Popular Post

Posted by : Dibalik Islam 6 Agt 2015



Begini, fenomena di dunia ini sedikitnya ada 3 macam: yang langsung terindera dengan indera kita sendiri (misalnya batu), yang jadi terindera dengan bantuan alat (misalnya gelombang radio), dan yang hanya diketahui dengan bantuan riwayat (misal peristiwa sejarah di masa lampau).

Pertanyaannya sekarang, di mana posisi pembuktian eksistensi Tuhan? Jelas kita tidak bisa melihat atau mendengar Tuhan. Tidak ada juga alat yang dapat mendeteksi Tuhan secara objektif. Sedangkan cerita orang-orang yang pernah bertemu Tuhan, apakah bisa divalidasi? Tidak bisa. Kalau bertahan pada metode logika ini, maka profesor atheis tadi benar.

Tetapi, ternyata dengan semakin mendalami fenomena alam ini, kita akan menemukan bahwa bumi yang kita diami ini amat ajaib. Jaraknya dari matahari, kecepatan rotasinya, kemiringan sumbunya, ada bulan yang mendampingi, bagaimana dengan kerapatan udara, bagaimana dengan adanya gunung berapi, dsb., terlalu rumit untuk mengatakan ini kebetulan hasil proses evolusi.

Hukum termodinamika-II menyebutkan bahwa entropi alam ini terus meningkat. Artinya, ketidakteraturannya semakin tinggi. Kalau kita menyebar seratus huruf secara acak, berapa kemungkinannya akan membentuk kalimat yang memiliki arti? Bagaimana kalau yang disebar itu bukan seratus huruf, tetapi seratus ribu-juta-milyar-trilyun-trilyun-trilyun huruf? Teramat kecil! Apakah itu mungkin? Ya, tapi dalam berapa ribu-juta-milyar-trilyun tahun?

Sedangkan astrofisika semakin membuktikan bahwa usia alam semesta ini ternyata terbatas. Kira-kira 'baru" 14 Milyar tahun. Ini diukur dari jarak objek langit terjauh yang dapat diamati. Apakah mungkin masih banyak objek langit yang belum dapat diamati? Tidak mungkin! Andaikata usia alam semesta ini tidak terbatas, maka sudah tidak terbatas waktu yang telah diberikan agar semua sinyal (cahaya atau gelombang elektromagnetik) dari semua objek langit itu mencapai bumi. Artinya, mestinya kita sudah bisa mendeteksi seluruh objek langit yang ada. Tetapi bahwa kita hanya menyaksikan jarak terjauh itu 14 Milyar tahun cahaya, maka berarti memang usia alam itu hanya 14 Milyar tahun!

Maka memang tidak aneh, bahwa dalam diri manusia itu sudah built-in kesadaran, bahwa ada "sesuatu behind being", sesuatu di luar sana yang tidak termasuk alam semesta, tetapi bertanggungjawab pada kejadian di alam semesta. Dan itu disebut Tuhan.

Memang di masa lalu, Tuhan dianggap bertanggungjawab pada hal-hal yang manusia belum mampu merasionalkan dengan logika. Apakah itu sekedar fenomena magnetis, reaksi kimia atau letusan vulkanik. Kemudian mereka mengembangkan berbagai ritual agar Tuhan mengasihi mereka. Timbullah berbagai agama dan kepercayaan, yang berbeda-beda sesuai dengan fenomena yang akrab bagi suatu bangsa. Mereka yang tinggal di pesisir akan memuja Tuhan Lautan (Neptunus atau Nyi Loro Kidul). Mereka yang tinggal di dekat gunung berapi akan memuja Tuhan Gunung (Vulcan atau Mbah Petruk). Dan muncul para pendeta yang mengaku dapat berkomunikasi dengan Tuhan, lalu menetapkan berbagai ritual yang harus dilakukan.

Semua fenomena ini ada di setiap bangsa sepanjang sejarah. Apakah ini hasil indoktrinasi? Atau ini adalah sesuatu yang built-in dalam diri manusia? Saya cenderung bahwa ini memang built-in. Ini seperti naluri mempertahankan diri, atau naluri mencintai lawan jenis. Jadi naluri mengkuduskan sesuatu, mencari Tuhan, itu sangat alamiah.

Persoalannya adalah, Tuhan itu seperti apa? karena Dia ghaib, di luar alam semesta, maka memang mesti ada mediator yang dapat menghubungkan. Dan mediator itu mesti membawa sesuatu yang supra-natural secara absolut. Orang itulah yang disebut Nabi.

Dalam Islam, sesuatu yang supra-natural itu adalah al-Qur'an. Nabi Muhammad membawa banyak mukjizat sepanjang hidupnya. Tetapi yang tertinggal hingga sekarang tinggal al-Qur'an. Al-Qur'an supranatural baik dari sisi logika, etika maupun estetika. Pada sisi estetika ini, bahasa yang digunakan al-Qur'an telah memukau bangsa Arab. Cuma ada 3 kemungkinan: itu karangan Muhammad sendiri, dibuatkan oleh orang Arab lain, atau dari Allah seperti yang diklaim oleh Muhammad.

Kemungkinan Qur'an dikarang Muhammad sendiri terbantahkan, karena gaya bahasa Muhammad seperti dalam hadits sangat berbeda. Dibuatkan orang Arab lain: belum pernah terbukti. Siapa? Belum ada yang berhasil membuat satu surat saja yang sarat makna seperti surat pendek di dalam al-Qur'an. Jadi tinggal kemungkinan ke-3: Allah sendiri yang membuatnya. Maka Qur'an ini adalah bukti bahwa Muhammad adalah Nabi dan Rasululllah.



Sumber: syariahpublications.com

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © 2013 Dibalik Islam - Islamic - Powered by DiazWeb