kekufuran. Telah maklum, Allah SWT telah menurunkan seperangkat hukum pada manusia. Di dalamnya terdapat batas-batas yang tidak boleh dilanggar. Dalam beberapa ayat, ini disebut sebagai hudûdul-Lâh (batasan atau hukum Allah). Terhadap semua hudûdul-Lâh itu, manusia tidak boleh melanggar (QS al-Baqarah [2]: 229) atau mendekatinya (QS al-Baqarah [2]: 187). Siapa saja yang melanggar telah berlaku zalim atas dirinya sendiri (QS ath-Thalaq [65]: 1), bahkan terkategori sebagai orang zalim (QS al-Baqarah [2]: 229). Mereka juga diancam akan dimasukkan ke dalam neraka dan azab yang menghinakan (QS anl-Nisa’ [4]: 14).

Adapun wa âtsara al-hayâh ad-dun-yâ, menurut para ulama, artinya mereka lebih mendahulukan dan mengutamakan dunia dibandingkan akhirat. Ketika seseorang hanya berpikir dan berusaha untuk mengejar kesenangan dan kepentingan dunia, tentu akhirat akan diabaikan. Akibatnya, mereka bukan hanya tidak menyiapkan bekal untuk akhirat, namun bahkan berani menabrak hukum-hukum Allah SWT. Dengan demikian dua sikap tersebut, yakni thaghâ dan âtsara al-hayâh ad-dun-yâ, saling berkaitan.

Kepada mereka, Allah SWT menyediakan neraka sebagai tempat tinggalnya di akhirat. Itu adalah balasan yang layak bagi mereka. Fakhruddin ar-Razi berkata, “Ketika manusia memiliki dua sifat tersebut kita berlindung kepada Allah SWT dari keduanya maka mereka akan melakukan kerusakan hingga batas paling puncak. Itulah orang kafir yang hukumannya selama-lamanya.”[28]

Golongan lainnya adalah yang disediakan surga sebagai tempat tinggal mereka. Mereka memiliki sifat yang berkebalikan dengan sifat golongan penghuni neraka. Mereka itu khâfa maqâma Rabbihi (takut terhadap kebesaran Tuhannya). Rasa takut kepada Allah SWT mengantarkan pelakunya untuk menjalankan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya.

Mereka juga disebutkan memiliki sifat wa nahâ an-nafs ‘an al-hawâ (menahan diri dari keinginan hawa nafsu). Oang yang mampu menahan, menjaga dan mengendalikan dari hawa nafsunya akan dapat menjaga dirinya dari kecenderungan berbuat buruk. Kecenderungan dirinya pun tunduk pada ketentuan syariah. Sekalipun secara naluriah dia menyukai sesuatu, jika itu diharamkan oleh syariah, dia tinggalkan. Sebaliknya, meskipun secara naluriah dia membencinya, jika syariah mewajibkannya, akan ia kerjakan. Pendek kata, semua kecenderungannya tunduk pada ketentuan syariah. Sikap ini tentu tidak bisa dilepaskan dari ketakutan mereka terhadap hisab di hadapan Allah SWT. Takut kepada Allah SWT akan melahirkan sikap taat kepada-Nya. Kepada orang yang memiliki sifat tersebut, Allah SWT menganugerahkan surga yang dipenuhi dengan aneka ragam kenikmatkan.

Golongan ini adalah golongan yang disebut oleh Nabi saw. sebagai orang-orang cerdas:

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ
Orang yang cerdas adalah orang yang dapat menundukkan hawa nafsunya dan beramal untuk bekal sesudah mati. Orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah dengan panjang angan-angan. (HR at-Tirmidzi).

Demikian potret dua golongan manusia yang nasibnya berakhir kontradiktif: bahagia dan celaka; menjadi penghuni surga dan penghuni neraka. Itu diserahkan kepada manusia untuk memilihnya. Semoga kita tidak termasuk orang yang salah pilih.


Oleh: Ust. Rokhmat S. Labib, M.E.I.


Catatan kaki:

[1] Al-Jazairi, Aysar at-Tafâsîr, vol. 5 (Madinah: Maktabah al-‘Ulum wa al-Hikam, 2003), 514. 
[2] Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm, 8 (tt: Dar Thayyibah, 1999), 317. Penjelasan senada juga dikemukakan oleh ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, vol. 24, 211. 
[3] Ar-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, vol. 31 (Beirut: Dar Ihya al-Turtas al-‘Arabi, 1420 H), 48. Lihat juga al-Mubarid dalam al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19 (Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah, 1969), 206 
[4] Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm, 8, 317; ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qurân, vol. 24, 211; al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur‘ân, vol. 19, 207; al-Khazin, Lubâb at-Ta‘wîl fî Ma’ânî at-Tanzîl, vol. 4 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1995), 393; al-Jazairi, Aysar at-Tafâsîr, vol. 5, 514 
[5] Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qurân, vol. 24, 211. 
[6] Asy-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, vol. 5 (Beirut: Dar Ibnu Katsir, 19914), 459. Penjelasan senada juga dikemukakan al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî, vol. 15 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1995), 237. 
[7] Al-Khazin, Lubâb at-Ta’wîl fî Ma’ânî at-Tanzîl, vol. 4, 392. 
[8] Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qurân, vol. 24, 212. 
[9] Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19, 207. 
[10] Al-Biqa’i, Nazhm ad-Durar, vol. 21 (Kairo: Dar al-Kitan al-Islami, tt), 242. 
[11] Asy-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, vol. 5, 459 
[12] Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-’Azhîm, 8, 317 
[13] Al-Alusi, Rûh al-Ma;ânî, vol. 15, 237. 
[14] Al-Biqa’i, Nazhm ad-Durar, vol. 21, 242 
[15] As-Samarqandi, Bahr al-‘Ulûm, vol. 3 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1993), 445. 
[16] Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-’Azhîm, 8, 317 
[17] Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qurân, vol. 24, 212. 
[18] Asy-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, vol. 5, 458. 
[19] Asy-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, vol. 5, 459 
[20] Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur’ân, vol. 24, 212. 
[21] Ibnu Manzhur, Lisân al-‘Arab, vol. 15 (Beirut: Dar Shadir, tt), 371. 
[22] Al-Asfahani, Al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân (Damaskus: Dar al-Qalam, 1992), 849. 
[23] Ibnu Athiyah, Al-Muharrar al-Wajîz, vol. 5. (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2001), 435 
[24] Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur‘ân, vol. 19, 208. 
[25] Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qurân, vol. 24, 212. 
[26] Asy-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, vol. 5, 459. 
[27] Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-’Azhîm, 8, 317. [28] Ar-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, vol. 31, 49.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.