Posted by : Dibalik Islam 13 Apr 2015



         Fantastis. Begitu kira-kira ungkapan yang kita berikan tatkala BKKBN mencatat angka perceraian di Indonesia menduduki peringkat tertinggi se Asia-Pasifik pada tahun 2013. Bahkan menurut Wakil Menteri Agama RI tahun 2013, Nasaruddin Umar, ada 40 perceraian setiap jam dengan 70 % gugatan dari istri. Selama tahun 2014 kemarin, angka perceraian pun semakin meningkat. Begitu tragiskah perjalanan kehidupan keluarga yang ada sekarang? Alih-alih keluarga menjadi tempat pendidikan pertama bagi anak-anaknya, mempertahankan keluarga saja bagaikan mendaki Gunung Himalaya.

Sesungguhnya Islam telah menggariskan bahwa tujuan pernikahan adalah untuk melestarikan jenis manusia. Selain itu pernikahan juga untuk ziyadatul-‘amal (meningkatkan aktivitas) bukan hanya sekadar menyempurnakan dinul Islam. Landasan berpikir ini seharusnya menjadi pijakan pertama dalam membangun keluarga Muslim. Dari sini akan terwujud sinergi antara peran suami sebagai qawwam(pemimpin keluarga) dan istri sebagai umm wa rabbatul-bayt (ibu dan pengatur rumah tangga).

Kekuatan kepemimpinan seorang suami akan membawa corak keluarga yang ideologis. Ketangguhan peran istri akan mencetak keturunan yang berkualitas. Istri yang menyadari keutamaan perannya mendidik anak-anaknya tidak sebatas untuk kepentingan keluarga, namun juga untuk kepentingan umat. Dengan demikian ia telah menyatukan peran ibu dan peran politiknya pada dirinya. Dengan itu pula ia akan mampu menjadi ibu yang mencetak kader-kader politis yang tangguh dan siap diserahi urusan umat.

Suami bertanggung jawab untuk membina dan memastikan penyatuan peran istrinya. Dari pendidikan yang dilakukan oleh suami akan menghasilkan istri yang menyadari pentingnya penyatuan peran ibu sekaligus menjadi ibu yang berkualitas. Predikat ibu berkualitas akan didapatkan oleh seorang ibu jika memiliki kriteria:

1) memiliki akidah dan syakhshiyah islamiyah
2) memiliki kesadaran untuk mendidik anak sebagai aset politik dalam perjuangan umat
3) memiliki kesadaran politik Islam. Selanjutnya pengasuhan dan pendidikan yang dilakukan oleh ibu yang berkualitas akan menghasilkan generasi yang berkualitas dan politis.

Generasi berkualitas adalah generasi yang berkepribadian Islam, berjiwa pemimpin serta mampu mengarungi hidup berdasarkan akidah Islam. Generasi seperti inilah menjadi cikal bakal kader politikus di kemudian hari jika dibina dengan pemikiran politik. Kader politikus akan lahir dengan adanya keseimbangan pembinaan yang dilakukan oleh keluarga, sekolah dan partai politik (parpol). Akan tetapi, keseimbangan pembinaan ini hanya terwujud jika keluarga dimotori oleh ibu yang berkualitas, sekolah ditopang oleh kurikulum yang berasaskan akidah Islam dan keberadaan parpol yang sahih di tengah- tengah umat. Keseimbangan pembinaan tersebut akan mudah direalisasikan ketika sistem kehidupan ini tangguh, yaitu Khilafah Islamiyah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah. Tanpa Khilafah, kerja keluarga untuk mencetak generasi berkualitas akan terasa sulit.



Penulis: Hasna Fajrina, S.Pd; "Pengajar di Kota Malang"

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © 2013 Dibalik Islam - Islamic - Powered by DiazWeb