Posted by : Dibalik Islam 24 Apr 2015


          Tiada manusia yang luput dari salah kecuali Rasulullah. Sebaik-baik yang bersalah adalah meminta maaf. Gharizatun baqa‘ yang tinggi terkadang menjadikan diri kita seakan susah untuk meminta maaf atau pun memaafkan. Para sahabat, manusia yang dijanjikan surga oleh Allah juga pernah melakukan kesalahan.

Alkisah, suatu ketika terjadi perselisihan diantara sahabat Rasulullah yakni, Abu Dzar dan Bilal. Abu  Dzar  marah dan berkata kepada Bilal,“Wahai anak orang kulit hitam.” Bilal pun mengadukan hal ini kepada Rasulullah. beliau lalu memanggil Abu Dzar dan bertanya, “Apakah engkau sudah menghina Fulan?“

“Benar,” jawab Abu Dzar.

Rasulullah bertanya lagi, “Apakah engkau mennyindir ibunya?”

Abu Dzar menjawab, “Siapa pun yang menghina orang lain, ayah dan ibunya pasti ikut disindirnya, ya Rasulullah.” Rasulullah menukas, “Dalam dirimu masih ada sifat jahiliyah”

Abu Dzar bertanya, “Apakah ada kesombongan dalam diriku?"

“Ya, ada.” Jawab Rasulullah.

Beliau bersabda, “Bagaimanapun mereka tetap saudara kalian. Allah swt telah menjadikan mereka berada di bawah kekuasaan kalian. Barang siapa saudaranya ada di bawah kekuasaannya, dia harus memberinya makan dari makanan yang dia makan, memberinya pakaian seperti halnya yang ia pakai, dan tidak membebaninya dengan pekerjaan melebihi kemampuannya, dia harus membantunya.”

Apakah kiranya yang dilakukan oleh Abu Dzar? Yang dilakukan oleh beliau adalah menemui Bilal lalu meminta maaf, duduk di atas tanah di depan Bilal, membungkuk hingga pipinya menempel di atas tanah seraya berkata, “Wahai Bilal, injaklah pipiku ini.“

Suatu hari terjadi dialog antara sahabat Nabi Umar bin Khattab dan Abu Bakar Ash Shiddiq. Dalam dialog tersebut Abu Bakar membuat Umar marah. Umar pun beranjak dari hadapan Abu Bakar. Lalu Abu bakar mengejar Umar seraya meminta maaf di belakangnya hingga  pengejarannya sampai ke rumah Umar. Umar lalu membanting pintu rumahnya.

Abu Bakar lantas menemui Rasulullah, duduk dan tak mengucap sepatah kata pun. Tak lama kemudian Umar menyesali sikapnya terhadap Abu Bakar, lalu Umar pergi menemui Rasulullah. Ia menceritakan seluruh kejadiannya, mulai dari tak mengacuhkan Abu Bakar hingga tak memaafkannya. Mendengar hal ini Rasulullah murka. Abu Bakar berkata, “Demi Allah ya Rasulullah, sayalah yang telah mendzaliminya, sayalah yang telah mendzaliminya.” Abu Bakar terus membela Umar dan meminta maaf untuknya.

Rasul lalu bertanya kepada sahabat lainnya, “Apakah kalian meninggalkan sahabatku ini? Ketika aku berkata, ‘Wahai umat manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah yang diutus kepada kalian,’kalian menjawabku, ‘Engkau berdusta.’ hanya abu Bakar yang menjawab, ‘Engkau benar’.”

Sungguh luar biasa sahabat Abu Bakar (orang yang membenarkan Rasul sebagai utusan tatkala orang lain mengatakan dusta). Beliau adalah sahabat Rasul yang sangat dicintainya. Surga sudah menjadi tempat kembalinya. Namun tatkala dia bersalah, tiada mengingkari kesalahannya, justru mengakuinya dan mengatakan bahwa dirinyalah yang salah. Allahu Akbar. Pertanyaannya,“Bagaimanakah dengan kita”?



Sumber: Istamti’ Bihayatika by Dr Muhammad Areifi

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © 2013 Dibalik Islam - Islamic - Powered by DiazWeb