Posted by : Dibalik Islam 12 Okt 2017



Mengimani Allah SWT tidak cukup sebatas meyakini Allah sebagai Pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan. Mengimani Allah SWT juga berarti meyakini bahwa Allah Maha Mengawasi setiap amal perbuatan manusia. Inilah yang dipesankan Lukman al-Hakim kepada putranya sebagaimana dikisahkan dalam al-Quran:

يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللهُ إِنَّ اللهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ
(Luqman berkata), “Anakku, sungguh jika ada (suatu perbuatan) seberat biji sawi yang berada di dalam batu, di langit atau di dalam bumi niscaya Allah akan datangkan (balasannya). Sungguh Allah Mahahalus lagi Mahatahu (TQS Luqman [31]: 16).

Imam ath-Thabari menyatakan ayat ini berisi pesan yang bermanfaat, yakni bahwa kezaliman atau kesalahan meski sekecil biji sawi akan Allah hadirkan (balasannya) pada Hari Kiamat saat Dia melakukan penimbangan keadilan. Balasan atas kebaikan adalah kebaikan. Balasan untuk kejahatan adalah keburukan (azab).

Adapun tentang frasa “Lathîfûn Khabîrûn”, Imam Jarir ath-Thabari mengungkapkan bahwa betapa halus dan teliti pengawasan Allah. Tak ada sedikit pun bagi Allah SWT yang tersembunyi sekalipun butiran halus dan kecil. Tak ada sesuatu pun yang tersembunyi di hadapan Allah SWT meski itu adalah semut hitam yang merayap pada malam yang gulita. Ini karena Allah adalah Al-Khabîr (Mahatahu).

Allah Ar-Raqîb (Maha Mengawasi)


Banyak ayat yang menguraikan bahwa Allah SWT senantiasa memperhatikan, mencatat, menghitung dan kelak akan membalas perbuatan hamba-hamba-Nya. Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Sungguh Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian (TQS an-Nisa’ [4]: 1).

أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
Engkaulah yang mengawasi mereka. Engkau Maha Menyaksikan segala sesuatu (TQS al-Maidah [5]: 117).

Menurut Syaikh Abdurrahman as-Sa’di, “Ar-Raqîb dan Asy-Syahîd adalah sinonim. Keduanya menunjukkan sifat Allah yang meliputi apa saja yang Dia dengar dari semua yang didengar. Dia menyaksikan apa saja dari semua yang dilihat. Dia mengetahui seluruh informasi yang kecil dan tersembunyi. Dia Maha Mengawasi apa pun yang terbersit dan yang menggerakkan pandangan, apalagi yang digerakkan oleh anggota tubuh.” (As-Sa’di, Tafsîr Asmâ’ al-Husnâ).

Karena itu penting meyakini adanya pengawasan Allah SWT ini. Keyakinan ini pasti melahirkan energi positif bagi umat Muslim. Seorang Muslim yang mengimani sifat Allah, yakni Ar-Raqîb, pasti akan bersungguh-sungguh melaksanakan syariah-Nya. Ia tak akan menelantarkan hukum-hukum-Nya. Perintah Allah SWT dalam ibadah, muamalah dan politik-kenegaraan akan dijalankan dengan paripurna. Kekhusyukannya akan muncul saat beribadah karena yakin Allah Mahatahu atas apa yang terbersit dalam hati. Ia juga akan menjauhkan diri dari semua perkara yang telah Allah haramkan. Sepeser pun harta haram tak akan mau ia sentuh. Ia takut, harta haram, walau hanya sepeser, akan membuat dirinya diazab di akhirat kelak.

كُلُّ جَسَدٍ نَبَتَ مِن سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلىَ بِهِ
Setiap daging yang tumbuh dari kecurangan (keharaman) maka neraka lebih layak baginya(HR al-Bayhaqi)

Meyakini sifat Allah, Ar-Raqîb, akan mendorong kehidupan yang dinamis, produktif dan aman. Kejahatan akan surut bukan semata karena takut adanya sanksi dari syariah Islam, tetapi yang paling utama karena sifat murâqabatulLâh (meyakini adanya pengawasan Allah). Kehormatan, harta dan jiwa akan terjaga karena sikap murâqabatulLâh telah mencegah seseorang dari perbuatan aniaya. Seorang suami atau istri tak akan mengkhianati pernikahan mereka karena adanya murâqabatulLâh. Anak pun akan menjaga amanah orangtuanya karena hal yang sama. Dengan itu keluarga akan sakinah mawaddah wa rahmah.

Di dunia bisnis, para pedagang tak akan menipu pembeli hanya untuk keuntungan ‘tak seberapa’. Mereka akan lebih memilih keuntungan yang lebih besar di sisi Allah SWT. Para pebisnis tak akan mau mengkhianati mitra usaha mereka karena takut akan pengawasan Allah SWT serta mengharapkan keberkahan pada usaha mereka.

إِنَّ اللهَ يَقُولُ أَنَا ثَالِثُ الشَّرِيكَيْنِ مَا لَمْ يَخُنْ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ فَإِذَا خَانَهُ خَرَجْتُ مِنْ بَيْنِهِمَا
Sungguh Allah telah berfirman, “Aku adalah pihak ketiga dari dua orang yang berserikat selama salah satu dari mereka tidak mengkhianati saudaranya. Jika ia mengkhianati saudaranya, Aku berlepas diri dari keduanya.” (HR Abu Dawud).

Bercermin kepada Para Khalifah


Sejarah Islam mencatat banyak prestasi kepemimpinan yang luar biasa dari para khalifah kaum Muslim berkat adanya sifat murâqabah ini. Keadilan hukum tercipta. Kemakmuran pun merata. Khalifah Umar bin al-Khaththab, misalnya, sering menangis pada malam hari karena sering mencemaskan keadaan rakyatnya. Ia pernah berkata kepada Muawiyah bin Hudaij, “Kalau aku tidur pada siang hari, aku menelantarkan rakyatku. Bila aku tidur pada malam hari, aku menelantarkan diriku (tidak shalat malam). Bagaimana bisa aku tidur dalam dua keadaan itu, wahai Muawiyah?”

Dalam kesempatan lain ia berkata, “Jika ada seekor unta mati karena disia-siakan, aku takut Allah meminta pertanggungjawabanku.”

Khalifah Harun ar-Rasyid pernah mendatangi Imam Fudhail bin Iyad, seorang ulama terkemuka yang terkenal berani, untuk meminta nasihat. Fudhail bin Iyad kemudian menceritakan akhlak Khalifah Umar bin Abdul Aziz kepada Harun ar-Rasyid. Setelah itu ia berkata, “Umar bin Abdul Aziz menganggap jabatan sebagai bala/bencana, sedangkan engkau menganggap Khilafah sebagai nikmat. Sekarang aku berkata padamu, wahai Khalifah Harun. Aku sangat mencemaskan kamu kelak ketika tapak-tapak kaki manusia tergelincir dari shirathal mustaqim. Sudahkah ada orang yang menasihati kamu tentang hal itu?” Mendengar nasihat itu Khalifah Harun ar-Rasyid menangis sejadi-jadinya karena mencemaskan nasibnya di Hari Akhir kelak.

Karakter murâqabatulLâh yang telah melekat pada diri seorang pemimpin akan menjadikan dirinya sebagai pemimpin yang adil dan amanah. Pemimpin semacam ini tak akan mau menyelewengkan kekuasaan dan memakan harta rakyatnya. Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. pernah memarahi anaknya, Abdullah, karena menyimpan ternaknya di padang gembalaan ternak milik Baitul Mal. Ternak itu pun disita untuk dijadikan milik Baitul Mal.

Seorang pemimpin yang memiliki sikap murâqabah benar-benar gemetar hanya kepada Allah SWT, bukan kepada mahluk-Nya. Ia tak mempedulikan rongrongan pengusaha licik, politisi curang atau kekuatan asing yang berusaha merusak tatanan keadilan yang telah diciptakan hukum-hukum Allah SWT. Ia lebih takut pada pengaduan rakyatnya yang teraniaya ke hadapan Allah SWT. Ia pun takut pada doa yang pernah dipanjatkan Rasulullah saw. yang mengancam para pemimpin zalim.

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِىَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِى شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ
Ya Allah, siapa saja yang mengurus suatu urusan umatku, lalu ia menyusahkan mereka, maka timpakanlah kesusahan kepada dia (HR Muslim).

Sekularisme Merusak


Sayang, saat ini akidah Islam di tengah umat justru digerus oleh paham sekularisme, (pemisahan agama dari kehidupan). Akibat sekularisme, rasa takut akan pengawasan Allah SWT tidak ada lagi kecuali dalam urusan ibadah belaka. Orang bisa bercucuran air mata saat menunaikan ibadah; saat berdiri di depan Ka’bah, bersedekah kepada fakir miskin, membaca al-Quran, berzikir atau berdoa. Namun, air mata tak menetes setetes pun saat menelantarkan hukum-hukum Allah SWT dan melakukan perbuatan haram. Hati mereka tak gemetar ketika mempraktikkan ekonomi ribawi, melakukan korupsi, suap-menyuap, menipu rakyat, menjual kedaulatan negeri kepada pihak asing dan aseng. Mereka tak peduli sedikitpun bahwa tindakan mereka senantiasa diawasi oleh Allah SWT dan pasti akan mengundang azab-Nya.

Lenyapnya murâqâbah dalam sistem sekular ini juga mencetak orang-orang munafik. Berpura-pura menampakkan kebaikan padahal tidak tulus. Ada pamrih yang dituju. Tidak jarang politisi dan pejabat bermental sekular berbaik-baik pada umat Muslim, menampakkan wajah keislaman, semata untuk mencari dukungan politik. Saat kedudukan sudah diraih, umat justru dizalimi. Itu terjadi karena mereka seolah tidak percaya bahwa Allah Mahatahu atas setiap pengkhianatan yang disembunyikan dalam hati manusia. Padahal Allah SWT telah berfirman:

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ
Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati(TQS Ghafir [40]: 19).

Khatimah


Alhasil, meyakini sifat Allah, Ar-Raqîb, adalah bagian yang penting dari keimanan. Ia tak boleh lenyap dari kehidupan umat. Inilah yang akan mengantarkan kaum Muslim pada karakter murâqabatulLâh. Dengan karakter ini umat akan kembali pada ketaatan yang utuh. Mereka akan bersungguh-sungguh melaksanakan hukum-hukum Allah SWT dan meninggalkan semua perkara yang telah Dia haramkan. Karakter ini pun akan mendorong umat untuk mencampakkan ideologi Kapitalisme yang berakidahkan sekularisme, juga ateisme dan komunisme, yang telah nyata merusak tatanan kehidupan umat manusia.


Hikmah:

قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَيَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Katakanlah, “Jika kalian menyembunyikan apa saja yang ada dalam hati kalian atau kalian menampakkannya, pasti Allah tahu. Allah pun mengetahui apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (TQS Ali Imran [3]: 29).


Kaffah - Edisi 009

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © 2013 Dibalik Islam - Islamic - Powered by DiazWeb